Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Memungkiri jika tertarik


__ADS_3

Hari berikutnya. Lusy sudah bersiap untuk pergi membawa Cheryl, memang terkesan terburu-buru, tapi Lusy hanya ingin sebuah ketenangan bersama putrinya dan menghabiskan waktu berdua.


“Kamu akan tinggal di mana, jika kelak aku main ke sana, agar bisa mampir,” kata Joya saat melihat Lusy sudah siap untuk pergi.


“Mungkin aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Rumah itu tidak ditempati, berada di samping kebun anggur dengan udara yang sejuk, tampaknya memang sangat cocok untuk kami,”ujar Lusy kemudian menoleh Cheryl yang masih bermain.


Joya merasa sangat kehilangan jika Cheryl pergi, tapi dirinya juga tidak berhak jika melarang Lusy membawanya.


Joya akhirnya memeluk Lusy, meminta temannya itu menjaga diri baik-baik serta menghubunginya jika memang ada masalah.


Lusy sendiri sadar diri, meski dirinya ingin sekali tinggal, tapi tidak bisa karena terkendala kewarganegaraan. Dia di sana pun hanya bisa sebatas kunjungan wisata yang memang memiliki masa berlaku.


**


Siang hari, Zayn duduk di ruang kerjanya, seharian tidak fokus dan hanya menatap laptop terbuka. Kepalanya masih tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan dan mengganggunya sejak pertemuannya dengan Lusy. Ketertarikannya pada Lusy sejak awal melihat, ataukah rasa kecewa ketika mengetahui jika Lusy sudah memiliki anak.


“Apa sebenarnya yang aku pikirkan?” Zayn mengetuk meja dengan telunjuk, pikirannya benar-benar tak tenang sebelum tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan.


Zayn mengambil ponsel, kemudian mencoba menghubungi Kenzo. Namun, sayangnya temannya itu tidak menjawab panggilannya, membuat Zayn mencebik kesal.

__ADS_1


“Jatah dia butuh bantuan, minta aku untuk selalu stand by. Jatah aku butuh, dia hilang seolah tak peduli!” gerutu Zayn.


Zayn menghubungi perusahaan Kenzo, hingga sekretaris temannya itu yang menjawab panggilannya. Sekretaris Kenzo berkata jika atasannya masih dalam masa cuti, membuat Zayn berpikir jika pria itu mungkin di apartemen.


“Baiklah, aku ingin memastikan!” Zayn tiba-tiba berdiri dari duduknya.


Namun, ia kembali terlihat berpikir dan tampak seperti orang bingung. Zayn kembali duduk dan berpikir dengan keras.


“Kalau aku tiba-tiba ke sana, lalu alasan apa yang akan kuberikan jika Kenzo tanya?” Zayn bertanya-tanya sendiri.


Setelah terlihat berpikir sejenak, Zayn memutuskan untuk pergi. Masa bodoh dengan alasan, yang terpenting baginya sekarang adalah memastikan apa yang sebenarnya diinginkan.


**


Lama Zayn menunggu tapi belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Dia menengok arloji kemudian kembali menatap daun pintu yang ada di hadapannya.


“Apa mereka tidak di rumah?” Zayn bertanya-tanya sendiri.


Hingga akhirnya pintu pun terbuka, Zayn melihat Kenzo yang berdiri di hadapannya dengan rambut sedikit acak-acakan.

__ADS_1


“Ngapain kamu ke sini siang-siang?” tanya Kenzo dengan ekspresi wajah kesal dan satu tangan berkacak pinggang.


Zayn mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Kenzo, hingga memindai dari atas kepala dan kaki temannya itu, sedang menilai apa yang membuat Kenzo marah melihat kedatangannya.


“Kenapa? Tidak boleh? Kamu saja kalau butuh atau mencariku, datang sesuka hati!” jawab Zayn dengan sedikit nada protes. “Aku memang ingin berkunjung, sekalian bawa buah dan makanan,” ucap Zayn kemudian seraya menunjukkan dua kantong plastik di tangan, untung dia belanja dulu, jika tidak maka dirinya harus membuat alasan yang masuk akal.


Kenzo mencebik, tak mungkin baginya mengusir Zayn. Ia lantas mempersilakan temannya itu masuk meski terpaksa.


Zayn tersenyum dan dengan senang hati masuk. Kenzo menutup pintu lantas mengikuti Zayn yang sudah masuk duluan.


“Duduk dulu, akan aku minta Joya membuatkan minum,” kata Kenzo, bahkan sampai menggaruk kepala tidak gatal yang menunjukkan betapa malasnya dia.


“Oh ya, ini!” Zayn menyerahkan barang bawaannya ke Kenzo.


Kenzo menerima, lantas meninggalkan Zayn sendiri.


Zayn terlihat mengedarkan pandangan, seolah mencari sesuatu. Ia terdiam sejenak dan berpikir, kemudian kembali mencoba melongok ke arah kamar Kenzo yang sedikit terbuka dan kamar satunya yang tertutup.


“Apa mereka ada di rumah orangtua Kenzo?” Zayn bertanya-tanya dalam hati. Tentu saja Zayn ingin sekali bisa melihat Lusy, meski pikirannya memungkiri jika tertarik, tapi jelas hatinya tidak bisa.

__ADS_1


__ADS_2