
“Zahra!”
Farah semakin emosi ketika mengetahui jika Zahra juga kabur dari rumah. Pagi tadi awalnya mengira jika Zahra hanya pergi untuk pemotretan, tapi siapa sangka jika ternyata Zahra berkata ke pembantu rumah jika dia mau pergi bersama sang kakak.
“Mbak Zahra hanya bilang begitu, Nyonya.” Pembantu itu menunduk saat melihat majikannya tampak emosi.
Farah terduduk di sofa, memijat kening yang terasa sakit.
“Dia bilang apa saja?” tanya Farah, ingin mendengar ulang apa yang dikatakan putrinya sebelum pergi.
“Mbak Zahra hanya bilang, kalau tidak ada Mas Zayn di rumah, dia pun tidak akan di rumah. Dia ga betah, katanya sepi tanpa Mas Zayn.” Pembantu pun menjelaskan apa yang didengar.
“Mereka maunya apa?” Farah begitu geram, kepalanya semakin berdenyut hebat.
Farah buru-buru mengeluarkan ponsel, lantas mencoba menghubungi Zahra tapi tidak dijawab oleh putrinya itu.
“Dasar anak ini! Ke mana dia sampai tidak menjawab panggilanku?” Farah menggerutu karena kesal.
Akhirnya Farah menghubungi orang lain karena pikirannya stres menghadapi dua anaknya yang pergi dari rumah.
“Kamu di mana, apa bisa nemenin Tante?”
“Tentu, Tan. Tante mau ke mana?” Suara Meghan terdengar dari seberang panggilan.
**
Lusy tiba di apartemen lebih dulu, melihat Zayn yang belum pulang, membuat Lusy memilih untuk menyiapkan bahan untuk memasak terlebih dahulu. Tinggal sebulan lebih di sana, membuat Lusy akhirnya bisa sedikit memasak menu makanan Indonesia.
Saat baru saja akan meracik bahan, Lusy mendengar suara pintu terbuka. Dia pun bergegas berjalan menuju pintu, senyum tampak merekah di wajah, hingga senyum itu pudar ketika melihat Zayn yang datang dengan pakaian lusuh.
Jas sudah ditenteng di tangan kiri, kemeja putih bersih itu kini terlihat begitu kotor.
“Zayn, apa yang terjadi?” tanya Lusy sambil menatap penampilan Zayn.
__ADS_1
Zayn mengulas senyum saat mendengar pertanyaan Lusy, hingga menghampiri dan kini berdiri di depan istrinya itu.
“Tidak terjadi apa-apa,” jawab Zayn masih mempertahankan senyumnya.
“Tapi kenapa pakaianmu sampai seperti ini?” tanya Lusy lagi cemas, jangan sampai Zayn menyembunyikan sesuatu darinya.
Zayn melirik ke pundak di mana bagian itu memang sangat kotor, lantas kembali menatap Lusy yang terlihat begitu cemas.
“Aku tadi kerja, lumayanlah langsung mendapat gaji.” Zayn merogoh kantong celana, kemudian mengeluarkan uang yang didapatnya tadi. “Ini, gunakan untuk belanja kebutuhan rumah,” kata Zayn sambil memberikan uang itu ke tangan Lusy.
Lusy memandang uang yang diberikan Zayn ke tangannya, hingga kemudian beralih menatap sang suami yang terus saja mengulas senyum.
“Kamu kerja apa? Kenapa sampai lusuh seperti ini?” tanya Lusy lagi, bahkan bola matanya berkaca-kaca, pikirannya menebak jika suaminya pasti bekerja sangat berat dengan hasil yang tidak seberapa.
“Kerja biasa yang penting bisa menghasilkan uang. Besok malah ditawari lagi buat datang dan kerja lagi, setidaknya setiap hari kita ada pemasukkan,” jawab Zayn yang tidak langsung jujur.
Lusy masih menatap Zayn dengan bola mata berkaca-kaca, sangat yakin jika apa yang dikerjakan Zayn pasti berat.
“Aku mandi dulu,” ucap Zayn mengusap pipi Lusy, sebelum kemudian memilih pergi ke kamar.
**
Saat Zayn mandi, Lusy mengambil pakaian suaminya yang ada di keranjang pakaian kotor. Dia menyentuh dan mengamati bekas kotoran yang menempel di kemeja suaminya itu.
“Tepung?” Lusy mengerutkan alisnya.
“Apa dia bekerja serabutan di gudang sebagai kuli panggul?”
Lusy mencoba menebak, di negaranya juga ada pekerjaan itu tapi tentunya gaji yang didapat lebih terjamin, sedangkan di sini Lusy tidak tahu seberat apa pekerjaan itu karena hasilnya pun tidak seberapa.
Saat Lusy sedang melamun karena memikirkan pekerjaan yang dilakukan Zayn, pria itu keluar dari kamar mandi dan melihat Lusy yang termangu.
“Lu, ada apa?” tanya Zayn saat melihat Lusy berdiri sambil memegang kemejanya yang kotor.
__ADS_1
“Zayn, kenapa pakaianmu ada bekas tepung?” tanya Lusy mencoba memastikan apakah yang ada di pikirannya benar.
Zayn memandang Lusy, sepertinya menutupi masalah pekerjaannya dari istrinya pun tidak akan baik bagi rumah tangga mereka.
Zayn meraih tangan Lusy, lantas mengajak istrinya itu untuk duduk di tepian ranjang.
“Aku melakukan ini demi kita, jadi aku mohon apa pun yang aku kerjakan, jangan jadi beban pikiranmu,” ucap Zayn saat sudah mengajak duduk Lusy.
Lusy hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Zayn.
“Aku sudah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan, tapi semua perusahaan yang aku tahu tidak ada lowongan pekerjaan,” ucap Zayn lagi, tapi dia tidak cerita jika ada campur tangan Farah atas gagalnya dia mencari pekerjaan.
“Saat aku sedang mencari pekerjaan lain, aku melihat orang-orang yang sedang bekerja memindahkan barang dari truk ke gudang, jadi aku pikir mungkin bisa mendapatkan uang dari sana. Bekerja apa pun yang terpenting bisa menghasilkan uang,” ujar Zayn menceritakan apa yang dikerjakan seharian ini.
Lusy langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangan, jadi benar jika Zayn memang bekerja sebagai kuli panggul. Rasa bersalah semakin merayap di dada, gara-gara dirinya Zayn harus menderita seperti itu.
“Maaf, Zayn.” Ucapan itu lolos dari bibir Lusy, matanya menatap nanar ke pria yang kini jadi suaminya.
Zayn terkejut mendengar Lusy meminta maaf, belum lagi saat melihat Lusy yang hampir menangis.
“Hei, kenapa menangis?” Zayn memegang kedua lengan Lusy.
“Gara-gara aku, kamu harus hidup seperti ini. Mungkin benar aku ini pembawa sial untuk siapapun,” ucap Lusy yang benar-benar tidak menyangka jika hidup Zayn akan seperti ini sejak bersamanya.
Zayn tertegun mendengar ucapan Lusy, hingga terlihat raut tidak suka di wajahnya.
“Jangan pernah berkata demikian, Lu. Aku memilihmu bukan karena terpaksa, semua yang aku hadapi saat ini hanyalah sebuah cobaan. Jangan pernah berkata kalau kamu pembawa sial! Aku tidak suka!” Zayn bicara dengan begitu tegas, menatap Lusy tajam untuk memperingatkan agar tidak lagi berkata seperti itu.
Air mata semakin luruh membasahi pipi mendengar ucapan Zayn, hatinya sakit karena rasa bersalah itu benar-benar membelenggunya.
Zayn memeluk Lusy, membawa istrinya itu ke dalam dekapan.
“Jangan bicara seperti itu lagi, oke! Semua keputusan yang aku ambil, bukan semata-mata karena dirimu. Semua itu karena aku merasa jika sanggup melakukannya, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri,” ujar Zayn sambil mengusap punggung Lusy agar istrinya tidak lagi menangis.
__ADS_1
Lusy hanya diam dalam pelukan Zayn, meski sudah mendengar semua ucapan Zayn, tetap saja dia akan terus merasa bersalah.