Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Meminta bantuan


__ADS_3

Lusy memandang Zayn yang sedang mengompres lebam di pipi, dirinya merasa tak enak hati karena telah membuat pemuda itu terlibat dalam masalahnya.


“Maaf, karenaku kamu terluka,” ucap Lusy sambil memandang Zayn, sedangkan Cheryl tampak berlarian di halaman.


Zayn berhenti mengompres pipi, kemudian memandang Lusy dengan senyum kecil di wajah.


“Tidak masalah,” balas Zayn. “Bagaimana aku bisa membiarkan seorang pria menganiaya wanita?” Zayn menatap lekat wajah Lusy.


Lusy mengalihkan pandangan saat Zayn menatapnya, kemudian memilih memandang Cheryl yang sedang bermain.


Lusy mengambil salep lebam yang memang disediakannya di rumah, itu hanya untuk berjaga-jaga jika saja Cheryl main dan terjatuh kemudian luka.


“Biar aku bantu obati,” ucap Lusy sambil sedikit mendekat. Dia mengulurkan tangan dan telunjuknya mulai menyentuh lembut luka di pipi Zayn.


Zayn menatap Lusy yang tampak begitu memperhatikan dirinya, jantungnya berdegup dengan cepat saat menatap wanita itu dalam jarak yang sangat dekat.


“Sudah.” Lusy sejak tadi fokus ke luka Zayn, hingga tidak sadar jika pemuda itu sebenarnya sejak tadi menatapnya.


Zayn berdeham saat Lusy menatap matanya, hingga kemudian mengalihkan pandangan karena merasa gugup.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Zayn.


Lusy mengangguk, kemudian merapikan kotak obat yang ada di meja.


“Apa dia terus menemuimu semenjak kamu pulang ke sini?” tanya Zayn penasaran. Merasa tidak ada bahan lain untuk dibicarakan.


“Ya,” jawab Lusy kini kembali menatap Zayn. “Tampaknya dia tidak akan berhenti untuk datang dan mengambil Cheryl. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghindar darinya,” imbuhnya dengan sebuah helaan napas kasar.


“Kenapa tidak ikut Joya saja?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Zayn, tidak mungkin juga dirinya berkata untuk ikut dengannya.


Lusy terkejut mendengar pertanyaan Zayn, kemudian tersenyum masam.


Zayn terdiam, andai bisa dirinya ingin membawa wanita itu pergi dari sana agar tidak diganggu Max. Namun, Zayn pun berpikir, siapa dirinya yang baru sehari bisa dekat dengan wanita itu.


**


Zayn duduk di kamar hotel yang disewanya. Melihat bagaimana Lusy kembali diganggu oleh pria yang tak bertanggung jawab itu, membuat Zayn geram dan ingin sekali membawa kabur wanita itu dari kota kecil itu.


“Apa aku hubungi Joya saja? Dia pasti bisa membujuk Lusy untuk pergi dari sini.”

__ADS_1


Zayn merasa itu adalah ide yang sangat bagus. Dia lantas mendial nomor Joya untuk meminta temannya itu membujuk Lusy agar mau pergi ke Indonesia.


“Halo, Joy.”


“Ada apa, Zayn?” tanya Joya dari seberang panggilan.


“Joy, apa kamu tahu kalau Lusy di sini terus didatangi Max?” Zayn to the point dengan maksud menghubungi Joya.


“Apa?” Joya terdengar begitu terkejut. “Aku tidak tahu, semenjak Lusy, dia pergi tidak pernah menghubungiku,” ucap Joya dari seberang panggilan.


“Joy, apa kamu bisa bujuk dia? Minta dia ikut denganmu. Aku merasa dia tidak aman di sini, terutama Cheryl. Pria itu tadi datang dan langsung ingin merebut Cheryl serta mengancam Lusy, apa kamu rela jika Cheryl tiba-tiba dibawa pria itu?” tanya Zayn sambil memberikan alasan agar Joya mau membantu membujuk Lusy.


“Aku nggak rela Cheryl dibawa Max, enak saja dia! Aku yang sudah besarkan sejak pria itu tidak mau mengakui, bagaimana bisa sekarang dia mau ngambil begitu saja. Tidak akan aku biarkan! Kamu tenang saja Zayn, aku akan datang sendiri ke sana buat bujuk Lusy agar mau ikut denganku!”


Suara Joya meledak-ledak dari seberang panggilan, padahal wanita itu tengah hamil. Mungkin karena Joya yang tahu bagaimana perjuangan Lusy selama ini, sehingga tak rela jika Max seenaknya mengambil Cheryl.


“Ya, Joy. Terima kasih.”


Zayn mengulas senyum, senang karena setidaknya akan lebih dekat dengan Lusy jika wanita itu tinggal di Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2