Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Saling melengkapi


__ADS_3

Zayn bersedekap dada menatap siapa yang kini duduk berhadapan dengannya, sedangkan Lusy baru saja dari dapur membuatkan minum dan kini sedang menyuguhkan di meja.


“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Zayn menatap Zahra yang memandangnya dengan senyum lebar. “Kenapa pula kamu bawa koper?”


Lusy duduk di samping Zayn, memandang gadis yang kini menjadi adik iparnya.


“Aku mau tinggal di sini bersama Kakak, boleh ya,” pinta Zahra sambil mengedip-ngedipkan kelopak mata dengan manja.


Zayn memegangi kepala karena merasa kepalanya tiba-tiba merasa pusing.


“Kamu kabur dari rumah?” tanya Lusy.


Zahra lagi-lagi tersenyum lebar, kemudian menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Lusy.


“Aku bosan di rumah ga ada Kakak, jadi milih ikut ke sini saja. Lagian, Kakak juga menikah tidak memberitahuku, kejam sekali!” gerutu Zahra kemudian bersedekap dada menatap sang kakak yang tampak pusing karena kedatangannya.


Lusy menoleh Zayn, seolah menunggu suaminya itu bicara.

__ADS_1


“Za, kamu tahu alasan aku pergi. Jadi kumohon jangan ikut-ikutan, pulanglah,” pinta Zayn sambil memandang adiknya.


Zahra menggelengkan kepala mendengar permintaan Zayn.


“Kakak tenang saja, meski aku di sini, aku tidak akan merepotkan kalian. Aku sudah mendapatkan pekerjaan, nantinya juga menghasilkan uang. Anggap saja di sini aku ngekos, ntar aku bayar uang sewa kamarnya. Jadi kalian jangan takut jika aku akan menjadi beban di sini,” ujar Zahra panjang lebar menjelaskan.


“Bukan begitu, Za. Masalahnya--” Ucapan Zayn terjeda karena dipotong cepat Zahra.


“Masalahnya aku ga bisa tinggal dengan Mama yang terus-terusan membahas kalian. Aku tidak nyaman mendengar hal itu setiap hari.” Zahra memotong ucapan kakaknya.


Lusy menoleh Zayn, menunggu keputusan suaminya itu. Zayn sendiri masih menatap Zahra, hingga akhirnya menghela napas kasar dan setuju jika adiknya itu ingin tinggal di sana.


“Kakak terbaik.” Zahra mengacungkan jempol.


**


“Hari ini aku akan mencoba mencari pekerjaan,” kata Zayn saat membantu Lusy membuat sarapan.

__ADS_1


“Jika memang belum ada, jangan terlalu dipaksakan,” balas Lusy. “Aku masih memiliki gaji dari Joya untuk mencukupi kebutuhan kita,” ujar Lusy kemudian.


Zayn menatap Lusy, kemudian menggenggam telapak tangan istrinya itu.


“Mana bisa, aku tidak mungkin meminta uang darimu,” ucap Zayn lagi, bukan gengsi hanya saja tidak bisa jika mengandalkan wanita dan dia hanya diam saja.


“Bukan minta, Zayn. Kita ini sedang saling melengkapi. Apa yang tidak kamu punya, maka aku yang akan memberikannya,” balas Lusy.


Zayn tersentuh dengan ucapan Lusy, hatinya memang tidak pernah salah dalam memilih cinta.


“Terima kasih,” ucap Zayn lantas mendaratkan sebuah kecupan di kening Lusy.


Zahra yang baru saja bergantian pakaian karena harus berangkat ke sebuah pemotretan, melihat pemandangan romantis di depannya itu. Dia menatap bagaimana Zayn begitu mencintai Lusy juga sebaliknya.


“Kakak sangat mencintai Kak Lusy dan mereka terlihat begitu bahagia. Kenapa Mama tidak mau merestui mereka saja? Bukankah seharusnya lebih memikirkan kebahagiaan Kakak daripada orang lain?” Gumam Zahra dalam hati.


“Ah … benar, wanita itu. Apa yang dia berikan ke Mama sampai Mama sangat membelanya. Dia saja tidak lebih cantik dari Kak Lusy, kenapa Mama bisa sangat menyukainya, menyebalkan!” gerutu Zahra kemudian.

__ADS_1


__ADS_2