
Farah terlihat mondar-mandir di depan pintu, sesekali menengok ke gerbang tapi tidak melihat yang ditunggunya datang.
“Ma, masuklah dulu!” ajak Ikram karena istrinya terlihat gelisah.
“Mama mau menunggu,” kata Farah masih memandang gerbang rumah mereka.
“Iya nunggu di dalam. Mama kayak setrikaan saja mondar-mandir,” ujar Ikram sambil geleng-geleng kepala.
Farah menoleh suaminya, kemudian mencebik dan akhirnya mau masuk dan menunggu di dalam.
“Mereka pasti datang,” kata Ikram.
“Tapi kapan? Katanya siang, ini sudah siang.” Farah kesal sendiri sambil meremass jemarinya.
Setelah mengalah dan menerima pernikahan Zayn, akhirnya putranya mau pulang dengan syarat Farah harus benar-benar menerima Lusy. Zayn sendiri mau pulang karena bujukan Lusy dan keyakinan jika Farah pasti mau berubah.
Saat Farah masih dalam kegelisahan, terdengar suara mobil berhenti di depan teras. Farah pun buru-buru berdiri dan melihat apakah yang datang Zayn.
“Akhirnya kalian pulang.” Farah begitu senang melihat Zayn turun dari taksi bersama Lusy dan Zahra.
“Hati-hati, Kak.” Zahra penuh perhatian membantu Lusy turun karena luka yang belum sembuh sempurna.
__ADS_1
Lusy baru keluar dari rumah sakit siang ini dan langsung memutuskan pulang ke rumah Farah untuk menepati janjinya.
Zayn memandang sang mama yang terlihat begitu senang, tapi kemudian memilih mengabaikan dan membuka bagasi untuk mengeluarkan barang dari sana.
Farah senang karena keinginannya terkabul, tapi sedikit sedih sebab Zayn masih mengabaikan dirinya.
Zahra memapah Lusy berjalan meski kakak iparnya itu bisa berjalan sendiri. Saat sampai di hadapan Farah dan Ikram, Lusy menyapa keduanya meski dengan rasa canggung.
“Kamu pasti lelah,” ucap Farah ke Lusy. “Za, ajak kakak iparmu masuk dulu,” imbunya ke Zahra.
Zahra mengangguk dan mengajak Lusy masuk, sedangkan Zayn sudah selesai mengeluarkan barang milik Lusy dan kini berjalan masuk sambil menenteng tas.
Farah menatap putranya dengan kerinduan yang menggunung, hingga kemudian menghentikan langkah Zayn dengan tangan yang terulur ingin menyentuh.
Farah terlihat kecewa karena Zayn menghindarinya, tapi dirinya harus bersabar karena sikap putranya yang berubah juga karena perbuatannya.
Zayn memilih langsung masuk dan menyusul Lusy, meninggalkan Farah dan Ikram di depan pintu.
“Sabar, Ma.” Ikram mencengkram pundak istrinya.
Farah mengangguk-angguk lemah, kemudian memilih masuk tapi melihat Zayn yang mengajak Lusy ke kamar.
__ADS_1
Saat di kamar, Lusy menatap Zayn yang terlihat berbeda. Suaminya itu sejak tadi diam, tidak seperti saat mereka di rumah sakit.
“Zayn.” Lusy memanggil Zayn yang sedang membongkar tas.
“Kamu perlu sesuatu?” tanya Zayn langsung menoleh Lusy dan menatap istrinya itu.
Lusy menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menepuk ranjang di sampingnya, memberi isyarat agar suaminya duduk di sana.
“Ada apa?” tanya Zayn begitu sudah duduk di samping Lusy.
Zayn menatap wajah sang istri yang masih pucat, hingga kemudian mengulurkan tangan untuk menyingkirkan anak rambut yang menutup di pelipis dan menyelipkan ke belakang telinga.
“Zayn, apa kamu masih marah?” tanya Lusy.
Zayn mengulas senyum mendengar pertanyaan Lusy, hingga kemudian mengusap rambut istrinya itu dengan lembut.
“Tidak, siapa yang marah?” tanya Zayn yang mengira jika Lusy menganggap kalau marah kepada istrinya itu.
Zayn memang sempat kesal karena Lusy terus membujuk agar mau pulang, tapi demi istrinya itu, membuat Zayn pun memilih menuruti keinginan Lusy.
“Kamu masih bersikap dingin ke orangtuamu,” ujar Lusy.
__ADS_1
Zayn terdiam mendengar ucapan Lusy, hingga kemudian meraih belakang kepala istrinya dan menekan untuk bersandar di dada.
“Aku perlu waktu, Lu. Aku masih belum menerima sikap mereka sebelumnya.”