Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Kehangatan


__ADS_3

Pagi itu terasa indah, wajah cerah dengan senyum yang terpajang akan mengawali hari yang begitu membahagiakan. Lusy tersenyum memandang Zayn yang masih terlelap, wajahnya merona saat mengingat percintaan pertamanya dengan Zayn dalam kondisi sadar, tidak seperti saat pertama di mana dirinya terpengaruh obat dan tidak ingat apa pun.


Lusy mengecup sekilas bibir suaminya itu, sebelum kemudian memilih bangun untuk menyiapkan sarapan untuknya, Zayn, dan Zahra.


Saat Lusy sudah keluar dari kamar, Zayn membuka mata dan tersenyum sambil menyentuh bibir. Dia sebenarnya sudah bangun, tapi enggan membuka mata sampai Lusy mengecup bibirnya. Manis dan bahagia, begitulah perasaan Zayn saat ini.


“Kamu sudah bangun?” Lusy terkejut melihat Zahra yang sudah di dapur.


Zahra berdiri memegang kotak susu, terlihat bersiap menuangkan susu dari kotak ke gelas.


“Aku mendadak lapar, Kak. Jadi aku mau minum susu sebelum sarapan,” kata Zahra. Wajahnya masih terlihat lesu, tapi cacing di perutnya terus berteriak, membuat Zahra akhirnya memilih bangun karena tidak tahan.


Lusy tersenyum mendengar perkataan Zahra, lantas memilih menggulung rambutnya di atas kepala, mengambil aprons dan memakainya, siap untuk membuat sarapan ala kadarnya.


“Semalam kalian tidur awal, aku pulang sudah sepi,” kata Zahra sambil menarik kursi di meja makan, lantas mendudukkan tubuhnya di sana.

__ADS_1


“Iya, kakakmu semalam kelelahan karena bekerja, aku sendiri juga ikut tidur,” jawab Lusy sambil mengocok telur karena dirinya akan membuat omelet.


Zahra mengangguk-angguk mendengar jawaban Lusy, tapi tidak bertanya banyak hal lagi karena takutnya jika ada yang tidak berkenan.


Pagi itu, meja makan di apartemen terasa hangat dengan kebersamaan Lusy dan yang lainnya. Mereka sarapan sambil membahas banyak hal, terutama Zahra yang terus bercerita bagaimana pekerjaannya sekarang sebagai model.


“Tapi ingat untuk tidak bermain di klub malam, Za. Meski kamu model, tapi jangan menerima ajakan pesta atau bertemu produser atau siapalah di klub, paham!” Zayn memperingatkan karena tidak mau terjadi sesuatu dengan adiknya.


“Iya, Kakak. Aku akan ingat pesanmu,” ucap Zahra, “lagi pula aku juga tidak mau kejadian itu terulang lagi, meski dengan orang berbeda.”


“Kejadian apa?” tanya Lusy yang tidak tahu.


“Sama sepertimu, dia pernah hampir diberi obat oleh temannya sendiri,” jawab Zayn, kemudian memasukkan potongan roti ke mulut, sedangkan lirikannya tertuju ke Zahra.


“Ah … sudahlah jangan dibahas, cowok itu memang brengsek! Aku tidak akan pernah datang lagi ke klub, lagi pula jadi model juga iseng-iseng saja, misal aku diminta wajib ke klub mending aku out jadi model,” ujar Zahra yang tidak mau terjerumus ke dunia hitam. Dia sudah banyak diceramahi dan diingatkan Zayn sebelum benar-benar terjun menjadi model, sehingga kini membuat prinsipnya sendiri untuk membentengi diri.

__ADS_1


Meski tidak semua model seperti itu dan semua juga karena pribadi masing-masing, tapi Zayn tetap mengingatkan Zahra, serta melarang Lusy karena takut dan khawatir.


**


Di rumah Farah. Wanita itu dan sang suami sarapan hanya berdua. Ruang makan besar itu terasa sepi tanpa ada celotehan Zahra atau candaan Zayn yang biasa menggoda adiknya.


“Kenapa Mama tidak makan?” tanya Ikram saat melihat Farah hanya melamun.


Farah menoleh Ikram, hingga memberikan tatapan sendu ke suaminya itu.


“Mama tidak nafsu makan,” jawab Farah sambil meletakkan alat makan ke atas piring.


“Mama mau ke kamar,” ucap Farah kemudian, lantas berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan sang suami di meja makan sendiri.


Ikram menghela napas kasar, sepertinya tahu penyebab istrinya kini tidak bersemangat. Semua yang terjadi di rumah itu, juga karena keputusan Farah yang tidak memberi kesempatan kepada Zayn untuk mencintai wanita pilihannya.

__ADS_1


__ADS_2