
“Kalian sudah lama menikah, apakah tidak ada ciri-ciri kamu hamil?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Farah.
Lusy pagi itu tidak pergi bersama Zayn, sehingga masih di rumah dan Farah mengajaknya bicara.
“Belum, Ma.” Lusy bicara sambil menunduk dan tidak berani menatap Farah.
Farah mendengkus kasar, terlihat kesal karena Lusy belum juga hamil, meski Lusy dan Zayn sudah menikah hampir satu tahun. Terhitung sejak Zayn menikahi Lusy secara agama.
“Apa kamu menunda untuk memiliki anak, sebab itu kamu belum hamil juga sampai sekarang?” tanya Farah dengan nada suara sedikit tinggi.
Meski Farah sudah menerima Lusy, tapi juga mulai kesal hanya karena Lusy belum hamil.
Lusy terkejut mendengar pertanyaan Farah, hingga kini menatap mertuanya itu.
“Tidak, Ma. Aku dan Zayn tidak menundanya, bahkan aku tidak pernah pakai kontrasepsi setiap kami berhubungan.” Lusy terpaksa membeberkan hal itu agar Farah percaya kalau tidak pernah sekalipun berpikir berniat menunda.
Farah tetap tidak percaya dan menganggap apa yang dikatakan Lusy hanyalah sebuah pembelaan saja.
“Lalu, kenapa kamu belum juga hamil? Aku tahu kamu sangat menyayangi Cheryl, tapi bukan berarti kamu berhak untuk tidak memiliki anak dari Zayn. Kami juga butuh keturunan,” ucap Farah mulai bicara pedas.
__ADS_1
Lusy mencoba bersabar meski rasanya sakit dituduh demikian. Dia pun kembali menjelaskan agar Farah tidak salah paham.
“Kami benar-benar tidak menundanya, Ma. Mungkin Tuhan memang belum mau memberi. Jika Mama tidak yakin, nanti aku akan ajak Zayn untuk memeriksakan kesehatan kami, agar tahu kenapa aku belum hamil sampai sekarang,” ujar Lusy meyakinkan.
Farah tidak bicara lagi, membiarkan Lusy melakukan apa yang hendak dilakukan.
**
Saat malam hari. Lusy duduk terdiam di depan cermin, seharian memikirkan tentang ucapan Farah. Meski mertuanya itu sudah menerimanya, tapi siapa sangka Farah kini kembali berulah hanya karena dia belum hamil.
Zayn baru saja keluar dari kamar mandi, memandang Lusy yang duduk diam melamun, bahkan kini tidak sadar kalau Zayn sudah berada di belakangnya.
Lusy sangat terkejut dan menatap bayangan Zayn dari pantulan cermin.
“Tidak ada,” jawab Lusy. Dia tidak mungkin memberitahukan tentang tuduhan Farah. Lusy tidak ingin ada perselisihan lagi antara Zayn dan ibunya.
“Lalu kenapa kamu melamun? Kamu tidak mau cerita kepadaku?” tanya Zayn kemudian.
Lusy bingung harus bagaimana. Dia pun memutar badan, kini duduk menghadap ke suaminya yang berdiri.
__ADS_1
“Zayn, menurutmu bagaimana kalau kita periksa ke dokter kandungan?” tanya Lusy.
Zayn mengerutkan alis mendengar pertanyaan Lusy, lantas berlutut di depan sang istri, sambil menggenggam kedua telapak tangan yang ada di pangkuan.
“Kenapa kamu tiba-tiba ingin periksa ke dokter kandungan?” tanya Zayn dengan suara lembut.
“Aku hanya cemas saja,” jawab Lusy dengan senyum masam.
“Apa yang kamu cemaskan?” tanya Zayn lagi, kedua tangan semakin menggenggam erat.
“Sebenarnya tamu bulananku tidak datang, Zayn. Sudah terlambat dua minggu. Tapi pagi ini saat aku mengetesnya, hasilnya lagi-lagi negatif. Aku takut kalau rahimku bermasalah, karena ini bukan yang pertama kalinya terjadi,” jawab Lusy menjelaskan. Awalnya tidak ingin cerita, tapi karena desakan dari Farah, membuat Lusy harus memberikan alasan yang masuk akal untuk bisa pergi ke dokter kandungan.
Zayn terdiam mendengar ucapan Lusy, bukannya dia tidak tahu, hanya diam karena tidak ingin menyakiti hati istrinya kalau bertanya. Zayn melihat testpack yang dibuang di tempat sampah kamar mandi, tapi memilih diam dan menunggu Lusy bicara.
“Jadi karena itu. Jika kamu mau periksa, bagaimana kalau besok kita ke dokter kandungan, aku akan mengantarmu,” ucap Zayn mencoba melegakan hati Lusy.
Lusy tersenyum, kemudian mempererat genggaman tangan mereka.
“Terima kasih,” ucap Lusy dengan senyum kelegaan.
__ADS_1
“Tidak usah berterima kasih, bukankah sudah seharusnya seperti ini?”