
Lusy berada di ruangannya mendesain gaun, tapi pekerjaannya itu tidak cepat selesai karena tidak fokus sebab memikirkan Zayn.
Lusy meletakkan pensil yang dipegang, lantas mengambil ponsel yang tergeletak di samping buku sketsanya. Lusy mencoba menghubungi Zayn, tapi sayangnya tidak dijawab oleh suaminya itu.
“Apa dia sedang interview?” Lusy bertanya-tanya sendiri.
Lusy hendak mengirimkan pesan berisi pertanyaan apakah Zayn sudah mendapatkan pekerjaan, tapi dirinya takut jika pesan itu malah dianggap sebagai sebuah pengharapan agar Zayn segera bekerja, membuat Lusy akhirnya memilih urung mengirimkan pesan, lantas menunggu Zayn yang menghubunginya terlebih dahulu.
Saat kembali fokus membuat sketsa, ponsel Lusy berdering dan nama Joya terpampang di sana.
“Halo, Joy.” Lusy buru-buru menjawab panggilan itu.
“Lu, apa kamu bisa mengantarkan gaun yang fotonya semalam aku kirimkan ke pembelinya?” tanya Joya dari seberang panggilan.
Cheryl diasuh oleh babysitter bayaran Joya, sedangkan teman Lusy itu masih bekerja sambil memantau Cheryl di apartemennya.
“Bisa, kirim aja alamatnya, nanti aku antar,” jawab Lusy.
“Baiklah, maaf merepotkanmu,” ucap Joya dari seberang panggilan.
Melaksanakan setiap perintah dan permintaan yang dilakukan, menjadi salah satu tugas Lusy yang bekerja untuk Joya. Meski Joya sendiri sebenarnya mempekerjakan hanya sebagai sebuah alasan, tetap saja Lusy menganggap jika dirinya hanyalah karyawan Joya.
“Vir, aku akan keluar mengantar gaun ini. Kamu jaga toko,” ucap Lusy ke Vira.
“Mbak Lusy tahu alamatnya?” tanya Vira sambil menatap Lusy yang sudah membawa paper bag di tangan.
__ADS_1
“Tidak, tapi Joya sudah memberitahu alamatnya, nanti aku tinggal naik taksi dan meminta sopir untuk mengantar,” jawab Lusy.
Vira pun mengangguk-anguk paham. Lusy pamit dan pergi dari butik menuju ke sebuah studio photo yang memesan gaun itu.
**
Lusy sudah sampai di sebuah studio photo yang lumayan besar. Dia berjalan masuk dan bertanya ke seorang gadis yang berjaga di depan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya gadis yang berdiri di belakang meja, saat melihat Lusy datang.
“Saya temannya Joya, ke sini karena ingin mengantar pesanan gaun dari butik kami,” jawab Lusy sambil memperlihatkan paper bag yang dibawa.
“Oh … Anda bisa masuk saja ke ruangan itu, bos saya ada di sana,” kata gadis itu sambil menunjuk ke arah ruangan bertuliskan ruang pemotretan.
Lusy mengangguk, kemudian berjalan ke ruangan itu dengan sedikit ragu.
“Bagaimana bisa kamu membatalkan jadwal pemotretan secara sepihak? Ini jelas merugikanku! Aku tidak mau tahu, aku akan minta penalti ke agencymu karena kalian sudah melakukan pembatalan sepihak!” Pria itu mengakhiri panggilan, terlihat kesal karena model yang seharusnya melakukan pemotretan malah tidak datang.
Lusy sepertinya datang di waktu yang tidak tepat, dirinya ingin bicara tapi takut karena melihat orang-orang di sana sedang dalam kondisi tegang dan panik.
“Sekarang bagaimana, bos?” tanya seorang juru photo.
Pria paruh baya itu terlihat bingung, hingga menoleh ke arah pintu dan melihat Lusy yang berdiri di sana. Dari sudut pandang pria itu, Lusy terlihat menarik. Tinggi badan ideal, tubuh ramping, dengan wajah yang manis dan tampak memukau.
“Siapa kamu?” tanya pria bernama Albert itu menunjuk ke arah Lusy.
__ADS_1
Semua tim di sana langsung menoleh ke arah pintu, membuat Lusy merasa canggung juga takut ditatap seperti itu.
“Saya ke sini hanya untuk mengantar gaun pesanan ini,” jawab Lusy sambil memperlihatkan paper bag yang dibawa.
Pria bernama Albert itu mendekat, memperhatikan Lusy dari ujung kaki hingga kepala. Hingga pria itu tersenyum penuh kebahagiaan seolah baru saja mendapatkan sebuah harta karun yang berharga.
“Perfect, sempurna, aku menyukainya.” Albert memandang Lusy penuh pengaguman.
Lusy kebingungan, kenapa pria itu menatapnya seperti itu.
“Maaf?” Lusy salah tingkah.
“Maukah kamu menjadi modelku. Maksudku hanya kali ini saja untuk beberapa take gambar. Aku mohon, please,” pinta Albert sambil menggenggam kedua tangan di depan dada untuk memohon.
Lusy terkesiap dengan permintaan Albert, kenapa dirinya tiba-tiba ditawari jadi model.
“Tidak, saya tidak bisa. Saya bukan model dan ke sini pun hanya untuk mengantar gaun ini,” ucap Lusy menolak dengan halus.
Albert tampak kecewa, tapi dia pun tidak akan menyerah membujuk Lusy. Dia merasa Lusy sangat cocok menjadi modelnya saat ini.
“Timku akan membantumu, aku mohon bantu aku kali ini saja,” pinta Albert membujuk. “Ini tidak gratis, aku akan membayarmu,” ucap Albert kemudian.
Lusy terdiam mendengar Albert akan membayarnya, berpikir jika uang itu bisa digunakan untuk membeli kebutuhan rumah.
“Bagaimana jika saya tidak bisa mengikuti arahan?” tanya Lusy yang ingin tapi pesimis.
__ADS_1
“Kamu pasti bisa, aku yakin. Jadi kamu mau?”