Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Untuk Kebahagiaan bersama


__ADS_3

“Zayn, apa tidak apa-apa jika kita pergi begitu saja?” Lusy merasa tidak enak hati karena Zayn mengajaknya pergi.


Ini adalah pertemuan pertama Lusy dengan keluarga besar Zayn, Lusy tidak ingin jika dianggap menjadi penyebab Zayn bersikap tidak sopan.


“Ga apa-apa. Mama dan Papa pasti paham dengan apa yang aku lakukan, mereka tidak akan marah. Untuk saudara yang lain, aku tidak peduli dengan penilaian mereka,” jawab Zayn sambil mengemudikan mobil menembus pekatnya malam.


“Apa bibi-bibimu memang begitu? Aku kasihan dengan Sandra, dia sampai terlihat tertekan dan terus menunduk,” ujar Lusy saat melihat dan mendengar kakak sepupu suaminya itu terus diserang dengan banyak brondongan pertanyaan dan sindiran.


“Ya, begitulah mereka. Sebab itu aku buru-buru mengajakmu pergi, aku tidak mau jika sampai mereka mencecarmu juga,” balas Zayn menanggapi ucapan Lusy.


“Jangankan istrinya Farzan atau kamu, aku dan Farzan saja sering menjadi bahan pembicaraan mereka. Namun, aku dan Farzan laki-laki, kami terbiasa mendengar omongan pedas atau sikap kasar. Tapi kamu, aku tidak bisa membiarkanmu mendengar ucapan-ucapan yang tidak enak di hati,” ulas Zayn panjang lebar.


Lusy paham sekarang, tampaknya dia harus memiliki mental sekuat baja untuk menghadapi saudara dari orangtua suaminya.


“Malam ini kita ke apartemen, ya.” Zayn bicara smabil menoleh Lusy.


Lusy mengerutkan alis, kenapa suaminya mengajak ke apartemen.


“Kenapa?” tanya Lusy keheranan.


“Ga kenapa-kenapa, hanya ingin saja,” jawab Zayn santai, bahkan melebarkan senyum.


Lusy menaikkan satu sudut alis, hingga akhirnya pasrah saja dan ikut kemauan suaminya.


**


Farah terus menggerutu saat berada di mobil dalam perjalanan pulang. Dia masih tidak bisa menerima perlakuan dari kakaknya.


“Dia itu berani menyinggung Mbak Nisa, padahal perusahaan suaminya masih bergantung dengan perusahaan Mbak Nisa, sekarang malah berani menyinggungku, apa perlu kita tarik saja modal kita di sana!” geram Farah tidak berhenti mengamuk.


Ikram menghela napas berat, lantas mencoba menenangkan istrinya.


“Tenang dulu, jangan bertindak gegabah. Siapa tahu dia itu hanya khilaf,” ujar Ikram yang tidak ingin ada perseteruan antar adik kakak itu.

__ADS_1


“Gimana bisa tenang sih, Pa. Jelas-jelas dia itu memang biang kerok gosip. Setiap ada berita atau informasi, dia selalu membesar-besarkannya. Itu masalah ngatain Zayn memiliki kelainan, dia juga yang membesarkan. Farzan mau nikah sama janda, dia juga yang ribut. Lalu anak kita nikah sama Lusy, dia juga yang gosipkan. Sebenarnya dia tahu dari mana sih Lusy punya anak tanpa suami?” Farah jadi penasaran dari mana kakaknya itu tahu tentang status Lusy.


Seingatnya, Farah tidak pernah membahas tentang Lusy karena dulu merasa malu Zayn memilih wanita itu. Namun, saat di pernikahan Farzan dan Sandra, kakaknya itu menggosipkan tentang Zayn dan Lusy.


“Nggak mungkin dia menyelidiki sampai Paris,” ujar Farah lagi.


“Mungkin Mama waktu emosi tidak sengaja menyebut Lusy hamil tanpa suami,” ucap Ikram.


Farah menggelengkan kepala, yakin jika tidak pernah mengatakan tentang rahasia itu ke siapapun kecuali satu orang.


“Mana mungkin dia, Pa?” Farah menoleh dan menatap Ikram dengan wajah panik.


“Dia siapa?”


**


Zayn dan Lusy benar-benar kembali ke apartemen, hanya ingin menghabiskan waktu berdua tanpa ada gangguan.


“Di sini tidak ada apa-apa,” kata Lusy saat membuka lemari penyimpanan juga lemari pendingin.


“Aku tadi sudah memesan makanan untuk kita. Aku tahu kamu pasti akan lapar karena di tempat bibi tadi belum sempat makan banyak,” ujar Zayn sambil melepas jas dan meletakkan di sandaran sofa.


Lusy melebarkan senyum, suaminya itu tahu saja kalau dia mencari makanan karena lapar.


Zayn menyalakan televisi, mencari acara yang bagus sambil menunggu pesanannya datang. Lusy sendiri duduk di samping Zayn, masih mengenakan gaun yang membuatnya sedikit kurang nyaman.


“Tidak ada pakaian di sini karena sudah dipindah semua, pakai gaun jadi kurang nyaman,” ujar Lusy saat duduk sambil merapikan bagian bawah gaun.


“Kalau tidak nyaman, lepas saja gaunnya,” ucap Zayn santai.


Lusy langsung melotot, bisa-bisanya Zayn berkata demikian.


“Jadi maksudnya aku disuruh tidak usah pakai baju?” Lusy menyipitkan mata.

__ADS_1


“Bukankah itu bagus, lagian yang lihat juga hanya aku.” Zayn menoleh dengan senyum kecil di wajah, jelas pria itu sebenarnya sedang menggoda istrinya.


Mulut Lusy menganga lebar mendengar ucapan Zayn, hingga kemudian memukul lengan suaminya karena begitu gemas. Zayn sendiri tertawa keras melihat Lusy kesal.


“Ish … jangan aneh-aneh!” Lusy terlalu gemas dengan suaminya.


Awal mengenal Zayn, pria itu terlihat pemalu dan juga selalu bersikap kaku. Namun, siapa sangka jika itu hanya saat Zayn baru akan melakukan pendekatan dan karena takut Lusy menghindar jika dia terlalu agresif. Kenyataannya, beginilah Zayn, pria humoris, ramah, dan memiliki sifat penyayang. Membuat Lusy benar-benar dibuat jatuh cinta dan bisa melupakan traumanya akan pria. Hanya Zayn yang bisa membuka pintu hatinya yang tertutup.


Saat keduanya bercanda, terdengar suara bel beberapa kali. Mereka pun menatap ke arah pintu bersamaan.


“Pasti itu pesanan kita,” kata Zayn kemudian memilih berdiri.


Zayn berjalan menuju pintu depan, sedangkan Lusy mengamati sambil menahan senyumnya.


Zayn mengambil pesanannya dari kurir yang mengantar, lantas kembali masuk untuk menyajikan makanan itu agar bisa segera makan malam berdua bersama sang istri.


“Kamu pesan wine?” Lusy menatap botol wine di atas meja makan, lantas memandang sang suami yang sibuk menatap steak di piring.


“Ya, karena kita akan menghabiskan malam berdua, jadi aku pikir untuk menikmati wine berdua.”


Setelah menyajikan steak di piring, membuka penutup botol wine dan menuangkan isinya di gelas. Zayn menyalakan lilin yang diletakkan di tengah meja, lantas meminta Lusy duduk kemudian dia sendiri meredupkan cahaya di ruang makan, sebelum duduk berhadapan dengan sang istri.


“Makan malam romantis, aku belum pernah memberikan suasana ini kepadamu,” ucap Zayn sambil menatap wajah Lusy yang disinari cahaya lilin.


Lusy mengulum bibir karena malu, wajahnya merona karena perlakuan romantis Zayn.


“Kamu terlalu berlebihan, Zayn.” Lusy benar-benar kikuk dengan segala yang dilakukan suaminya itu.


“Tidak ada sesuatu yang berlebih jika itu untukmu. Bukankah aku sudah pernah berjanji kalau ingin membahagiakanmu, maka mulai saat ini aku benar-benar akan membahagiakanmu.” Zayn mengangkat gelas kaca berisi wine di udara tepat di hadapannya untuk mengajak Lusy bersulang.


Lusy mengambil gelasnya, mengangkat kemudian menyentuhkan gelas mereka hingga terdengar bunyi gelas saling bertemu.


“Demi kebahagianmu,” ucap Zayn.

__ADS_1


“Kebahagiaan kita,” balas Lusy membetulkan ucapan Zayn karena kini mereka hidup bersama, jadi harus bahagia bersama dan bukan hanya Lusy saja.


__ADS_2