Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Hasil jerih payah


__ADS_3

Lusy benar-benar mencoba untuk menjadi model pengganti demi beberapa lembar uang yang akan didapatkan. Dibantu satu kru wanita mengarahkan pose yang harus dilakukan, Lusy pun bisa melakukannya meski sedikit kaku.


“Good, I like it. Natural, perfect.” Albert terus memuji saat Lusy sedang berpose.


Beberapa gambar dari pose yang berbeda sudah diambil, akhirnya tugas Lusy selesai dan dia pun kembali berganti pakaian.


“Ini fee untukmu,” ucap Albert begitu Lusy keluar dari ruang ganti pakaian.


Lusy menerima uangnya, lantas melihat berapa banyak fee yang didapatkan.


“Ini sangat banyak,” ucap Lusy saat melihat lembaran uang warna merah di amplop coklat itu.


“Itu tidak ada apa-apanya dengan bantuanmu menyelamatkan nama baik studioku,” ujar Albert.


Ternyata studio Albert memang disewa khusus oleh salah satu majalah ternama untuk mengambilkan gambar-gambar busana yang sedang trend kemudian diterbitkan dan diulas di majalah itu.


“Terima kasih,” ucap Lusy penuh syukur, bahkan dia sampai memeluk amplop itu karena setidaknya akan memiliki tabungan selama Zayn belum bekerja.


Albert menatap Lusy yang begitu berterima kasih dan haru mendapatkan uang itu, hingga dia mengambil kartu nama dari kantong kemejanya dan memberikan ke Lusy.


“Jika kamu mau jadi modelku lagi, hubungi saja aku. Jangan sungkan, aku suka face kamu dan juga gaya naturalmu,” ucap Albert sambil memuji.

__ADS_1


Lusy sebenarnya enggan menerima, tapi karena takut jika dibilang tidak sopan, membuat Lusy akhirnya mau menerimanya.


Dia akhirnya pamit untuk kembali ke butik karena masih banyak pekerjaan.


“Impressive. Dia begitu luar biasa, auranya sangat terpancar. Kenapa dia hanya jadi tukang antar pakaian?” Albert bicara sambil menatap ke arah Lusy yang pergi dari sana.


Kru di ruangan itu tentunya mengedikkan bahu karena tidak tahu.


**


Zayn baru saja selesai dengan pekerjaannya saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Lelah, berpeluh, serta berat kini dirasakan Zayn. Dia baru merasakan bagaimana beratnya orang-orang dari kalangan bawah yang bekerja alakadarnya, hanya demi mendapatkan lembaran uang untuk mencukupi kebutuhan harian.


“Ini gajimu,” kata paruh baya yang memberi Zayn pekerjaan.


Zayn menerima satu lembar uang merah dan dua lembar uang berwarna hijau, mungkin tidak sebanding dengan gajinya saat bekerja di perusahaan ayahnya, tapi setidaknya uang itu dihasilkan dari jerih payahnya.


“Terima kasih,” ucap Zayn penuh syukur tanpa keluhan.


“Kalau kamu masih mau, besok bisa datang lagi ke sini,” kata pria paruh baya itu. Dia suka dengan Zayn yang cekatan dan tidak mengeluh ketika bekerja, sedangkan jika dipandang, Zayn lebih layak menjadi pekerja kantoran.


“Baik, terima kasih untuk kesempatannya,” ucap Zayn kemudian buru-buru memasukkan uang itu ke saku celana.

__ADS_1


Zayn mengambil jasnya, lantas menenteng di tangan kanan dan pergi dari tempat itu. Dia mengecek ponsel yang sejak tadi ditinggalkan karena harus bekerja, melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Lusy.


“Dia pasti mencemaskanku,” gumam Zayn.


Zayn pun buru-buru menghubungi Lusy kembali.


“Lu.”


“Zayn, kamu di mana?” tanya Lusy dari seberang panggilan.


“Sedang dalam perjalanan pulang,” jawab Zayn. Dia berjalan ke arah halte bus terdekat.


“Kamu sudah mendapatkan pekerjaan?” tanya Lusy.


“Sudah, setidaknya bisa sedikit menghasilkan,” jawab Zayn yang tidak langsung jujur jika bekerja sebagai kuli panggul.


Zayn menghentikan langkah, dia pun tidak tahu bagaimana tanggapan Lusy jika tahu dirinya bekerja serabutan seperti itu.


“Baiklah, aku juga akan pulang. Kita bertemu di rumah, nanti aku buatkan makan malam sekalian sebelum kembali ke butik.”


Zayn mengangguk meskipun Lusy tidak melihat. Hingga panggilan itu berakhir, Zayn menatap ponsel di mana ada nama Lusy di sana. Dia menggenggam ponsel itu erat, janji akan membahagiakan Lusy sepertinya harus diundur karena kini dia harus berjuang keras untuk mewujudkannya.

__ADS_1


__ADS_2