Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Tamu di pagi hari


__ADS_3

Lusy membuka kelopak mata, menatap wajah damai yang kini ada di hadapan. Dia melihat wajah tampan yang kini akan menghiasi paginya, wajah yang akan selalu ada untuk memberikan semangat menyambut hari yang harus dijalani.


“Pagi,” sapa Lusy ketika melihat Zayn menggerakkan kelopak mata.


Menikah, tidak pernah ada dalam daftar hidupnya setelah Max menghancurkan hidupnya. Lusy selalu merasa pesimis jika tidak akan ada yang mau menikahinya karena punya anak di luar nikah. Namun, siapa sangka jika pria yang ada di hadapannya sekarang ini, mencintainya tanpa syarat, memberikan kasih sayang serta kepercayaan agar dirinya mau menjalin sebuah hubungan.


Zayn tersenyum mendengar suara Lusy yang menyapa, dia berusaha agar kelopak matanya bisa terbuka sempurna.


“Pagi,” sapa balik Zayn. Diusapnya wajah Lusy, senyum tidak pernah hilang dari bibir Zayn saat bisa melihat wanita itu di setiap paginya.


Zayn tidak menyangka jika hubungan percintaannya akan secepat ini, jatuh cinta, mengungkapkan perasaan, dan kini status berubah menjadi seorang suami. Semua itu bagai mimpi untuk Zayn yang pernah patah hati. Dia sendiri masih tidak tahu, kenapa sangat mencintai Lusy yang bagi semua orang tidaklah sempurna. Wanita yang dipandang sebelah mata oleh orang lain, tampak sempurna di mata Zayn.


“Bangunlah, aku akan membuat sarapan sebelum ke butik,” kata Lusy sambil bangkit dari posisi berbaringnya.

__ADS_1


Namun, gerakan Lusy terhenti saat Zayn menggenggam tangannya, membuat Lusy menoleh dan lagi-lagi melihat senyum di wajah pria yang kini menjadi suaminya itu.


“Tunggu, biar aku memelukmu sejenak,” ucap Zayn sambil menarik tangan Lusy, hingga tubuh istrinya itu jatuh ke pelukan.


Lusy cukup terkejut dengan yang dilakukan Zayn, tapi kemudian mengulas senyum saat merasakan hangat pelukan pria itu.


Zayn memeluk sambil menenggelamkan wajah di ceruk leher Lusy, rasanya tidak ingin melepas agar tidak pernah kehilangan istrinya itu.


“Zayn, aku harus membuat sarapan,” ucap Lusy.


“Tapi aku masih ingin bersamamu di sini,” balas Zayn mengabaikan ucapan Lusy.


Lusy akhirnya diam dan membiarkan Zayn memeluknya, hingga dia merasakan suaminya itu mencium pipi sebelum kemudian membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


Kini mereka saling berhadapan, menatap satu sama lain dengan senyum kecil di wajah. Zayn mengecup kening Lusy, berpindah ke kedua kelopak mata dan hidung. Hingga Zayn mendekatkan bibir mereka untuk menautkan, sampai tiba-tiba terdengar suara bel dari luar.


Lusy sudah memejamkan mata ketika Zayn hendak menyentuhkan bibir mereka, lantas membuka kelopak mata lagi dan saling tatap dengan Zayn.


“Siapa yang bertamu pagi-pagi?” tanya Zayn.


“Entah, tapi tidak mungkin Joya,” jawab Lusy sambil mengerjapkan kelopak mata berulang kali.


Zayn pun memilih bangun begitu juga Lusy karena suara bel itu tidak mau berhenti.


“Biar aku yang buka, kamu tunggu di sini,” ucap Zayn meminta Lusy tidak ke depan.


Zayn takut jika sang mama yang datang dengan amarah karena pernikahannya yang tanpa meminta restu. Dia tidak ingin jika sampai Lusy kembali menjadi korban kemarahan Farah.

__ADS_1


Zayn membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, hingga betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang ke apartemennya.


Lusy melongok ke arah pintu, penasaran siapa yang datang sepagi ini. Hingga Lusy ikut melebarkan bola mata saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapan Zayn, saat suaminya itu membuka pintu.


__ADS_2