Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Menjalani dulu


__ADS_3

Lusy berbaring miring sambil memandang Cheryl yang tertidur pulas. Ditatapnya lekat putri yang begitu menggemaskan itu. Lusy mengusap lembut pipi Cheryl, kemudian mendaratkan kecupan penuh kasih sayang di pipi putrinya itu.


Lusy kembali berbaring dan masih dengan posisi memandang Cheryl, hingga dirinya mengingat akan percakapannya dengan Zayn tadi. Semua yang diucapkan pemuda itu, sungguh membuat jantung Lusy berdebar tidak terkendali, tampaknya pemuda itu benar-benar takkan menyerah dalam mengejar dirinya.


“Apa yang harus Mommy lakukan, Cheryl. Hm … kenapa Uncle Zayn sangat berharap ke Mommy? Siapa Mommy sampai bisa membuatnya berusaha sekeras ini?”


**


Zayn pergi ke rumah Lusy, tentu saja tujuannya untuk bertemu atau sekadar menjaga Cheryl seperti hari sebelumnya. Saat baru saja sampai di rumah, ternyata Lusy juga baru keluar menggendong Cheryl.


“Cheryl!” sapa Zayn sambil melambaikan tangan ke arah gadis kecil itu.


Cheryl membuka-tutup kelima jari seolah sedang melambai ke Zayn, sedangkan Lusy begitu terkejut dan langsung menoleh.


Lusy merasa jantungnya berdegup cepat melihat pemuda itu, bayangan akan ucapan Zayn semalam kembali menari-nari di kepala.


Zayn mendekat dan langsung mengusap rambut Cheryl, sedangkan Lusy langsung terlihat salah tingkah.


“Baru mau ke kafe?” tanya Zayn.


“Ya,” jawab Lusy tidak berani memandang pemuda itu.

__ADS_1


“Boleh Cheryl aku yang jaga?” tanya Zayn dengan tatapan tak teralihkan dari Lusy yang sedang salah tingkah.


Lusy memandang Cheryl yang ada di gendongan, kemudian beralih menatap pemuda di hadapannya.


“Nanti dia merepotkanmu,” jawab Lusy menolak secara halus. Sebenarnya Lusy hanya tak ingin dianggap memanfaatkan Zayn untuk menjaga putrinya.


“Dia tidak merepotkan.” Zayn langsung mengambil Cheryl dari gendongan Lusy.


Lusy sangat terkejut dengan yang dilakukan Zayn, tapi juga tidak bisa mencegah karena takut Cheryl menangis.


“Kamu mau main sama Uncle, ‘kan.” Zayn mengajak bicara Cheryl dan langsung dibalas gelak tawa dari gadis kecil itu.


“Lihat, Cheryl saja senang. Jadi kamu jangan cemas,” ucap Zayn kini memandang Lusy.


Keduanya pun berjalan menuju kafe, Cheryl berada di gendongan Zayn sesekali bercanda dengan pemuda itu.


Lusy melirik sesekali, melihat bagaimana Cheryl begitu senang bersama Zayn, pemuda yang semalam menyatakan cinta kepadanya.


“Lu, apa kamu sudah memikirkannya? Tentang perasaanku?” tanya Zayn.


Lusy berhenti melangkah, membuat Zayn pun ikut berhenti. Keduanya saling pandang, satu ingin memberi keputusan, sedangkan satunya begitu menanti.

__ADS_1


Udara pagi itu terasa begitu dingin menusuk di kota Mittelbergheim, sedangkan dua manusia itu masih saling pandang dengan pemikiran mereka masing-masing.


“Bagaimana?” tanya Zayn kembali untuk memastikan.


Lusy menghela napas kasar, memandang pemuda yang lebih tua darinya itu.


“Zayn, apa kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu? Tentang statusku, kamu harus lebih banyak memikirkan perasaan orang lain. Aku, kamu, keluargamu mungkin. Jangan sampai ada yang kecewa, kamu perlu tahu jika statusku tidak bisa diterima orang lain dengan mudah, jadi aku harap kamu sudah memikirkan dengan matang sebelum benar-benar mengambil keputusan ini,” ujar Lusy panjang lebar untuk menjawab pertanyaan Zayn.


Zayn menatap Lusy, melihat jika wanita itu seperti trauma dan takut menghadapi kenyataan karena status. Hingga kemudian Zayn memandang Cheryl yang berada di gendongan, melihat wajah malaikat itu membuat Zayn mantap akan keputusannya.


“Aku sudah memikirkannya berulang kali, yang ingin menjalani kehidupan serta keputusan yang aku ambil, hanyalah aku sendiri. Jadi aku tidak akan mengubah penilaian atau keputusan, meski ada pihak lain yang tidak menyukai hubungan kita, atau tidak menyukai statusmu, bahkan jika itu kedua orangtuaku sendiri. Bukankah sudah aku bilang, apa yang terbaik untukku, hanya aku yang bisa menilainya,” balas Zayn mencoba meyakinkan Lusy jika dirinya tak main-main.


Lusy melipat bibir ke dalam, tampak berpikir sambil memandang pemuda yang di hadapannya. Meski Zayn memang menarik dan sangat baik, tapi semua ini benar-benar terlalu cepat untuknya.


“Bisa kita menjalaninya dulu, biar aku memastikan apakah bisa bersamamu atau tidak, mungkin juga sebaliknya. Aku tidak ingin ada kekecewaan saat kita bersama tapi tiba-tiba ada kata pisah karena statusku,” ujar Lusy yang tak langsung menerima serta tak juga menolak.


Zayn tersenyum lebar kemudian meraih telapak tangan Lusy hingga membuat terkejut. Meski hanya sebuah kesempatan, Zayn akan memanfaatkan hal itu sebaik-baiknya.


Lusy terkejut hingga memandang telapak tangan yang digenggam Zayn, sebelum kemudian memandang pemuda itu.


“Tidak masalah jika kamu ingin menjalaninya dulu meski tanpa ada kata status, tapi aku janji takkan pernah membiarkan statusmu menghalangi hubungan kita,” kata Zayn dengan senyum merekah di wajah.

__ADS_1


Lusy mengangguk, memberi kesempatan kepada Zayn sama dengan memberi kesempatan ke dirinya sendiri. Mungkin Lusy juga ingin kembali membuka hatinya yang sudah tertutup rapat.


__ADS_2