
“Apa kamu serius?” Kenzo sedikit terkejut saat mendengar Zayn keluar dari rumah.
Zayn menemui Kenzo setelah dirinya selesai bicara dengan Rion.
“Demi Lusy, Ken. Aku sudah berjanji kepadanya jika akan selalu bersamanya. Pernah dia bertanya bagaimana jika keluargaku tidak setuju, saat itu aku menjawab jika semua keputusan ada di tanganku. Aku tidak ingin mengecewakannya, aku tidak ingin dia kembali trauma karena sebuah hubungan yang kandas,” ujar Zayn menjelaskan.
Kenzo menggelengkan kepala, tidak percaya jika Zayn bisa senekat itu juga ketika sudah menyangkut tentang cinta.
“Jadi kamu benar-benar meninggalkan semua yang kamu miliki hanya untuk Lusy. Apa orangtuamu tidak mencegah?” tanya Kenzo penasaran.
“Mencegah agar aku tinggal di rumah tapi meninggalkan Lusy, apa kamu pikir aku akan menuruti keinginan mereka?”
Kenzo terlihat berpikir, menatap Zayn yang terlihat bingung dan kesusahan.
“Lalu, apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanya Kenzo. Dia bangga karena Zayn mempertahankan keinginannya agar tidak mengecewakan orang yang sudah dia beri janji.
“Apa di perusahaanmu masih menambahkan karyawan? Jika ada, aku ingin bekerja di sini,” jawab Zayn, membuang rasa gengsi jika orang mengetahui seorang direktur utama pindah haluan menjadi seorang karyawan biasa. Baginya yang terpenting tetap bekerja dan bisa menghasilkan uang.
Kenzo mengangguk paham, lantas menghubungi pihak HRD dan menanyakan apakah ada posisi kosong di perusahaannya itu. Terlihat raut kekecewaan di wajah Kenzo, tampaknya tidak ada posisi kosong yang bisa ditempati Zayn.
“HRD bilang tidak ada posisi kosong, bahkan posisi karyawan biasa pun penuh,” kata Kenzo sedikit menyesal.
“Apa bagian cleaning service juga penuh?” tanya Zayn yang tidak ingin putus asa.
__ADS_1
“Apa? Apa kamu pikir aku gila jika membiarkanmu jadi cleaning service? Tidak! Tidak! Tidak ada!” Kenzo tentu saja tidak bisa membiarkan Zayn bekerja sebagai cleaning service, meski dirinya bisa menambahkan temannya itu di pekerjaan itu.
“Ken, ayolah! Cleaning service pun bukan pekerjaan buruk,” ucap Zayn memohon.
“Tidak! Tidak bisa!” Kenzo menolak.
“Ken, aku butuh pekerjaan karena ingin menikahi Lusy. Ada hal yang membuatku mempertahankan Lusy, aku tidak tahu apa kamu bisa paham akan hal itu,” ujar Zayn meyakinkan jika dirinya benar-benar butuh pekerjaan.
“Karena kamu mencintainya.” Kenzo mencoba menebak.
“Ya, mungkin salah satunya itu. Juga aku takut Lusy kembali trauma, karena kami sudah melakukannya, Ken.” Zayn menjelaskan dengan sedikit ambigu.
Kenzo langsung tersedak ludah mendengar ucapan Zayn, mencoba menelaah ucapan ambigu temannya itu.
Zayn mencebik karena Kenzo bertanya, sedangkan dia menebak jika temannya itu pasti sudah tahu maksud ucapannya.
“Kami tidak sengaja melakukannya, Ken. Ada yang menjebak Lusy, tapi untungnya aku bisa membawanya pergi terlebih dahulu,” ujar Zayn.
Kenzo terkejut, hingga langsung menyandarkan punggungnya dengan kasar.
“Kamu tahu hal itu membuat Lusy mungkin akan trauma kembali, kenapa kamu melakukannya sebelum menikah?” Kenzo tidak habis pikir dan sampai memegangi kening.
Zayn pun menceritakan yang terjadi, bahkan menunjukkan rekaman Cctv yang dimilikinya.
__ADS_1
“Sebab itu aku mempertahankan Lusy, Ken. Aku tidak ingin Lusy merasa dibuang atau diabaikan lagi, jika aku memilih harta ketimbang dirinya. Aku ingin membuktikan jika aku adalah pilihan terbaik untuknya. Aku sendiri juga tidak pernah menyesal keluar rumah, karena ingin mempertahankan Lusy,” ujar Zayn panjang lebar menjelaskan.
Kenzo paham dengan niat Zayn, akhirnya ikut memikirkan cara agar temannya itu mendapatkan pekerjaan.
“Nanti aku coba tanya ke Papa, apa di perusahaannya ada lowongan untukmu. Kamu tenang saja, aku pasti akan membantumu,” ucap Kenzo untuk melegakan hati Zayn.
Zayn berterima kasih karena Kenzo mau menolongnya, hingga kemudian dirinya ingat akan satu hal yang mungkin membutuhkan bantuan temannya itu.
“Ken, bisa bantu aku mengurus mendaftarkan pernikahan dengan Lusy? Kamu tahu jika aku harus mengurus sampai kedutaan besar agar bisa menikahinya, karena statusnya yang masih berkewarganegaraan Prancis,” ujar Zayn penuh harap Kenzo mau membantunya.
“Tentu saja, anggap saja semuanya beres. Kamu jangan mencemaskan apa pun lagi.”
**
Zayn pergi ke sebuah kafe untuk menemui seseorang. Saat baru saja masuk ke kafe itu, dia melihat Meghan yang duduk di sana dan tersenyum saat melihat dirinya.
Pria itu lantas mendekat, memasang ekspresi wajah datar dan tatapannya begitu dingin menusuk ketika melihat senyum Meghan.
Meghan berdiri saat melihat Zayn datang, wanita itu tersenyum manis menyambut kedatangan Zayn. Dia senang saat pria itu menghubungi dan berkata ingin bicara dengannya.
“Duduklah.” Meghan mempersilakan Zayn duduk.
Namun, Zayn memilih berdiri di samping meja sambil menatap Meghan, sebelum kemudian berkata dengan nada ancaman. “Aku tidak ingin buang-buang waktu. Aku hanya ingin memperingatkanmu agar tidak mengganggu Lusy. Aku tahu apa yang kamu perbuat, jika kamu masih saja mengganggunya, maka aku akan pastikan video kelakuan burukmu, akan tersebar di sosial media dalam hitungan detik!”
__ADS_1