
Zayn tetap pada keyakinannya jika tidak akan kembali ke perusahaan, meski dia mau pulang hanya karena permintaan Lusy saja.
Siang itu Zayn tampak sibuk karena kafe yang ramai dan meningkatnya pengunjung yang datang ke sana.
“Silakan pesanannya, apa ada yang lain?” tanya Zayn ketika selesai menyajikan pesanan pelanggan.
“Tidak ada, terima kasih.”
Zayn mengulas senyum, kemudian pamit untuk melayani pengunjung lain.
Setelah memastikan semua pengunjung mendapatkan pelayanan serta pesanan yang diinginkan, Zayn pergi ke belakang meja bartender, kemudian merogoh ponsel dan mengecek apakah Lusy mengirim pesan untuknya.
“Ada apa?” tanya teman Zayn saat melihat Zayn gelisah.
“Istriku sedang sakit, jadi aku pikir mungkin saja dia menghubungi karena membutuhkan sesuatu,” jawab Zayn dengan senyum canggung di wajah.
“Kalau istrimu sakit, coba dihubungi saja dulu, siapa tahu dia juga membutuhkan sesuatu tapi takut mengganggu kerjaanmu,” kata teman kerja Zayn.
Zayn tampak berpikir, lantas memandang ke para pengunjung yang sedang menikmati hidangan.
“Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar?” tanya Zayn memastikan, tidak enak jika harus meninggalkan temannya.
“Santai saja, lagi pula semuanya sudah dilayani, kamu jangan cemas.”
Akhirnya Zayn pamit ke belakang untuk menghubungi Lusy, bukan cemas jika istrinya itu membutuhkan sesuatu, tapi cemas jika sampai Farah berbuat jahat ke istrinya. Zayn benar-benar belum bisa percaya dengan perubahan yang terjadi.
__ADS_1
Lusy sendiri berada di kamar, dia merasa bosan dan ingin sekali ke butik. Namun, Zayn sudah memperingatkan agar Lusy beristirahat selama beberapa hari sampai lukanya benar-benar sembuh, membuat Lusy akhirnya memilih mengikuti ucapan suaminya.
Saat Lusy sedang berbalas pesan dengan Vira untuk menanyakan keadaan butik, terdapat panggilan masuk dari Zayn dan membuat Lusy langsung mengembangkan senyum.
“Halo, Zayn.” Lusy buru-buru menjawab panggilan itu.
“Hei, sedang apa?” tanya Zayn dari seberang panggilan.
“Aku di kamar,” jawab Lusy, “apa kamu tidak kerja?” tanya Lusy kemudian.
“Kafe lumayan ramai, tapi semua pengunjung sudah dilayani,” jawab Zayn, “aku menelepon karena mencemaskanmu,” imbuhnya.
Lusy paham akan maksud suaminya itu, hingga kemudian berkata, “Kamu jangan cemas, aku baik-baik saja di sini. Jika kamu takut mamamu menyakitiku, kamu benar-benar jangan mencemaskan hal itu. Mamamu tidak melakukan hal yang kamu takutkan, Zayn. Dia benar-benar baik kepadaku.”
Meski Lusy belum bertemu Farah semenjak Zayn berangkat kerja, tapi Lusy berusaha membuat perasaan Zayn tenang dengan sedikit berbohong ke suaminya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan kembali bekerja. Jika ada apa-apa, tolong segera hubungi aku,” ucap Zayn sebelum mengakhiri panggilan itu.
Di kamar, Lusy mengangguk dan meminta Zayn berhati-hati dalam bekerja, dia juga kembali berpesan agar Zayn tidak mencemaskan soal Farah karena Lusy yakin kalau wanita itu sudah berubah.
Di sisi lain, ternyata Farah berdiri di depan pintu sambil memegang nampan berisi jus dan piring berisi potongan buah. Farah sadar, jika ingin memperbaiki hubungannya dengan Zayn, maka dia harus memperbaiki hubungannya dengan Lusy terlebih dahulu. Namun, siapa sangka Farah benar-benar mendengar kalau Lusy membela dirinya, bukan hanya sekadar janji yang pernah diucapkan wanita itu kepadanya.
Farah cukup tersentuh karena Lusy tidak menjelekkan dirinya ketika bicara berdua dengan Zayn, membuatnya merasa lega karena keputusannya untuk merestui hubungan keduanya bukanlah sebuah kesalahan.
“Apa aku mengganggu?” Farah membuka pintu setelah mengetuk sebelumnya.
__ADS_1
Lusy baru saja selesai menerima panggilan dari Zayn, lantas mengangguk dan membiarkan Farah masuk.
“Ini ada jus dan buah, mungkin kamu butuh sesuatu yang segar,” kata Farah sambil meletakkan nampan yang dibawa ke meja.
“Terima kasih,” ucap Lusy merasa sedikit canggung.
Farah duduk berhadapan dengan Lusy, keduanya terlihat canggung satu sama lain.
“Terima kasih,” ucap Farah tiba-tiba.
Lusy langsung menatap wanita itu karena berterima kasih kepadanya.
“Kenapa Anda berterima kasih?” tanya Lusy bingung.
“Karena kamu benar-benar membujuk Zayn untuk mau kembali di sini,” jawab Farah.
Lusy tersenyum mendengar jawaban Farah, hingga kemudian berkata, “Saya sudah berjanji jika akan membantu sebisa saya, jadi Anda tidak perlu berterima kasih.”
Farah mengangguk-angguk, kemudian menatap Lusy yang terlihat kikuk bicara dengannya. Farah berpikir jika mungkin saja Lusy merasa takut karena dia sendiri pernah berbuat kasar ke istri putranya itu.
“Kamu tidak perlu bicara formal kepadaku, mungkin sebutan Mama seperti Zayn dan Zahra memanggil, akan lebih nyaman untuk kita saling berkomunikasi.”
Lusy cukup terkejut mendengar ucapan Farah, awalnya mengira jika Farah hanya memanfaatkannya saja, serta dia hanya berusaha membantu ibu dan anak untuk berbaikan. Namun, siapa sangka jika ternyata Farah benar-benar menerima dirinya.
“Maaf, karena pernah berbuat kasar kepadamu. Aku hanya terlalu gengsi, tapi semua itu ternyata malah membuatku menderita karena berjauhan dari anak-anakku. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka, jadi mungkin benar jika aku harus menurunkan egoku demi mempertahankan kalian.”
__ADS_1
Lusy kembali tercengang dengan pengakuan Farah. Kalian, apakah kata itu termasuk dirinya.