
Farah berjalan dengan cepat dari parkiran menuju UGD bersama Ikram. Pikirannya sudah kacau mengetahui Zahra berada di UGD.
Saat sampai di UGD, Farah melihat Zahra yang sedang duduk sambil memejamkan mata, wanita itu semakin panik ketika melihat noda darah di pakaian putrinya.
“Zahra!” Farah berpikir Zahra terluka dan belum mendapatkan penanganan.
Wanita itu berlari untuk menghampiri Zahra diikuti oleh suaminya.
Zahra sendiri sedang menunggu pembantu rumah datang membawakan pakaian, sebab itu tidak ikut ke kamar inap Lusy karena takut kalau pembantunya bingung. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika mendengar suara Farah yang memanggilnya. Zahra berjingkat kaget dan langsung berdiri.
“Kenapa Mama di sini? Ah … pasti ketahuan,” gumam gadis itu.
Farah sudah berdiri di hadapan Zahra, kemudian memeriksa kondisi putrinya.
“Mana yang terluka? Kenapa di luar? Kenapa tidak minta diobati dulu?” tanya Farah bertubi dengan air mata yang hampir menetes.
Zahra bingung karena ibunya malah panik dan mengira kalau dirinya yang terluka.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ikram saat menyadari jika Zahra dalam kondisi baik.
“Aku baik-baik saja, memangnya yang bilang aku terluka siapa?” tanya Zahra balik setelah menjawab pertanyaan ayahnya.
__ADS_1
Farah kebingungan, kalau Zahra baik-baik saja, lantas kenapa berada di UGD.
“Kalau kamu baik-baik saja, kenapa di UGD? Lalu kenapa minta pelayan rumah mengambilkan baju? Terus itu darah siapa?” tanya Farah bertubi.
Zahra menghela napas kasar, menatap kedua orangtuanya bergantian, sebelum kemudian menjawab pertanyaan Farah yang sangat banyak.
“Aku baik-baik saja. Aku meminta pelayan mengambilkan baju karena pakaianku kotor. Ini darah Kak Lusy, Ma. Dia terluka karena menolongku yang hendak diculik.” Zahra pun menjelaskan semuanya.
Farah dan Ikram terdiam karena terkejut, seolah tidak percaya jika yang diceritakan Zahra benar.
Zahra sadar jika kedua orangtuanya tidak bisa langsung percaya begitu saja, karena mereka tidak menyukai Lusy, hingga akhirnya Zahra pun menceritakan bagaimana dirinya tadi hampir diculik dan Lusy datang menolong sampai akhirnya terkena tusukan.
“Aku tidak bohong, Kak Lusy sekarang dirawat dan ditemani Kak Zayn.” Lusy mencoba meyakinkan kedua orangtuanya.
Zayn sudah berada di ruang inap menunggu Lusy sadar. Dia terlihat frustasi sambil memegangi kening yang terasa pening. Kenapa hidup mereka begitu banyak cobaan, saat mereka baru saja akan mendapatkan kebahagiaan, ada saja kejadian yang membuat kebahagiaan itu kembali menghilang.
Saat Zayn masih larut dalam lamunan, terdengar suara ketukan pintu sebelum kemudian terbuka. Zayn menoleh dan melihat Zahra yang berdiri di ambang pintu.
“Za, kenapa tidak masuk?” tanya Zayn karena Zahra hanya berdiri di sana.
“Kak, Mama dan Papa mau bicara,” kata Zahra sedikit takut kalau sang kakak marah karena dia membawa Farah dan Ikram ke sana.
__ADS_1
Zayn cukup terkejut mendengar perkataan Zahra, hingga tatapannya tertuju keluar pintu di mana dia melihat kedua orangtuanya ada di sana.
Akhirnya Zayn pun memilih keluar untuk bicara dengan kedua orangtuanya, sedangkan Zahra masuk dan menunggui Lusy.
Zayn dan kedua orangtuanya berdiri di koridor rumah sakit, dia tidak memandang wajah kedua orangtuanya yang ada di hadapannya.
“Bagaimana kondisi Lusy?” tanya Ikram membuka perbincangan.
“Tidak terlalu buruk karena dokter menanganinya tepat waktu,” jawab Zayn masih mengalihkan pandangan.
“Dia terluka karena menolong Zahra, biarkan biaya rumah sakit kami yang menanggung,” ujar Farah ikut angkat bicara.
Zayn membuang napas kasar melalui mulut, bahkan tersenyum getir mendengar ucapan Farah. Bisa-bisanya hanya itu yang dibahas, setelah istrinya hampir kehilangan nyawa demi menyelamatkan nyawa Zahra.
“Aku masih sanggup membiayai pengobatan istriku, jadi kalian tidak perlu sok bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepadanya. Kami tidak butuh bantuan kalian.” Zayn kecewa karena sikap orangtuanya.
“Tapi kami benar-benar ingin membantu,” ucap Ikram meyakinkan.
Zayn kini menatap kedua orangtuanya, sebelum kemudian membalas, “Kami tidak perlu bantuan kalian. Kami bisa buktikan jika tanpa kalian, kami bisa membiayai hidup kami, termasuk biaya rumah sakit.”
Setelah mengucapkan itu, Zayn memilih meninggalkan kedua orangtuanya. Dia masih ingat dengan jelas kata-kata Farah sebelum dirinya angkat kaki dari rumah, sebab itu Zayn pun memilih menolak bantuan dari kedua orangtuanya jika hanya untuk rasa berterima kasih karena sudah menolong Zahra.
__ADS_1
Farah tertegun mendengar ucapan putranya, ternyata Zayn benar-benar menyimpan setiap kata yang pernah diucapkan di dalam hati, hingga itu melukai perasaan putranya itu.