
Zayn ingin kembali pergi ke tempat dirinya bekerja kemarin tanpa sepengetahuan Lusy. Dia hanya berpikir jika tetap harus mendapatkan uang untuk diberikan ke Lusy sebagai tanggung jawab. Namun, sebelum Zayn naik bis ke tempat kemarin, terdengar ponselnya berdering dan nama temannya terpampang di sana.
“Halo, ada apa?” tanya Zayn saat menjawab panggilan itu.
“Loe di mana?” tanya balik teman Zayn dari seberang panggilan.
“Di halte, mau nyari kerja,” jawab Zayn sambil mengusap tengkuk.
“Kebetulan, loe bisa datang ke kafe nyokap gue ga? Gua lagi di sini, buruan ya!”
Zayn ingin menolak karena kini pekerjaan lebih penting daripada nongkrong, tapi temannya memaksa hingga akhirnya Zayn pun pergi ke kafe miliki keluarga temannya.
Sesampainya di kafe, Zayn langsung diajak ke ruang manager kafe.
“Ada apa, sih?” tanya Zayn yang bingung.
“Loe ‘kan butuh kerjaan, pas sekali kafe nyokap butuh satu pramusaji. Nah, berhubung loe butuh, jadi gue minta ke nyokap biar loe kerja di sini,” jawab teman Zayn sambil merangkul pundak temannya itu.
“Eh … seriusan?” tanya Zayn yang masih tidak percaya.
“Serius, ngapain gue bohong,” jawab teman Zayn sambil menepuk pundak temannya itu.
__ADS_1
Zayn tersenyum, merasa lega karena akhirnya dirinya mendapatkan pekerjaan yang layak dan tidak akan membuat Lusy cemas.
**
Lusy berada di ruangannya seperti biasa, hingga ponsel yang ada di meja berdering dan nama Kenzo ada di sana.
“Ya, Ken.” Lusy segera menjawab panggilan itu.
“Lu, Joya mau melahirkan. Apa kamu bisa ke apartemen untuk mengambil Cheryl saat jam pengasuhnya selesai?” Suara temannya terdengar panik di seberang panggilan.
“Joya mau melahirkan? Baiklah, aku nanti akan mengambil Cheryl. Semoga lahirannya lancar, Ken.”
Lusy menengok ke jam di dinding, waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Biasanya pengasuh Cheryl akan pulang pukul tiga sore.
“Masih ada waktu untuk menyelesaikan pekerjaan,” gumam Lusy.
**
Zahra pergi ke perusahaan karena siang itu tidak ada pemotretan, hingga dirinya terkejut melihat siapa yang kini berada di lobi menunggu dirinya.
“Kenapa Mama di sini? Apa dia mau memaksaku pulang?” Zahra bertanya-tanya sendiri karena cema.
__ADS_1
Namun, Zahra pun juga tidak bisa mengabaikan Farah meski takut jika dipaksa pulang. Dia akhirnya menghampiri sang mama yang sudah berdiri memandang dirinya.
Farah menunggu Zahra sampai di hadapannya tanpa ekspresi, hingga apa yang diinginkan wanita itu tidak bisa ditebak oleh Zahra.
“Ada apa Mama ke sini?” tanya Zahra begitu sampai di hadapan sang mama.
“Ini perusahaan Mama, apa kalau mau ke sini pun harus ada izin?” Farah bicara ketus karena pertanyaan Zahra.
Zahra terkejut terkena sembur ibunya, hingga kemudian memilih tidak lagi bertanya daripada salah.
“Ikut Mama!” ajak Farah kemudian berjalan melewati Zahra.
“Mau ke mana? Aku tidak mau pulang kalau Kak Zayn tidak pulang.” Zahra bergeming di tempatnya, bahkan bersedekap dada memandang punggung ibunya.
Farah kesal karena Zahra ikut membangkang, hingga kemudian membalikkan badan lantas mengulurkan tangan dan meraih telinga gadis itu.
“Siapa yang mau minta kamu pulang, hah? Ikut tinggal ikut saja bawel!” Farah menarik telinga Zahra, mengajak putrinya itu ikut dengannya.
“Mama, ouch … sakit!” pekik Zahra sambil mengimbangi tarikan tangan Farah.
Semua karyawan di perusahaan yang melihat melongo melihat kejadian itu, mereka tidak mungkin melerai karena tahu siapa Farah.
__ADS_1