Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Pilihan Farah


__ADS_3

Zayn pulang dengan perasaan berbunga-bunga, akhirnya setelah menjomblo bertahun-tahun, kini dirinya memiliki status sebagai milik orang. Betapa bangganya dia saat ini.


“Kamu dari mana? Kenapa panggilan Mama tidak dijawab?” tanya Farah saat melihat putranya baru pulang.


Zayn menghentikan langkah, lantas menoleh ke Farah yang ternyata berdiri di ruang keluarga.


“Baru ngumpul sama temen,” dusta Zayn menjawab pertanyaan Farah.


Farah tidak lantas percaya begitu saja, lantas mendekat ke putranya itu.


“Kenapa kamu tidak menjawab panggilan Mama? Sejak kapan kamu mengabaikan Mama?” tanya Farah yang tidak senang karena Zayn tidak biasanya mengabaikan panggilannya.


Zayn menghela napas kasar, lantas menjawab, “Ponselku di mobil, Ma. Jadi tidak tahu kalau Mama menelepon.”


Farah kesal karena Zayn tidak bisa dihubungi, tadi Meghan di sana dan makan malam bersama, tapi putranya itu malah pergi entah ke mana.


“Meghan menunggumu di sini, tapi kamu malah tidak pulang-pulang. Besok kamu datangi dia dan minta maaf, kalau perlu ajak dia makan!” perintah Farah.


Zayn mengerutkan kedua alis mendengar perintah Farah, tidak menyangka jika ibunya akan bertindak demikian.


“Aku tidak salah, Ma. Untuk apa meminta maaf.” Zayn tidak suka jika dipaksa.


“Kamu salah mengabaikannya tadi dan pergi sampai malam. Pokoknya kamu harus mendatanginya dan meminta maaf!” kekeh Farah.

__ADS_1


Zayn terlihat kesal, hingga kemudian berkata, “Mama sudah tahu jika aku memiliki pilihanku sendiri. Lantas, kenapa Mama memaksaku untuk mendekati wanita yang tidak aku sukai.”


Farah geram karena Zayn tiba-tiba menjadi pembangkang, dirinya sudah terlanjur suka dengan Meghan dan menginginkan Zayn menikah dengan gadis pilihannya.


“Mama tidak mau tahu! Mama hanya akan menerima Meghan sebagai menantu, tidak wanita lain!” Farah memilih pergi setelah mengucapkan kalimat itu, meninggalkan Zayn dengan rasa tak percaya.


“Ma! Jangan memaksaku!” teriak Zayn saat sang mama berlalu pergi.


Farah tidak menggubris teriakan Zayn, memilih terus melangkah menuju kamarnya.


Zayn mengguyar rambut dengan kasar, kenapa Farah kini memaksakan kehendak kepadanya.


**


“Hei,” sapa Zayn yang ternyata datang ke apartemen, dia bertemu Lusy yang baru saja mengunci pintu.


“Oh, hai.” Lusy tampak kikuk berhadapan dengan Zayn. Setelah sekian tahun, dirinya kini kembali menambatkan hati ke seorang pria, meski masih ragu tapi Lusy mencoba memantapkan hati karena sudah membuat keputusan.


“Apa kamu tidak ke kantor?” tanya Lusy, menatap Zayn yang berpakaian rapi.


“Pergi, tapi nanti. Kamu mau ke toko?” tanya Zayn balik setelah menjawab pertanyaan Lusy.


Lusy mengangguk, kemudian membetulkan tali tas ke pundak.

__ADS_1


“Biar aku antar!”


**


Keduanya kini sudah berada di mobil. Mereka malah merasa kikuk karena status baru yang mereka miliki saat ini.


“Bagaimana pipimu? Apa masih sakit?” tanya Zayn mencoba memecah keheningan.


Lusy menyentuh pipi saat mendengar pertanyaan Zayn.


“Sudah tidak sakit,” jawab Lusy kemudian.


Zayn mengetukkan jari di stir, terlihat jelas jika dirinya memang gugup dan bingung mau membahas apa dengan Lusy.


“Siang nanti, mau makan siang bersama?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Zayn.


Lusy menoleh dan menatap pemuda itu, sebelum kemudian menganggukkan kepala.


“Boleh,” jawab Lusy.


Zayn senang meski hubungannya dengan Lusy masih sebatas bertatap, saling pandang, atau membicarakan banyak hal. Mungkin ini salah satu cara agar mereka bisa semakin dekat, sebelum Zayn mengajak Lusy ke jenjang selanjutnya.


Zayn sendiri tidak berani jujur tentang ibunya yang menentang hubungannya dengan Lusy. Dia tidak ingin Lusy berkecil hati yang bisa membuat wanita itu menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2