Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Perebut bini orang?


__ADS_3

“Dia anak saudara Kakak? Kenapa Cheryl lucu sekali.”


Setelah selesai berbelanja, mereka duduk di sebuah coffee shop untuk beristirahat. Mereka sedang menikmati kopi dan camilan, sampai tiba-tiba Zahra melontarkan pertanyaan itu.


Zayn berpikir jika Zahra sudah paham jika Cheryl adalah anak Lusy, karena sejak tadi adiknya itu tidak banyak bicara dan fokus menggendong balita berumur tiga tahun itu.


“Dia putriku, Za.” Lusy menjawab pertanyaan Zahra tanpa rasa malu atau kikuk. Cheryl memang putrinya dan dia harus dengan bangga mengakui.


Zahra cukup terkejut mendengar jawaban Lusy, hingga kemudian menatap sang kakak seolah dari pancaran matanya tersirat sebuah pertanyaan ‘apakah itu benar.’


Zayn mengangguk seolah tahu jika Zahra meminta sebuah kepastian dari jawaban yang dilontarkan Lusy.


Zahra semakin penasaran, berpikir jika Lusy janda anak satu. Namun, mengingat pesan sang kakak jika tidak boleh membahas tentang masa lalu Lusy, membuat Zahra tidak bertanya lagi. Dia tidak ingin menyinggung perasaan calon kakak iparnya.


Lusy sadar jika Zahra pasti sangat terkejut, tapi dirinya juga tidak bisa menyembunyikan fakta itu, atau dirinya akan dianggap tidak mau mengakui keberadaan Cheryl.


“Pantas saja, mamanya saja cantik, apalagi anaknya. Uluh … Cheryl cantik dan menggemaskan.” Zahra mencoba memecah rasa canggung dengan bicara ke Cheryl.


Lusy tersenyum mendengar ucapan Zahra, menilai jika adik Zayn itu sangat menjaga perasaannya dengan tidak bertanya lebih lanjut akan statusnya.


**


Setelah berbelanja dan mengantar Lusy ke apartemen. Zayn memilih pulang bersama Zahra karena mereka memang tidak ke perusahaan.


“Kak Lusy bercerai dari suaminya, makanya kini Kakak mengejarnya?” tanya Zahra saat mereka berada di mobil menuju rumah.

__ADS_1


“Tidak,” jawab Zayn singkat, tanpa menoleh Zahra.


Zahra terkejut hingga membulatkan bola mata lebar, ditatapnya sang kakak yang sedang fokus menyetir.


“Kakak! Jangan bilang dia di sini karena Kakak mengajaknya kabur dari suaminya, hanya karena Kakak menyukainya. Jangan suka ke istri orang, Kak! Dosa!” Zahra begitu terkejut dan panik jika apa yang diucapkannya itu benar.


Jangan sampai kakaknya menjadi perebut bini orang.


Zayn meledakkan tawa mendengar ucapan Zahra, hingga dia mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambut Zahra.


“Kakak! Jangan bercanda!” Zahra kesal karena Zayn malah tertawa, membuatnya beranggapan jika itu benar.


“Semua tuduhanmu tidak benar, Za.” Zayn menoleh sekilas ke sang adik, melihat betapa paniknya wajah adiknya itu.


“Lalu?” Zahra benar-benar penasaran dan harus mendapatkan jawaban.


“Ada apa? Kenapa Kakak membuatku takut?” Zahra menatap Zayn dengan rasa aneh.


Zayn tidak tahu kenapa dirinya ingin jujur ke Zahra. Namun, satu hal yang diinginkannya, dia ingin jujur ke Zahra karena merasa hanya adiknya itu yang akan paham dengan perasaannya.


“Jika aku cerita, apa kamu akan janji untuk merahasiakan ini dari Mama dan Papa dulu?” tanya Zayn sebelum bercerita.


“Tergantung, apakah itu benar dan salah. Kalau salah, aku akan bicara ke mereka,” jawab Zahra dengan mata menyipit.


Zayn menghela napas kasar, lantas mulai bercerita. Dia menceritakan semuanya tentang Lusy, berharap Zahra akan paham dan mendukung dirinya.

__ADS_1


“Astaga!” Zahra sangat terkejut mendengar cerita sang kakak, sampai-sampai menutup permukaan bibirnya.


“Aku tidak pernah memandang status dan masa lalunya, Za. Hanya saja aku mempertahankan perasaan yang muncul saat melihatnya. Entahlah, aku hanya bisa bicara ini kepadamu. Aku belum siap bicara ke Mama dan Papa.”


Zahra mendengarkan cerita sang kakak dan juga melihat kecemasan di tatapan kakaknya itu.


“Kakak tenang saja, asal Kak Lusy bisa membuat Kakak bahagia, aku akan mendukung semua keputusan Kakak,” ucap Zahra penuh keyakinan.


Zayn tersenyum, kemudian mengusap pucuk kepala Zahra dengan lembut.


“Terima kasih, hanya kamu yang mengerti keinginanku,” ucap Zayn.


“Cih … jangan sok manis, kenapa aku merinding.” Zahra mengedikkan bahu saat mendengar ucapan Zayn, membuat sang kakak tertawa terpingkal.


**


Mobil Zayn masuk garasi. Zahra dan Zayn turun bersama dan berjalan masuk rumah. Hingga langkah keduanya terhenti ketika melihat siapa yang duduk di ruang tamu.


“Kamu sudah pulang, kemarilah!” Farah meminta Zayn untuk duduk bersamanya.


Zahra menatap sang kakak, tahu jika Zayn tidak menyukai keputusan sang mama yang ingin menjodohkan.


Di samping Farah, ada Meghan yang mengulas senyum ke arah Zayn. Dia datang ke sana karena permintaan Farah.


“Ada apa, Zayn? Duduklah sini sayang!” Sekali lagi Farah meminta Zayn duduk.

__ADS_1


“Ma, kita perlu bicara sebentar.”


__ADS_2