
“Maaf, tidak ada lowongan untuk saat ini Pak Zayn.”
Kesekian kalinya dalam sehari ini Zayn melamar di beberapa perusahaan yang dikenalnya dan semuanya menjawab tidak ada lowongan.
Kecewa, mungkin itu yang dirasakan Zayn saat ini. Namun, dia pun tidak akan pernah berputus asa.
“Tidak apa-apa, saya paham,” ucap Zayn dengan senyum ramah meski ada rasa kecewa yang menggelayuti hati.
Perusahaan yang didatanginya adalah perusahaan yang dulu sering dibantunya. Mungkin nasib memang sedang tidak berpihak kepadanya, sehingga dirinya kini harus lebih berusaha lagi untuk mendapatkan pekerjaan.
“Saya permisi, terima kasih karena sudah meluangkan waktu Anda,” ucap Zayn ke kenalannya itu.
Mantan rekan bisnis Zayn itu merasa sungkan, hingga saat Zayn hendak pergi, pria itu berdiri dan memanggil Zayn. Bagaimanapun Zayn sudah banyak membantunya dulu, tidak mungkin dia menyembunyikan sesuatu dari pria itu.
“Pak Zayn, boleh saya memberi saran?” tanya pria itu.
“Silakan.” Zayn mempersilakan.
“Pak, alangkah baiknya Anda kembali saja ke perusahaan Anda. Bukan apa-apa, meski berusaha mencari pekerjaan, Anda tidak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun,” ujar pria itu.
__ADS_1
Zayn menaikkan satu sudut alis mendengar ucapan pria itu.
“Kenapa Anda berkata demikian?” tanya Zayn merasa aneh.
Pria yang berdiri di hadapan Zayn terlihat bingung, hingga akhirnya mau tidak mau bercerita ke Zayn.
“Anda tahu jika kebanyakan perusahaan yang Anda kenal memiliki campur tangan dari keluarga Anda. Tanpa saya jelaskan secara detail, Anda pasti paham apa yang saya maksud, ‘kan?” Pria itu mencoba memberikan informasi ke Zayn tanpa harus bicara secara gamblang.
Zayn mencoba menelaah ucapan mantan rekan bisnisnya itu, hingga akhirnya paham dengan maksud ucapan itu.
“Mama atau papaku yang mengancam kalian?” tanya Zayn setelah paham.
“Nyonya Farah,” jawab pria itu.
**
Zayn berjalan tanpa arah, entah ke mana dirinya akan mencari pekerjaan. Jas yang dikenakan pun kini sudah lepas dan berada di tangan kanan, langkahnya begitu berat seolah cobaan yang dihadapi takkan mampu dilewati.
Namun, bayangan Lusy yang selalu memberinya dukungan terlintas di benak, membuat Zayn kembali yakin jika bisa menghadapi semuanya.
__ADS_1
Langkah Zayn terhenti saat melihat beberapa orang sedang menurunkan barang dari truk. Di sana ada seorang pria yang meminta para pekerja itu bergegas menurunkan barang karena masih ada satu truk lagi yang akan tiba.
“Mungkin aku bisa bekerja di sana,” gumam Zayn.
Sering berolahraga dan memiliki tubuh yang tidak terlalu kurus, Zayn berpikir jika tenaganya cukup untuk menjadi seorang kuli panggul.
Dia pun memberanikan diri mendekat, lantas menyapa pria tua yang sedang memberikan instruksi ke para pekerja.
“Maaf, apa Anda membutuhkan pekerja lagi untuk membantu?” tanya Zayn sopan.
Pria itu menatap Zayn, memperhatikan wajah dan penampilan suami Lusy itu.
“Sebenarnya aku kekurangan pekerja karena beberapa di antaranya tidak berangkat. Tapi apa kamu yakin mau bekerja sebagai kuli panggul?” tanya pria itu menatap Zayn dengan rasa ragu.
Zayn mengangguk, kemudian menjawab, “Saya bisa, saya sangat membutuhkan pekerjaan agar bisa menghasilkan uang untuk diberikan ke istri saya.”
Pria itu mengamati Zayn, hingga merasa kagum karena penampilan Zayn yang lebih layak kerja di kantoran, mau bekerja sebagai kuli panggul di sana.
“Baiklah, tapi aku tidak bisa memberikan gaji dalam jumlah besar. Apa yang aku berikan, disesuaikan dengan seberapa banyak yang kamu kerjakan,” kata pria itu.
__ADS_1
Zayn tersenyum lebar, lantas mengangguk tanda setuju. Baginya tidak masalah berapapun uang yang dihasilkan, yang terpenting baginya pulang dengan hasil.
Zayn meletakkan jas di kursi kayu yang terdapat di sana, lantas menggulung kedua ujung lengan kemeja setinggi siku. Dia pun mulai menjadi kuli panggul demi rupiah yang harus didapatkannya.