Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Tugas Zayn


__ADS_3

Zayn berjalan menuju kafe tempat Lusy bekerja. Tugasnya sekarang adalah menjaga Lusy dan Cheryl agar tidak diganggu Max, sampai Joya datang dan membujuk wanita itu untuk tinggal di Indonesia.


“Selamat datang, selamat ….” Lusy berhenti menyapa saat melihat siapa yang baru saja masuk.


“Hai!” sapa Zayn ketika Lusy memandang dirinya. Bahkan dia mengangkat telapak tangan di udara untuk melambai.


Lusy mengangguk dengan senyum kecil di wajah meski sedikit terkejut, hingga si kecil Cheryl tampak berdiri di samping kaki Lusy.


“Hai Cheryl!” sapa Zayn dengan sedikit membungkuk dan melambai memandang Cheryl.


Gadis kecil itu tertawa renyah, hingga malu-malu bersembunyi di belakang kaki sang ibu.


“Kamu mau pesan sesuatu?” tanya Lusy dengan sedikit canggung. Dilihatnya ujung bibir Zayn yang terluka karena berkelahi dengan Max.


“Secangkir latte dan sedikit camilan,” jawab Zayn menegakkan badan dengan senyum hangat di wajah.


Lusy mengangguk kemudian meminta Zayn untuk duduk. Zayn melambai ke Cheryl, seolah meminta gadis kecil itu untuk mendekat ke arahnya.


Namun, Cheryl memilih mengekor ke sang ibu, masuk ke belakang meja bartender untuk menunggu Lusy menyiapkan pesanan.

__ADS_1


Zayn memandang Lusy yang sibuk membuatkan minuman untuknya. Rasanya ini seperti liburan yang sangat sempurna hanya dengan melihat wajah wanita yang membuat perasaannya tenang.


Zayn memang izin ke ayahnya untuk ambil cuti dengan alasan ingin jalan-jalan melepas penat, sehingga dirinya tidak diganggu pekerjaan saat berada di kota kecil itu.


“Pesananmu, selamat menikmati,” ucap Lusy setelah selesai menyajikan pesanan Zayn.


“Terima kasih,” balas pemuda itu.


Zayn melirik Cheryl yang berdiri di belakang kaki Lusy, gadis kecil itu tampak mengamati kue yang ada di meja.


“Cheryl mau ini?” tanya Zayn sambil membungkuk dan memegang piring berisi kue.


“Cheryl.” Lusy menatap Cheryl yang kini sudah berdiri di samping meja Zayn.


Cheryl menoleh, bola matanya berkaca-kaca seolah takut dimarahi.


“Tidak apa-apa, aku memang ingin membagi kuenya dengan Cheryl,” kata Zayn yang tak ingin Lusy memarahi Cheryl. Dia bahkan mengusap lembut pucuk kepala gadis kecil itu.


Pemuda itu langsung mengangkat tubuh Cheryl, kemudian mendudukkan di pangkuannya. Lusy cukup terkejut melihat yang dilakukan Zayn, tapi tak bisa melarang dan akhirnya membiarkan.

__ADS_1


“Kamu bekerjalah, biar Cheryl bersamaku,” ucap Zayn lagi.


Lusy merasa sedikit canggung karena Zayn begitu baik, kemudian memilih kembali ke pekerjaannya karena ada tamu lain yang datang. Lusy bekerja sementara Cheryl bersama Zayn, sesekali wanita itu melihat Zayn yang begitu perhatian ke putrinya, menyuapi juga mengajak bercanda. Andai dulu dirinya mendapat pria baik, pasti hidupnya akan penuh kebahagiaan.


“Siapa dia? Tampan sekali,” bisik Rachel sambil menatap Zayn yang sedang bercanda dengan Cheryl.


“Hanya kenalan,” jawab Lusy singkat. Namun, wanita itu melirik Zayn, melihat pria itu tertawa lepas bersama Cheryl. Rasanya begitu tenang melihat putrinya juga tertawa seperti Zayn.


“Dia tampaknya sangat sayang anak-anak, bahkan begitu perhatian kepada Cheryl. Apa dia menyukaimu?”


Pertanyaan Rachel membuat Lusy tersedak ludah, hingga menoleh temannya yang berdiri di sampingnya itu dengan rasa tidak percaya.


“Jangan mengada-ada, dia di sini juga karena kebetulan. Karena kami saling kenal, makanya dia pun akrab dengan Cheryl,” ucap Lusy dengan cepat menyangkal pemikiran Rachel.


Rachel mengerutkan dahi, kenapa Lusy reaktif menanggapi ucapannya yang sebenarnya mengandung candaan.


“Ah … tampaknya aku tahu sesuatu.” Goda Rachel, sebelum kemudian memilih ke belakang.


“Hah! Apa?” Lusy terkejut dengan mulut menganga.

__ADS_1


__ADS_2