
Lusy turun bersama Joya begitu sampai di rumah orangtua Kenzo. Lusy sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya.
“Cheryl.” Lusy benar-benar bahagia saat melihat Cheryl lagi.
Wanita itu pun mengambil Cheryl dari gendongan Liana—ibu Kenzo.
Zayn dan Kenzo masuk setelah Joya dan Lusy, hingga Zayn cukup terkejut saat melihat wanita yang membuatnya terkesima langsung meminta Cheryl dan menggendong bayi itu, bahkan langsung menciumi pipi bayi itu sambil menangis. Pemuda itu bisa menangkap kerinduan dalam tatapan wanita itu, serta rasa kasih sayang yang begitu besar ketika memeluk bayi mungil dalam dekapan.
Zayn benar-benar penasaran, apakah dugaannya benar meski dia berharap salah. Dia pun lantas sedikit menggeser posisi berdiri ke samping, kemudian mendekatkan wajah ke telinga Kenzo.
“Ken, apa dia ibu Cheryl?” tanya Zayn sedikit berbisik ke Kenzo.
Kenzo menoleh, kemudian menganggukkan kepala.
Zayn terdiam dan menatap wanita itu masih menggendong Cheryl. “Jadi dia sudah bersuami?” tanya Zayn kemudian.
Zayn memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi atau bagaimana Cheryl bisa bersama Joya. Dia hanya tahu jika Joya merawat Cheryl sementara karena menjadi ibu angkat bayi itu.
“Dia tidak memiliki suami,” jawab Kenzo tanpa menoleh Zayn.
“Maksudmu dia sudah bercerai dengan suaminya?” tanya Zayn lagi karena begitu penasaran. Bahkan rasa itu terlukis jelas di wajah tampan pemuda itu.
Kenzo langsung menoleh Zayn karena merasa banyak bertanya, menatap heran pada pemuda yang biasanya sering bersikap tak acuh itu.
“Kenapa kamu tiba-tiba banyak bertanya? Ada apa?” tanya Kenzo menaruh curiga.
Zayn terkejut mendengar pertanyaan Kenzo, bahkan sampai mengusap tengkuk karena canggung.
“Tidak ada, hanya ingin tahu saja,” jawab Zayn yang tentunya tak mau mengaku.
Zayn kembali memandang wanita yang dipanggil dengan nama Lucy, membuatnya semakin tertarik tapi bimbang karena status wanita itu yang sudah memiliki anak. Namun, rasa penasaran itu malah terus bergelayut di hati Zayn. Dia ingin tahu lebih tentang wanita itu, tapi takut jika mendengar fakta yang mungkin mencengangkan.
**
Zayn akhirnya pulang diantar Kenzo, sepanjang perjalanan pemuda itu sedikit gelisah memikirkan soal wanita yang baru saja mengambil perhatiannya, tapi kemudian mengetahui fakta jika wanita itu sudah memiliki anak.
__ADS_1
“Memangnya kenapa teman Joya bercerai dengan suaminya?” tanya Zayn memancing cerita dari Kenzo.
“Tidak ada yang bercerai,” jawab Kenzo santai sambil mengemudikan mobil menuju rumah Zayn.
“Tidak bercerai, tapi tidak punya suami. Lalu apa?” tanya Zayn dengan rasa penasaran yang meluap-luap di dada.
“Dia hamil di luar nikah, pria yang menghamilinya ternyata sudah beristri. Kasihan dia, saat terpuruk masih mendapatkan musibah. Lucy tak sengaja menabrak seorang pejalan kaki hingga meninggal, sedangkan saat itu dia sedang hamil. Lucy harus di penjara dan melahirkan Cheryl di sana, karena itulah akhirnya Joya yang merawat Cheryl untuk sementara waktu.” Kenzo akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Lucy.
Benar, Lucy adalah mantan narapidana karena nasib buruk menghampirinya. Dia tak sengaja menabrak seorang wanita tua di jalanan kota Paris saat salju turun. Saat itu Lucy dalam kondisi tertekan dan syok karena baru mengetahui fakta jika pria yang menghamilinya ternyata sudah memiliki istri, membuat wanita itu tidak fokus di jalanan saat mengemudi. Hingga kemudian bayi yang dilahirkan dibawa Joya untuk dirawat, meski awalnya Lucy sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya karena tak sanggup menanggung beban hidup dan penderitaan.
Zayn sangat terkejut mendengar cerita itu, hamil di luar nikah dan mantan narapidana, sebuah status yang akan sulit diterima banyak orang.
“Aku merasa heran denganmu, kenapa tiba-tiba bertanya banyak hal. Apa kamu tertarik padanya, hm?” tanya Kenzo asal-asalan.
Zayn langsung menoleh ketika mendengar pertanyaan Kenzo, melihat jika temannya itu tak serius bertanya.
“Tidak juga, hanya penasaran saja,” jawab Zayn masih tak jujur meski sempat tertarik pada Lucy.
Kenzo menoleh sekilas pada Zayn setelah mendengar jawaban temannya itu, melihat kalau Zayn memandang lurus ke depan. Ia pun memilih kembali fokus ke jalanan untuk bisa sampai di rumah.
**
“Kamu baru sampai? Kenapa tidak menghubungi untuk dijemput?” tanya sang ibu saat melihat Zayn masuk rumah.
“Tadi ketemu Kenzo di bandara, jadi aku memutuskan untuk ikut dengannya,” jawab Zayn sambil menunjuk ke pintu utama.
“Oh … dia tidak mampir?” tanya ibunya karena tak melihat Kenzo masuk.
“Tidak, Ma. Dia ada urusan lain,” jawab Zayn mengusap tengkuk, terlihat begitu malas dan tak bersemangat. Mungkinkah karena dirinya kecewa dengan status Lucy.
“Kamu sudah makan? Mama akan minta pelayan buat bikinin makanan kalau belum,” kata ibunya lagi.
Zayn tersenyum kecil, sebelum kemudian menggelengkan kepala tanda menolak.
“Nanti saja sekalian makan malam, aku mau istirahat dulu,” balas Zayn, sebelum kemudian memilih berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Sang ibu hanya menganggukkan kepala, merasa aneh dengan sikap Zayn yang terlihat tidak biasa. “Apa ada masalah di perusahaan? Kenapa dia terlihat tak bersemangat dan lelah?”
Ibunya bertanya-tanya sendiri sambil menatap punggung Zayn yang sedang menaiki anak tangga.
Zahra terlihat keluar kamar saat Zayn baru saja menginjakkan kaki di lantai dua. Gadis remaja itu lantas menghampiri sang kakak yang baru saja kembali setelah perjalanan bisnis beberapa hari.
“Kak, beliin pesananku nggak?” tanya Zahra penuh semangat.
Zayn berhenti melangkah, hingga mengusap kasar tengkuk. Ia lupa dengan pesanan Zahra karena banyaknya pekerjaan.
“Aku lupa, besok kalau ke sana lagi aku belikan,” jawab Zayn santai.
Zahra sangat terkejut mendengar jawaban Zayn, lantas menggelembungkan pipi karena kesal.
“Kakak jahat! Bukankah sudah janji mau belikan! Itu limited edition, Kakak. Nggak pasti apa besok-besok masih ada!” protes Zahra sampai menghentakkan kaki ke lantai.
“Kalau sudah nggak ada, ya beli yang lainnya,” balas Zayn santai. Ia lantas berjalan menuju kamar karena benar-benar ingin bisa segera istirahat.
“Kakak, aku maunya itu! Pokoknya aku nggak mau tahu, Kakak harus belikan secepatnya!” protes Zahra tak terima.
Zayn merasa pikirannya sedang kacau dan bimbang, masih ditambah adiknya yang sangat cerewet dan manja.
“Diam, bawel! Kalau sudah tidak produksi, nanti aku minta pabriknya untuk membuatnya lagi! Ribet banget!” Zayn langsung membuka pintu dan masuk ke kamar.
Zahra terkejut dengan mulut menganga, bagaimana bisa kakaknya itu dengan mudah berkata akan meminta pabrik yang membuat barang incarannya produksi lagi.
“Lihat saja! Aku akan mengganggumu kalau sampai tidak kamu dapatkan barang itu!” ancam Zahra meski Zayn tidak mendengar.
**
Zayn melempar tas yang dibawa ke sofa, lantas merebahkan tubuh di ranjang dan kini menatap langit-langit kamar. Ia benar-benar sedang memikirkan tentang Lucy.
“Apa benar dia begitu?” Zayn bertanya-tanya sendiri.
“Tunggu! Kenapa aku benar-benar memikirkannya? Bukannya aku sekedar kagum saja?”
__ADS_1
Zayn menggelengkan kepala cepat, mencoba menepis pemikiran jika tertarik pada Lucy yang baru ditemuinya.