
“Apa kamu tadi dengar saat Mama bicara dengan Lusy?” tanya Zayn saat berada di luar kamar inap ketika Lusy sudah tidur.
“Ya, aku dengar, tapi aku tidak bangun dan masih pura-pura tidur, jadi mereka tidak tahu,” jawab Zahra yang duduk sambil menatap kedua kaki yang diayunkan ke depan dan belakang.
“Apa yang Mama katakan, apa dia mengancam Lusy?” tanya Zayn yang masih tidak percaya jika kedatangan Farah karena rasa bersalah.
“Tidak, Mama tidak mengancam Kak Lusy. Aku hanya dengar dia berterima kasih dan berkata kalau Kakak salah paham ke Mama, hingga kemudian Mama memohon ke Kak Lusy agar bisa membujuk Kakak pulang, meminta kalian pulang ke rumah,” jawab Zahra menjelaskan yang didengar.
Zayn terdiam mendengar penjelasan Zahra, tahu kalau sang adik tidak mungkin membohonginya.
**
Zayn sedang keluar karena ada urusan, Lusy berada di kamar sendirian karena Zahra pun pergi karena ada pemotretan. Hingga pintu kamar terbuka dan terlihat Joya datang bersama Kenzo dan Cheryl.
“Joy, Cheryl!” Lusy terlihat begitu senang melihat putrinya datang ke sana.
Joya mengulas senyum karena tidak salah kamar, lantas mendekat sambil melepas pegangan tangan dari Cheryl. Bocah kecil itu langsung berlari seperti bebas untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu?” tanya Joya begitu sudah duduk di tepian ranjang.
“Sudah lebih baik, lukanya tidak terlalu dalam jadi tidak mendapatkan banyak jahitan juga,” jawab Lusy.
Joya merasa prihatin atas kejadian yang menimpa Lusy, rasa simpatinya ke orang lain membuat Lusy terkadang mendapatkan masalah.
Cheryl terlihat begitu aktif, hampir sebulan ikut Joya dan kini gadis kecil itu semakin cerdas. Cheryl merangkak di bawah ranjang sampai membuat Joya dan yang lainnya terkejut, hingga kemudian naik ranjang dan merayap di atas kaki Lusy, membuat Mommy dan Miminya geleng-geleng kepala.
“Cheryl pelan-pelan naik-turunnya,” ujar Joya mengingatkan.
Namun, namanya juga anak kecil, mau diingatkan sebanyak apa pun, dia lebih suka melakukan apa yang ingin dilakukan. Cheryl terus berlari dan naik turun sofa, sampai merangkak di lantai.
Farah datang lagi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lusy, hingga saat membuka pintu melihat Cheryl yang sedang bermain sampai akhirnya gadis kecil itu berlari ke arah ranjang.
Farah melihat jika ada tamu lain, ingin menebak jika Cheryl anak tamu Lusy, tapi melihat wajah dan penampilan Cheryl yang berbeda, membuat Farah bertanya-tanya apakah itu anak Lusy.
Lusy terkejut melihat Farah datang lagi, hingga mencoba untuk tersenyum ke wanita itu. Joya sendiri memilih berdiri sambil menggandeng tangan Cheryl.
__ADS_1
“Apa aku mengganggu?” tanya Farah sambil berjalan mendekat perlahan.
“Tidak Nyonya, silakan duduk.” Joya mempersilakan karena Farah lebih tua.
Wanita itu tidak langsung duduk, tatapannya tertuju ke Cheryl yang memegang tangan Joya tapi berdiri di belakang kaki miminya untuk bersembunyi dan sesekali mengintip dengan malu-malu.
Lusy melihat ke mana arah Farah menatap, tapi dirinya tidak berani menjelaskan karena takut Farah salah paham, sehingga menunggu wanita itu bertanya terlebih dahulu.
“Apa dia putrimu?” tanya Farah ke Joya, bukan ke Lusy.
Joya menoleh Lusy, hingga kemudian kembali menatap Farah dengan seulas senyum.
“Aku hanya ibu baptisnya, Lusy ibu kandungnya,” jawab Joya.
Farah kembali memandang Cheryl yang masih tampak malu-malu menyembunyikan wajahnya, hingga kemudian memandang Lusy yang sedikit menundukkan kepala.
“Anak manis,” ucap Farah kemudian mengulurkan satu tangan ke arah Cheryl, bahkan tersenyum manis ke arah gadis kecil itu.
__ADS_1
Semua orang terkejut dengan ucapan Farah, mereka tahu jika Farah tidak menyukai Lusy mungkin juga dengan Cheryl. Lusy menatap Farah, mencoba menebak apakah benar jika Farah memang memuji putrinya.
“Siapa namamu? Kemarilah, aku ini omamu.” Farah kembali bicara dan lagi-lagi membuat semua orang tercengang.