
“Ma, apa Mama benar-benar ingin menjodohkanku dengannya?” Zayn bicara sambil menunjuk ke pintu.
Dia mengajak Farah ke ruang kerja sang ayah, karena tidak mungkin langsung bicara di depan Meghan.
“Ya, memang Mama berniat menjodohkanmu dengannya. Dia cantik, sukses, dari keluarga terpandang, kurang apa lagi?” tanya Farah menanggapi ucapan putranya.
Zayn memegangi kening dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya berkacak pinggang.
“Aku sudah bilang tidak ingin dijodohkan, Ma. Apa Mama tidak mau mengerti?” Zayn menurunkan tangan dari kening dan pinggang, menatap Farah yang sejak tadi memandangnya dengan ekspresi wajah bingung.
“Kenapa? Kenapa tidak mau dijodohkan? Umurmu sudah berapa? Mau sampai kapan kamu menjomblo? Jangan bilang kamu benar-benar memiliki kelainan, Zayn!” Farah memberondong Zayn dengan banyak pertanyaan, hingga di akhir kalimat malah menuduh putranya memiliki kelainan.
“Astaga, Ma! Mama tega menuduhku seperti para Bibi menuduh?” Zayn memandang sang mama dengan rasa tidak percaya.
“Ya, itu karena kamu menolak perjodohan, serta masih memilih sendiri di umurmu sekarang ini? Kapan? Kapan kamu pernah membawa wanita ke hadapan Mama atau berpacaran? Kapan?” Farah bicara sambil mengangkat dagu, seolah sedang menantang putranya agar tidak melawannya.
“Ya, itu karena dulu memang aku belum berkeinginan menjalin hubungan dengan wanita, Ma.”
__ADS_1
“Ya sudah, Mama yakin kamu tidak bisa memilih pasangan, makanya sekarang Mama yang akan pilihan. Kamu tinggal jalani dan mencoba, jangan kebanyakan protes!” Farah tidak akan pernah mundur menjodohkan Zayn, dia juga ingin seperti saudara-saudara lainnya yang sudah memiliki cucu atau menantu.
“Ma, aku sudah memiliki pilihanku sendiri. Mama tidak bisa menjodohkanku begitu saja!” Zayn pun akhirnya mencoba sedikit jujur ke ibunya.
Farah tercengang mendengar pengakuan Zayn, tapi sedetik kemudian tidak percaya begitu saja dengan putranya itu.
“Kamu bohong hanya untuk menghindari perjodohan. Jika kamu memang memiliki pilihan sendiri, bawa ke sini dan ajak bertemu dengan Mama!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Farah memilih keluar dari ruangan meninggalkan Zayn sendiri di sana.
Zayn mengguyar kasar rambutnya, bagaimana bisa dirinya mengajak Lusy bertemu dengan sang mama, sedangkan hubungan mereka masih belum resmi.
“Za!” Meghan langsung berdiri saat melihat Zahra akan masuk. Dia mengambil totebag yang ada di sofa, kemudian menghampiri Zahra dengan senyum merekah di wajah.
Zahra berhenti melangkah, lantas menatap Meghan yang mendekat ke arahnya.
“Ini aku bawa dari Singapore, lihatlah apa kamu suka,” kata Meghan sambil mengulurkan totebag ke Zahra.
__ADS_1
Zahra melirik totebag itu, lantas memandang Meghan dan melihat wanita itu tersenyum kepadanya.
“Ambillah, ini oleh-oleh dariku,” pinta Meghan sambil mendekatkan lagi totebag itu ke Zahra.
Akhirnya dengan sedikit terpaksa, Zahra menerima pemberian Meghan.
“Terima kasih,” ucap Zahra sedikit malas.
Meghan tersenyum, lantas terlihat menoleh ke dalam di mana tadi Zayn dan Farah pergi.
Zahra menangkap gerak-gerik Meghan, terlihat tidak suka dengan Meghan karena Zahra terlanjur menyukai Lusy yang lemah lembut dan terlihat apa adanya.
“Kak, apa kamu berharap dijodohkan dengan Kak Zayn?” tanya Zahra menyelidik.
“Ya?” Meghan terkejut mendengar pertanyaan Zahra, kemudian menoleh dan menatap gadis di hadapannya itu.
“Tidak mudah membuat Kak Zayn jatuh cinta, apalagi dia sekarang sudah memiliki tambatan hati.” Zahra kemudian pergi meninggalkan Meghan setelah bicara demikian.
__ADS_1
Meghan terkejut mendengar ucapan Zahra, hingga menatap punggung adik Zayn itu yang sedang menaiki anak tangga.
“Tambatan hati? Apa benar?”