
Zayn dan yang lainnya pergi ke acara makan malam keluarga yang biasa diadakan setiap sebulan sekali. Jika biasanya Zayn akan terlihat sendiri dan ditawari untuk kencan buta, tapi malam ini dia sangat bangga karena bisa membawa Lusy ke sana.
“Oh, jadi itu ya yang dinikahi Zayn. Pantas saja punya anak tanpa suami,” bisik salah satu bibi Zayn.
“Benar, ga cantik-cantik amat. Cantikan juga wanita lokal,” timpal bibi yang lain.
Zayn sudah menduga jika Lusy pasti akan dijadikan bahan pembicaraan, tapi dia pun sudah mengingatkan Lusy jika mungkin bibi-bibinya akan membicarakan sesuatu yang tidak enak didengar.
“Hai, Lu.” Sandra—istri sepupu Zayn, menyapa Lusy. Mereka bertemu saat Sandra menikah dengan Farzan.
“Halo.” Lusy membalas sapaan wanita yang tersenyum ramah itu.
Sandra mengajak Lusy duduk di sebelahnya. Mereka pun makan malam bersama. Namun, malam itu terkesan begitu tegang saat pembicaraan di tengah makan malam terjadi. Untungnya kali ini bukan Lusy yang menjadi korban, tapi Sandra karena wanita itu datang terlambat datang dan dianggap tidak sopan. Belum lagi bibi Zayn secara terang-terangan mengatakan kalau Sandra hanya pura-pura sibuk, belum lagi Sandra tiba-tiba mual, membuat bibi Zayn semakin menjadi-jadi mencibir.
Hingga akhirnya terjadi perdebatan antara mertua Sandra dengan saudaranya, mereka tidak mau mengalah karena tentunya mertua Sandra pun lebih membela menantunya, sampai akhirnya Farzan meminta izin untuk pulang karena kondisi istrinya sedang tidak baik-baik saja, disusul oleh kedua orangtuanya yang juga pergi.
Zayn terkejut karena makan malam berakhir ricuh, menoleh Lusy yang kebingungan karena terjadi perseteruan di keluarga Zayn. Hingga Zayn cemas jika sang istri menjadi sasaran berikutnya, membuat pria itu pun berdiri sambil menarik tangan Lusy.
__ADS_1
“Aku juga pamit dulu, ada keperluan mendadak,” ucap Zayn pamit kepada seluruh anggota keluarga.
Lusy kebingungan, kenapa Zayn mengajaknya pergi. Farah pun terkejut, tapi sepertinya bisa menangkap maksud dari tindakan Zayn.
Begitu Zayn dan Lusy pergi, para orang tua di meja makan itu pun mulai mengkritik tindakan dua pria di dalam keluarga mereka itu.
“Sepertinya anak muda sekarang memang tidak sopan-sopan, pergi meninggalkan keluarga ketika makan malam saja belum usai,” protes saudara Farah yang kini menjadi tuan rumah.
“Kalau sebuah kesalahan kecil tidak kamu jadikan pembahasan saat makan malam, tentunya mereka tidak akan bersikap demikian. Kamu terlalu mengkritik dengan keras istri Farzan, padahal wanita itu baik,” ujar Farah membela istri keponakannya.
Bibi Zayn langsung menggerakkan bibir ke kanan dan kiri seolah menghina ucapan Farah.
“Zayn takut kalian mengincar istrinya sebagai bahan gosip,” jawab Farah santai.
Saat kedua wanita itu terdeteksi akan beragumen, para suami sudah was-was memantau keduanya.
“Siapa yang bergosip? Lagian apa yang dibicarakan juga fakta. Farzan menikahi janda miskin anak satu, Zayn menikahi wanita beranak tanpa suami, apa itu gosip? Itu fakta.”
__ADS_1
Farah langsung melotot mendengar ucapan kakak keduanya, tidak menyangka akan membahas Lusy dan mengatai wanita beranak tanpa suami.
“Jaga mulutmu! Kamu ini memang tidak tahu diri!” amuk Farah ke sang kakak. Tadi sang kakak yang disinggung, sekarang dirinya yang disinggung.
“Lho, fakta tetap fakta, ngapain ngamuk! Benarkan kalau Zayn menikahi wanita dengan pergaulan bebas, sampai punya anak pun tidak tahu siapa bapaknya.” Kakak Farah itu semakin menjadi-jadi membeberkan status Lusy.
Semua orang di sana diam mendengarkan perdebatan itu, mereka hanya memandang ke sana-sini bergantian saat keduanya berdebat.
Farah sangat emosi, hingga menggebrak meja begitu keras dan membuat air yang ada di gelas tumpah, bahkan sup di mangkuk pun tumpah.
“Jaga mulutmu! Kalau tidak tahu apa-apa, jangan bicara sembarangan! Jangan mentang-mentang kamu kakakku, lalu aku akan diam saja ya!” amuk Farah memperlihatkan taringnya.
Semua orang melongo melihat Farah mengamuk, biasanya wanita itu paling tenang dan sering memberi nasihat, tapi kini Farah benar-benar murka.
“Dia menantuku, mau sejelek apa pun dia itu urusanku! Kamu tidak usah menjelekkan atau mencampuri urusan masa lalunya! Biar itu jadi urusan keluarga kami!” Setelah mengucapkan kalimat itu, Farah meraih tasnya.
“Pulang, Pa! Ga sudi aku di sini!” Farah mengajak suaminya, lantas pergi meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Ikram sampai terheran-heran, tapi kemudian memilih mengikuti saja ajakan istrinya.
“Mereka ini, sudah tahu anak mereka berdua nikah sama wanita ga bener, masih saja sok melindungi!” gerutu bibi Zayn.