
“Jika aku minta hadiah bayi, apa kamu bersedia hamil lagi?” tanya Zayn saat sedang berdansa dengan Lusy.
Lusy menghentikan langkah mendengar pertanyaan Zayn, membuat suaminya juga ikut berhenti melangkah lantas sedikit memundurkan tubuh untuk bisa saling pandang.
Terlihat jelas keraguan dalam tatapan Lusy, meski status dirinya dan Zayn sudah snagat jelas, tapi tetap saja hal itu membuat Lusy masih ragu.
“Entahlah, Zayn. Aku hanya takut,” ucap Lusy lirih di akhir kalimat.
Zayn mengusap lembut wajah Lusy, dia sendiri tidak memaksa, hanya ingin memastikan. Bertanya sebelum meminta, agar istrinya tidak terkejut atau merasa tertekan.
“Aku hanya bertanya, jangan dimasukkan ke dalam hati,” ucap Zayn lantas memeluk Lusy.
Lusy terdiam dalam pelukan suaminya, sepertinya dia sudah menghancurkan mood suaminya itu.
“Maaf, aku hanya masih takut,” ucap Lusy dalam pelukan.
“Tidak masalah,” jawab Zayn. Hingga Zayn tiba-tiba memiliki pikiran setelah mendengar ucapan Lusy.
“Lu, kamu tidak minum pil kontrasepsi, ‘kan?” tanya Zayn, takut jika Lusy sengaja meminum pil itu agar tidak hamil karena masih trauma.
__ADS_1
Lusy menggelengkan dalam pelukan.
“Tidak, sejak kamu melarangnya, aku benar-benar tidak meninumnya,” jawab Lusy.
Zayn lega karena Lusy tidak meminum pil itu. Dia tahu resiko kebanyakan minum pil itu.
“Andai Tuhan memberikan kita satu, apa kamu akan menolaknya?” tanya Zayn kemudian masih seputar tentang bayi.
Lusy hanya diam mendengar pertanyaan Zayn, dia sendiri masih ragu dan tidak yakin apakah bisa menerima jika kembali hamil. Lusy benar-benar masih trauma jika ingat akan hamil, kehamilan pertamanya yang menorehkan luka begitu dalam, membuat Lusy sama sekali tidak berniat untuk hamil lagi.
Namun, demi suaminya, pria yang sangat baik dan berharap banyak kepadanya, membuat Lusy akhirnya mencoba menuruti keinginan Zayn. Dia pun mengangguk-angguk untuk menjawab pertanyaan itu.
Zayn senang karena Lusy mau, jika memang Tuhan berkehendak. Kini tinggal mereka saja yang berusaha.
Lusy mengangkat wajah dari dada Zayn saat mendengar suaminya memanggil.
“Aku sangat mencintaimu dan akan selalu menjagamu. Tolong jangan cemaskan apa pun,” ucap Zayn dan langsung mendapatkan balasan sebuah anggukan dari Lusy.
Zayn pun menyentuhkan permukaan bibir mereka, menautkan begitu dalam agar tidak terlepas. Lusy memejamkan mata, kedua tangan memeluk tubuh hangat pria yang membuatnya jatuh cinta dan merasa begitu berarti.
__ADS_1
Zayn terus menekan tengkuk Lusy, membiarkan mereka larut akan ciuman yang semakin memanas. Hingga satu tangan meraih resleting dan mulai menurunkan perlahan.
Zayn membuat Lusy meninggalkan gaunnya, menyisakan penutup tubuh bagian atas dan bawah. Hingga dia melepas pagutan bibir mereka, meraup tubuh sang istri dan membawanya ke kamar serta membaringkan dengan perlahan.
Wajah Lusy sudah bersemu merah, belum lagi saat sang suami menanggalkan semua pakaian. Berhubungan dengan status sebuah pernikahan, terkadang masih tidak bisa dipercaya Lusy dan baginya pernikahan itu seperti mimpi.
“Kenapa termangu?” tanya Zayn yang mengukung tubuh Lusy, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri.
“Tidak ada,” jawab Lusy.
“Kamu bohong, wajahmu memerah. Kamu malu? Padahal ini bukan yang pertama.” Goda Zayn saat menyadari betapa merahnya wajah sang istri.
Wajah Lusy semakin merah karena ucapan Zayn, kenapa pria itu suka sekali menggodanya sebelum mereka bercinta.
“Jangan menggodaku, atau aku akan meninggalkanmu,” ucap Lusy untuk membalas godaan Zayn.
Zayn terkekeh, lantas kembali membelai rambut Lusy.
“Aku tahu permintaanku berat untukmu. Tapi tidak ada salahnya berusaha, siapa tahu Tuhan berbaik hati mengabulkan, lalu bersamaan itu menghilangkan rasa traumamu. Pegang janjiku, Lu. Jika aku meninggalkanmu, maka aku akan mati lebih cepat dari seharusnya,” ucap Zayn mencoba meyakinkan Lusy.
__ADS_1
Lusy sangat terkejut mendengar ucapan Zayn, hingga menyentuhkan telunjuk di permukaan bibir suaminya agar berhenti bicara tentang kematian.
“Jika kamu mati muda, aku akan langsung cari suami baru yang lebih muda,” seloroh Lusy dengan tawa kecil.