
Lusy menatap wajah yang kini sudah tertidur lelap di hadapannya, tahu jika Zayn pasti sangat lelah karena pekerjaannya. Mereka baru saja menikah sehari dan Zayn harus melakukan pekerjaan yang mungkin belum pernah dilakukan pria itu.
“Kamu tidak tidur?”
Suara Zayn mengejutkan Lusy, wanita itu jadi salah tingkah saat Zayn membuka mata dan kini menatapnya. Ternyata Zayn belum tidur dan hanya memejamkan mata.
“Belum,” jawab Lusy.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Zayn saling tatap dengan Lusy.
“Zayn, apa kamu bisa jangan bekerja seperti itu lagi? Aku hanya tidak tega jika kamu harus bekerja berat seperti itu,” ujar Lusy kembali membahas masalah pekerjaan Zayn.
Lusy tadi memilih tidak membahas lagi, tapi entah kenapa sekarang membicarakannya lagi.
“Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin bekerja untuk memenuhi tanggung jawabku,” balas Zayn.
“Tapi aku tidak menuntut agar kamu memberiku uang, kita bisa melakukannya perlahan-lahan. Jika memang kamu belum mendapatkan pekerjaan, it’s oke ga masalah. Tapi jangan paksakan tubuhmu melakukan hal yang tidak pernah kamu kerjakan,” ujar Lusy menjelaskan. Dia hanya tidak ingin Zayn memiliki beban.
Zayn tersenyum, kemudian mengulurkan tangan dan mengusap wajah Lusy dengan lembut.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Lu. Anggap ini sebagai pelajaran agar aku pun memiliki banyak pengalaman dalam hidup ini. Tidak hanya merasakan kekayaan milik keluargaku, tapi aku juga merasakan bagaimana susahnya mencari uang dari titik nol,” balas Zayn lagi.
Zayn sudah menerima segala resiko atas keputusan yang diambilnya, termasuk bekerja berat demi memenuhi kewajibannya.
Lusy mengulum bibir, hingga ingat akan pekerjaannya tadi.
“Aku lupa memberitahumu,” kata Lusy.
“Memberitahu apa?” tanya Zayn dengan dua ujung alis yang naik ke atas.
“Aku tadi mengantar gaun ke sebuah studio photo, model yang seharusnya melakukan pemotretan ternyata tidak datang. Saat melihatku, mereka meminta bantuanku dan memberikanku fee hasil pengambilan gambar. Bahkan pemiliknya bilang, jika aku mau menjadi model mereka lagi, aku tinggal hubungi mereka. Bagaimana menurutmu? Kamu tidak usah bekerja, kalau aku jadi model dan dapat gaji lumayan,” ujar Lusy menjelaskan panjang lebar.
Dia tahu betul bagaimana para model itu berjuang mempertahankan namanya agar terus melambung dan mendapatkan job di perusahaan-perusahaan besar. Zayn tidak ingin jika sampai Lusy juga terseret ke hal-hal yang ditakutkannya.
Zayn bangun setelah menolak ucapan Lusy. Lusy pun terkejut dengan reaksi Zayn, lantas ikut bangun dan kini duduk di belakang suaminya itu.
“Aku tidak suka kamu menjadi model, apa pun alasannya aku tidak suka, Lu. Walau aku harus bekerja keras untuk menghasilkan uang, aku tidak akan mengeluh, asal kamu tidak menjadi seorang model.” Zayn mempertegas penolakannya.
Lusy menghela napas kasar, mencoba memahami penolakan Zayn akan niatnya meski semua itu juga demi suaminya itu agar tidak bekerja sebagai kuli panggul lagi. Namun, Lusy sendiri memilih menghormati keputusan Zayn, hingga akhirnya mengalah agar tidak ada pertengkaran di antara mereka.
__ADS_1
Lusy mendekat, lantas memeluk suaminya itu dari belakang, bahkan menyandarkan kepala dengan manja di pundak sang suami.
“Baiklah, aku tidak akan menjadi model jika kamu tidak menginginkan. Tapi berjanjilah jika kamu juga tidak akan menjadi kuli panggul lagi, Zayn. Aku mohon, jika memang kamu belum bisa bekerja, aku tidak memaksamu untuk memenuhi kewajibanmu,” pinta Lusy agar dirinya pun tidak terus merasa bersalah jika sampai Zayn terus bekerja sebagai kuli panggul.
Zayn melepas kedua tangan Lusy yang memeluk, kemudian memutar badan dan kini saling berhadapan dengan istrinya itu.
“Aku hanya ingin memenuhi kewajibanku, Lu.” Zayn menatap nanar ke Lusy.
“Tapi aku tidak pernah menuntut. Bahkan jika kamu belum bisa bekerja pun, aku tidak akan pernah mempermasalahkan. Aku benar-benar tidak bisa jika kamu bekerja seperti itu, itu semakin membuatku merasa bersalah, Zayn.” Lusy bicara dengan bola mata berkaca-kaca.
Zayn paham dengan perasaan Lusy, tahu jika wanita itu merasa bersalah akan semua yang terjadi.
“Baiklah, aku akan mencoba mencari pekerjaan lain kalau kamu tidak memperbolehkan,” ucap Zayn sambil mengusap pipi Lusy, mengiakan permintaan istrinya agar tidak menjadi beban.
Lusy mengangguk-angguk mendengar ucapan Zayn, setidaknya dia tidak akan semakin bersalah karena telah membuat pria itu hidup susah.
Keduanya saling tatap, hingga Zayn mendekatkan wajah dan menyentuhkan bibir mereka. Dia menautkan bibir begitu dalam, sebelum kemudian sedikit mendorong hingga tubuh Lusy jatuh ke belakang. Zayn terus menyesap bibir itu, sedangkan Lusy hanya memejamkan mata saat sentuhan itu semakin dalam.
Keduanya larut dalam kubangan gairah, ini kedua kalinya mereka melakukan penyatuan setelah tragedi obat waktu itu. Mereka memang belum melakukannya lagi karena banyaknya beban yang dipikirkan. Namun, pembicaraan mereka malam ini, membuat keduanya larut akan perasaan masing-masing, menciptakan suasana yang membuat mereka akhirnya kembali mengarungi samudera penuh gairah dengan bahtera cinta untuk mencapai nirwana bersama.
__ADS_1