
“Kenapa banyak gaun di sini?”
Zayn melongo melihat banyaknya gaun yang tergantung di kamar, dia ingat jika Lusy tidak memiliki gaun-gaun seperti itu.
Zayn baru saja pulang bekerja, kini harus dibuat keheranan karena kamarnya penuh dengan gaun yang belum dimasukkan ke lemari. Dia menoleh ke Lusy yang duduk di tepian ranjang, istrinya itu duduk sambil menatap gaun-gaun itu.
“Kamu yang pesan?” tanya Zayn sambil menunjuk ke gaun-gaun yang tergantung.
Lusy menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Mama yang pesenin, satu truk besar dari salah satu toko di mall tadi datang bersama dengan karyawan tokonya, mereka mengeluarkan banyak gaun, bukan hanya puluhan mungkin ratusan. Mama memintaku memilih gaun yang cocok untuk acara makan malam nanti, tapi malah yang diberikan dua lusin gaun.”
Kedua pundak Lusy melorot setelah menceritakan yang terjadi, padahal dia bisa memilih salah satu gaun di butiknya, tapi Farah bersikeras jika yang akan membelikan gaun untuk Lusy.
Zayn terperangah mendengar cerita Lusy, tidak menyangka jika sang mama akan bertindak sampai seekstrim ini. Dia tahu kalau sang mama memang memiliki langganan toko yang bersedia datang ke rumah untuk menawarkan produk terbaru yang dimiliki, tapi tidak menyangka jika kini meminta pihak toko mendatangkan semua produk agar Lusy bisa memilih.
__ADS_1
“Hanya baju saja, ‘kan?” tanya Zayn masih memaklumi tindakan sang mama.
“Siapa bilang?” Lusy menegakkan pundaknya lagi. “Tuh apa?” Lusy menunjuk ke sofa yang tertutup gaun yang tergantung.
Zayn berjalan ke arah sofa, hingga semakin tidak percaya dengan yang dilihat. Sepatu, perhiasan, tas, bahkan beberapa aksesoris pun ada di sana.
“Kita mau makan malam, bukan menghadiri pestanya presiden. Kenapa Mama harus memberikan semuanya, padahal satu pcs setiap barang saja sudah cukup,” ujar Lusy. Sungguh dia tidak mengerti dengan pemikiran Farah.
Zayn menggaruk kepala tidak gatal, lantas membalikkan badan dan menatap Lusy.
“Ya sudah, terima saja.” Zayn bicara sambil mendekat ke Lusy lantas duduk di samping istrinya itu.
“Mungkin ini bukti kalau Mama sudah menerimamu seratus persen. Dia berinisiatif menyiapkan pesta pernikahan kita, membelikanmu baju, itu menandakan jika Mama benar-benar menerima pernikahan kit,” ujar Zayn mencoba berpikir positif dengan apa yang dilakukan Farah.
__ADS_1
Lusy tetap saja merasa semuanya berlebihan. Dia pernah hidup senang, tapi juga pernah hidup susah. Saat dia kekurangan, saat itu dia begitu menghargai apa yang dimiliki. Kini terlalu sayang jika setiap uang yang didapat, dihamburkan dengan mudah hanya untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
“Aku hanya merasa ini adalah pemborosan,” ucap Lusy.
“Biarkan Mama boros buat menantunya, daripada dia boros untuk calon menantu orang gimana?” tanya Zayn dengan nada candaan.
Lusy mencebik mendengar candaan Zayn, bisa-bisanya suaminya malah bersikap tidak serius.
“Kamu ini paling bisa membuat alasan,” protes Lusy.
“Ya, ini semua agar kamu juga tidak terlalu banyak berpikir. Jadi, tolong anggap saja Mama memang menyayangimu dan ingin yang terbaik untukmu,” ujar Zayn sambil merangkul pundak Lusy dan merapatkan tubuh mereka.
Lusy menyandarkan kepala di pundak Zayn, tatapannya tertuju ke gaun-gaun yang entah kapan akan mendapat jatah giliran untuk dipakai, tidak mungkin kalau dia memakainya setiap hari, tidak akan sesuai dengan style-nya.
__ADS_1