
Zayn pergi ke dapur hendak mengambil air untuk Lusy, hingga langkahnya terhenti saat melihat Farah yang ternyata juga berada di dapur.
“Pastikan dagingnya jangan terlalu overcook. Supnya juga, pastikan semua sempurna. Istrinya Zayn masih dalam masa pemulihan, jadi tugas kalian sekarang ikut menjaga kesehatannya.”
Zayn mendengar sang mama mengintruksi pembantu rumah untuk melayani Lusy. Membuatnya terdiam dan berpikir apakah Farah melakukannya dengan sepenuh hati.
Saat Zayn sedang melamun, Farah menoleh dan melihat putranya itu termenung.
“Zayn, apa kamu butuh sesuatu?” tanya Farah dengan suara lembut.
Zayn tersadar dari lamunan, lantas mendekat tapi bukan untuk menghampiri ibunya. Dia hendak mengambilkan air minum untuk Lusy.
Farah bergeming karena Zayn masih cuek dan tak acuh kepadanya. Tampaknya Farah harus berjuang dengan keras untuk membuat sang putra kembali percaya kepadanya.
Zayn mengambil teko kaca yang sudah diisi air minum dan gelas, kemudian meninggalkan dapur juga Farah yang masih diam.
“Bagaimana cara Mama membuktikan jika sudah menyesal, Zayn.” Farah ingin menangis karena kini sang putra terasa begitu asing untuknya.
**
Saat malam hari, ruang makan keluarga Adzriel itu terlihat penuh karena adanya Zayn, Lusy, dan Zahra. Mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya, di meja sudah tersaji banyak menu makanan untuk menyambut kepulangan Zayn dan Lusy.
“Makanlah sup iga yang banyak, ini mengandung protein dan gizi yang baik,” ujar Farah menunjukkan kepeduliannya kepada Lusy. Dia mengambilkan semangkuk sup iga untuk menantunya itu.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Lusy sedikit canggung karena Farah melayaninya.
Farah menoleh Zayn, hendak menawari tapi takut ditolak.
“Ma, aku mau juga.” Zahra dengan manja menyodorkan mangkuknya ke Farah.
Wanita paruh baya itu mengulas senyum, kemudian mengangguk dan menerima mangkuk dari Zahra sebelum kemudian mengisi mangkuk itu dengan sup.
Zayn tidak meminta sup, hanya memakan apa yang ada di dekatnya saja. Farah semakin sedih karena Zayn benar-benar bersikap dingin kepadanya.
Lusy sendiri tidak enak hati, membawa Zayn pulang ternyata tidak lantas membuat pria itu mau memaafkan kesalahan ibunya begitu saja.
Mereka pun makan dengan khidmat meski terasa aura dingin yang menusuk karena sikap Zayn yang berubah dingin. Lusy sendiri berusaha menghabiskan makanan yang sudah diambilkan Farah agar tidak mengecewakan wanita itu.
Lusy dan yang lainnya langsung memandang Zayn, menanti jawaban dari pria itu.
Zayn mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk mulut, tanpa memandang sang ayah dia menjawab, “Tidak, aku lebih suka menjadi waiters sekarang.”
Ikram dan Farah cukup terkejut mendengar jawaban Zayn, tapi mereka tidak mau memaksa karena takut jika Zayn semakin marah dan bersikap dingin ke mereka.
Mereka pun akhirnya makan malam dengan tenang, tidak ada perbincangan karena tahu jika semua hal yang dibincangkan akan menjadi rasa canggung di akhir.
**
__ADS_1
Zayn dan Lusy sudah di kamar setelah selesai makan. Lusy memandang suaminya yang sedang menata sprei kasur mereka.
“Apa kamu benar-benar tidak ingin kembali ke perusahaan?” tanya Lusy sekali lagi untuk memastikan jawaban Zayn sebelumnya.
Zayn mengangguk-angguk, kemudian menepuk bantal agar tidak ada debu yang menempel.
“Berbaringlah, aku akan mengganti perbanmu,” kata Zayn yang mengalihkan pembicaraan.
Lusy menuruti ucapan Zayn, mendekat kemudian berbaring dengan posisi tengkurap agar suaminya bisa mengecek lukanya.
Zayn mengambil kotak obat, lantas duduk di tepian ranjang dan mulai membuka perban yang menutup luka di pinggang Lusy.
“Apa masih nyeri?” tanya Zayn ketika mengoleskan salep yang diresepkan dokter.
“Sudah tidak terlalu, hanya saja kalau banyak bergerak masih sakit,” jawab Lusy merasakan jari suaminya menyentuh sisi luka jahitnya.
Zayn menutup kembali luka itu dengan perban agar tidak terkena air. Lusy membalikkan badan dan memosisikan bantal di sampingnya untuk mengganjal agar pinggangnya tidak menyentuh kasur. Ditatapnya Zayn yang masih duduk di tepian ranjang.
“Jika aku pergi bekerja, apa tidak apa-apa kalau kamu di rumah sendiri. Aku mencemaskanmu,” ujar Zayn sambil menatap Lusy.
Lusy mengulas senyum, hingga meraih telapak tangan Zayn dan menggenggamnya erat.
“Aku akan baik-baik saja,” balas Lusy, “kamu juga jangan cemas jika berpikir mamamu akan menyakitiku, aku sangat yakin jika dia sudah berubah, Zayn.”
__ADS_1
Zayn terdiam mendengar ucapan Lusy, hingga dalam hatinya berkata, “Tapi aku yang belum yakin, Lu.”