
Meghan pergi ke restoran tempat dia akan bertemu dengan Farah. Saat baru saja sampai di sana, Meghan bertemu dengan temannya yang juga ternyata adalah rekan bisnis Zayn, pria sama yan ada di pesta malam itu.
“Meg, kamu datang sendiri?” tanya pria itu saat berhadapan dengan Meghan.
Meghan cukup terkejut bertemu pria itu di sana, tapi kemudian mencoba bersikap biasa.
“Aku ada janji bertemu dengan Tante Farah,” jawab Meghan dengan ekspresi wajah malas.
“Wah, apa sekarang ada kemajuan? Apa wanita itu percaya jika wanita Prancis itu bukan wanita baik-baik?” tanya pria itu.
Meghan memberikan isyarat agar pria itu tidak bicara sembarangan di sana.
“Apa kamu tidak bisa bicara hati-hati, jangan membahas itu di sini.” Meghan bicara dengan sedikit menekan intonasi bicaranya.
Pria itu tersenyum miring, kini memiliki rahasia Meghan karena dia memang dimintai tolong membuat kesalahpahaman antara Lusy dan Zayn, tapi sayangnya gagal.
“Ingat janji yang kamu ucapkan jika berhasil menikah dengan Zayn, kalau tidak akan aku bongkar rahasiamu,” ancam pria itu sambil menepuk pundak Meghan dan bicara dengan bibir yang begitu dekat di telinga wanita itu.
__ADS_1
Meghan mengepalkan telapak tangan, geram karena pria itu berani mengancamnya. Namun, semua itu sudah menjadi resiko karena dia yang duluan meminta bantuan pria itu.
Meghan akhirnya memilih mencari tempat duduk sambil menunggu Farah datang.
Hampir setengah jam Meghan menunggu Farah datang, tapi ternyata wanita itu tidak kunjung muncul batang hidungnya.
“Apa Tante Farah terkena macet di jalan?” Meghan bertanya-tanya sendiri karena tidak biasanya Farah terlambat jika membuat janji.
Meghan mencoba menghubungi Farah, tapi ternyata tidak diangkat oleh wanita paruh baya itu. Meghan mencebik, bisa-bisanya Farah mengabaikan dirinya.
[Meg, sepertinya Tante tidak bisa datang, tiba-tiba kepala terasa pusing.]
**
Zahra kembali ke perusahaan karena ada yang harus dilakukan selepas pemotretan sore itu. Dia berpapasan dengan Sherly yang baru saja akan pulang.
“Za, tunggu!” Sherly mencegah Zahra masuk.
__ADS_1
Zahra berhenti melangkah, lantas menunggu Sherly yang berjalan ke arahnya.
“Ada apa, Kak?” tanya Zahra tetap sopan meski dia anak pemilik perusahaan itu.
“Aku dengar, Pak Zayn sudah tidak bekerja di sini dan tidak lagi menjabat sebagai direktur utama di sini, ya?” tanya Sherly penasaran karena banyaknya berita yang didengar di perusahaan itu tentang Zayn.
“Memangnya kenapa tanya-tanya?” Zahra sedikit tidak senang jika ada yang membahas tentang Zayn.
“Ya, tanya aja, Za. Kamu ‘kan adiknya, pastinya informasi darimu lebih valid. Lagi pula banyak yang berspekulasi sendiri, karena Pak Zayn pun tidak tampak di perusahaan tiga hari ini.” Sherly berusaha mengorek informasi dari Zahra.
Zahra memutar bola mata malas, sebelum kemudian berkata, “Kak Zayn baru saja menikah, jadi wajar kalau dia tidak bekerja karena sedang honeymoon.”
Berbohong adalah jurus ampuh agar membungkam mulut orang yang asal bicara sembarangan. Lagi pula Zahra belum mengakui kalau Zayn dikeluarkan dari keluarganya dan kehilangan pekerjaan. Dia hanya menganggap jika Zayn mendapatkan hukuman dari ayah dan ibunya.
“Me-menikah?” Sherly terlihat syok mengetahui kabar itu.
“Ya, menikah sama bule Prancis. Cantik dan baik.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Zahra meninggalkan Sherly yang masih syok dan terlihat megap-megap seperti ikan yang kekurangan air.