
Zayn melirik Zahra yang duduk di kursi samping kemudi. Pria itu mendesau pelan karena sang adik memaksa untuk ikut bersamanya.
Semalam dirinya keceplosan bicara, sehingga membuat sang adik penasaran dengan wanita yang bisa membuat sang kakak memutuskan tidak menjomblo lagi.
“Buat apa sih kamu ikut.” Zayn yang rencananya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Lusy, malah harus terganggu dengan adanya Zahra.
“Aku pengen lihat calon kakak ipar,” ucap Zahra.
Zayn sendiri tadi tidak bisa menolak saat Zahra berkata ingin ikut. Dia tidak ingin sang mama bertanya kenapa tidak mau mengajak Zahra.
“Dia sedikit pemalu, Zahra. Aku takut jika dia kurang nyaman,” kata Zayn memberi penjelasan.
“Tidak peduli, aku ingin melihat sendiri seperti apa wanita yang Kakak sukai. Salah siapa aku tidak diberitahu namanya, sampai semalam aku bermimpi-mimpi tanya siapa namanya,” cerocos Zahra tanpa peduli dengan ucapan sang kakak.
“Kalau aku jawab sekarang, apa kamu mau turun dari mobil dan tidak ikut denganku?” tanya Zayn melirik sekilas ke Zahra.
Zahra menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Terlambat, sekarang aku nggak hanya mau tahu namanya, tapi juga mau lihat seperti apa wanita yang bisa membuat jomblo satu ini jatuh cinta,” ujar Zahra tegas.
Zayn menghela napas kasar, tampaknya memang tidak bisa mengelak dari sang adik yang serba ingin tahu.
Mobil Zayn masuk ke basement apartemen yang ditinggali Lusy, membuat Zahra terkejut dengan mulut menganga.
“Kenapa ke sini? Bukankah Kakak punya unit di sini? Jangan bilang Kakak menyimpannya di sini, kenapa aku makin penasaran?” Zahra terus saja berbicara karena rasa penasaran.
__ADS_1
“Dia dari Paris, Za. Tidak memiliki tempat tinggal di sini, makanya aku minta dia menempati apartemenku,” ujar Zayn menjawab rasa penasaran Zahra.
“Owh … ternyata kakakku ini sangat perhatian, atau sebenarnya sedang dalam masa bucin akut.” Zahra bicara sambil melepas seatbelt, sebelum kemudian keluar dari mobil.
Mulut Zayn menganga mendengar ucapan sang adik, kenapa Zahra ini ucapannya benar blak-blakkan.
Mereka pun pergi ke unit apartemen milik Zayn yang ditempati Lusy. Zayn sendiri sudah memperingatkan Zahra untuk tidak membahas masalah pribadi apalagi masa lalu Lusy.
Zahra merasa aneh, tapi demi bisa bertemu calon kakak iparnya—mungkin. Dia harus rela menahan semua rasa penasarannya.
Zayn menekan bel pintu, menunggu Lusy membuka.
“Bukannya Kakak tahu paswordnya, kenapa tidak langsung masuk?” tanya Zahra sambil menatap heran ke sang kakak.
Zayn menoleh dan terdengar helaan napas kasar dari bibir. “Unit ini sekarang ditempati orang, Zahra. Kita tidak bisa asal masuk, meski ini milik kita. Kita harus menjaga privasi dan menghormati yang menempati.”
“Hai ….” Tatapan Lusy langsung jatuh ke Zahra yang berdiri di samping Zayn.
“Hai!” Zahra menyapa wanita yang dicintai kakaknya itu dengan wajah berseri.
“Lu, ini ….” Belum juga Zayn selesai memperkenalkan adiknya, Zahra sudah terlebih dulu meraih telapak tangan Lusy untuk berjabat tangan.
“Aku Zahra, Kakak. Adiknya Kak Zayn.” Zahra memperkenalkan diri dengan cepat.
Awalnya terkejut karena ternyata wanita yang disukai kakaknya berkebangsaan asing, tapi kemudian Zahra malah merasa kagum dan bangga karena sang kakak bisa menyukai wanita secantik Lusy.
__ADS_1
“Hai, aku Lusy.” Lusy sedikit kikuk dan salah tingkah karena sikap agresif Zahra.
Zahra tersenyum lebar, kemudian melongok ke dalam.
“Ayo masuk!” ajak Lusy. Dia sampai lupa menawari masuk karena terkejut dengan sikap Zahra.
Zayn dan Zahra pun masuk, Lusy berjalan di belakang keduanya setelah menutup pintu.
“Anak siapa itu? Lucu sekali.” Tanpa permisi, Zahra langsung menghampiri Cheryl yang sedang bermain sendirian.
Zayn dan Lusy berhenti melangkah, menatap bersamaan Zahra yang langsung mengajak main Cheryl. Bahkan gadis itu terlihat sangat menyukai Cheryl yang memang menggemaskan.
“Siapa namanya?” tanya Zahra menoleh ke Lusy.
“Cheryl,” jawab Lusy.
Zahra tersenyum lebar, sebelum kemudian kembali mengajak main Cheryl.
“Cheryl, ini onty Zahra.”
Lusy tercengang mendengar Zahra menyebut kata aunty, kenapa rasanya aneh mengingat hubungannya dengan Zayn saja belum jelas.
“Maaf kalau adikku ikut ke sini,” ucap Zayn yang tidak enak hati.
Lusy menoleh pemuda di sampingnya, sebelum kemudian mengulas senyum.
__ADS_1
“Tidak apa-apa,” balas Lusy singkat.
“Kita jadi pergi?” tanya Zayn dan langsung mendapatkan sebuah anggukan dari Lusy.