
Lusy meminta duduk karena pegal terus berbaring. Zayn sendiri kini duduk di kursi sambil menyantap sarapannya, dia sengaja makan di kamar inap Lusy karena mencemaskan istrinya itu, sekalian membelikan sarapan untuk Zahra.
Saat Zayn datang, Farah sudah pergi dari kamar itu. Farah tidak ingin membuat Zayn marah jika melihatnya di sana.
Zahra makan sambil sesekali melirik Lusy yang duduk sambil menatap Zayn, hendak mendengarkan apakah Lusy akan membicarakan masalah kedatangan Farah kepada sang kakak.
Lusy sendiri tidak langsung bicara soal Farah yang datang karena tidak ingin mengganggu nafsu makan Zayn. Dia membiarkan Zayn makan dulu, sebelum membicarakan apa yang diinginkan Farah.
“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Zayn setelah selesai makan dan kini sedang membereskan bungkus bekas makannya.
“Tidak,” jawab Lusy sambil menggelengkan kepala pelan.
Zahra masih memperhatikan, dia sendiri tidak berani jika harus membahas tentang kedatangan Farah.
Zayn membuang bungkus itu ke tong sampah, sebelum kemudian kembali ke kamar dan duduk di kursi samping ranjang Lusy.
“Zayn, aku sebenarnya ingin membicarakan sesuatu denganmu,” kata Lusy.
Mendengar Lusy akan mulai membahas tentang kedatangan Farah, Zahra tiba-tiba berdiri dan izin pamit keluar karena tidak mau mengganggu.
__ADS_1
Lusy sendiri menunggu Zahra pergi, hingga kemudian menatap Zayn yang terlihat menanti.
“Kamu ingin membicarakan apa?” tanya Zayn dengan suara lembut.
Lusy mengulas senyum, menyiapkan kata-kata yang pas agar suaminya tidak salah paham dan juga tidak marah.
“Apa kamu masih marah kepada mamamu?” tanya Lusy.
Zayn cukup terkejut karena Lusy tiba-tiba menanyakan tentang hal itu.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Zayn balik dengan dahi berkerut.
Zayn mengerutkan alis, sedikit heran karena jawaban Lusy.
“Ada apa, Lu? Kenapa kamu tiba-tiba bicara demikian?” tanya Zayn keheranan.
Lusy sepertinya tidak bisa berbohong jika ingin membuat Zayn memaafkan Farah, hingga akhirnya dia pun bertekad untuk mengatakan perihal kedatangan Farah.
“Sebenarnya mamamu tadi ke sini,” jawab Lusy hati-hati.
__ADS_1
Zayn cukup terkejut mendengar jawaban Lusy.
“Apa yang Mama katakan kepadamu? Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?” tanya Zayn terlihat tidak senang karena takut jika Farah kembali menyakiti hati Lusy.
Lusy menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Mamamu tidak mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang menyakitiku. Malah sebaliknya, dia menyesal dan meminta maaf atas apa yang dilakukannya dulu. Dia hanya ingin memperbaiki hubungannya denganmu, Zayn.”
Lusy sedikit berbohong tentang Farah yang menyesal agar Zayn tidak lagi berpikiran buruk.
Dahi Zayn berkerut halus, sedikit tidak percaya jika Farah mengatakan semua itu.
“Kamu tidak bohong? Pasti Mama mengancammu agar mengatakan hal itu kepadaku, ‘kan?” tanya Zayn karena curiga.
Lusy menggelengkan kepala dengan seulas senyum, lantas menggenggam telapak tangan Zayn yang ada di atas ranjang.
“Dia benar-benar berkata demikian, untuk apa aku berbohong. Dia hanya ingin kita kembali ke rumah, Zayn. Mamamu mengundang kita untuk pulang, maafkanlah mamamu jika dia pernah melakukan kesalahan. Orangtua pasti pernah melakukan kesalahan, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk memaafkannya. Jangan egois, atau tindakanmu tidak ada bedanya dengan mamamu,” ujar Lusy panjang lebar menjelaskan.
Zayn terlihat berpikir sambil menatap Lusy, tapi kemudian mengalihkan tatapan dari Lusy.
“Aku tidak bisa jika kembali ke rumah, Lu. Aku hanya tidak siap jika itu hanya alasan Mama saja, kemudian di sana dia menyakitimu. Aku tidak bisa,” ujar Zayn yang sangat memikirkan perasaan dan keselamatan Lusy.
__ADS_1
“Tapi aku sudah menerimanya, Zayn. Aku berkata jika akan pulang bersamamu saat keluar dari rumah sakit. Aku tahu bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga, kini aku juga merasakan bagaimana mamamu saat kehilangan keluarga, terlebih anak-anaknya.”