
“Bantu aku Rion, tolong bobol kamera Cctv Luxury Hotel. Aku tidak bisa membiarkan seseorang menjahati Lusy,” ucap Zayn ketika menghubungi sahabatnya Arion.
Dia kini berada di mobil dalam perjalanan pulang setelah meyakinkan Lusy jika dirinya akan bertanggung jawab. Zayn bahkan membuang pil pencegah kehamilan yang dibeli Lusy, tidak ingin wanita itu mengonsumsi pil itu.
“Oke, kamu tenang saja. Tidak perlu panik seperti itu, Zayn.” Suara Arion terdengar dari seberang panggilan.
“Baiklah, terima kasih Rion. Aku benar-benar akan memberi pelajaran kepada siapapun yang mencoba mengganggu Lusy,” ujar Zayn, sebelum kemudian mengakhiri panggilan.
Zayn mencengkram erat stir mobil, hingga mengingat ucapan Lusy saat dirinya tanya siapa yang berkata kalau dia dijodohkan dan akan menikah.
Zayn tidak habis pikir, kenapa Farah tega mendatangi Lusy, kemudian mengancam demikian. Tampaknya Farah memang ingin memisahkan mereka, bukan hanya sekadar ancaman jika tidak akan menerima Lusy di keluarga itu.
Mobil Zayn sampai di halaman rumah, langsung memarkirkan serampangan, sebelum kemudian bergegas turun untuk mencari ibunya.
“Dari mana kamu? Semalaman tidak pulang dan sekarang?” Farah memperhatikan penampilan Zayn, melihat putranya itu berpenampilan sedikit berantakan karena pakaian yang agak kusut.
“Ada yang perlu kita bicarakan, Ma.” Zayn menatap sang mama yang berada di ruang makan bersama Zahra dan Ikram.
Zahra menatap sang kakak, melihat emosi dan tekanan dalam tatapan mata kakaknya itu.
“Bicara? Memang kita perlu bicara, Mama ingin tahu maksudmu menggendong wanita di pesta, kemudian kalian menghilang sampai pagi!” bentak Farah kemudian berdiri sambil melempar tatapan tajam ke Zayn.
“Ma, sabar!” Ikram mencoba menenangkan istrinya.
“Papa tidak usah ikut campur, biar aku yang mendidik dan meluruskan jalan putra kita!” Farah menoleh Ikram sejenak, kemudian kembali menatap Zayn.
Zayn begitu terkejut mendengar bentakkan Farah, dari mana sang mama tahu kalau dirinya semalam menggendong Lusy.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu masih berhubungan dengan wanita satu anak, yang sebenarnya belum menikah! Apa kamu mau memasukkan aib di keluarga kita?!” bentak Farah lagi. “Bahkan dia seorang narapidana!”
__ADS_1
Farah sudah menyelidik Lusy, siapa wanita yang dicintai putranya itu, sehingga kini semakin tidak menyetujui hubungan keduanya.
Zayn terkesiap mendengar ucapan Farah, tidak menyangka jika sang mama akan bertindak sejauh itu.
Zahra juga terkejut, tapi gadis itu mencoba percaya kepada sang kakak, jika semua pasti ada penjelasan.
“Zayn, kamu tidak bisa membawa wanita seperti itu di keluarga kita. Benar kata mamamu, dia akan membawa aib ke keluarga kita. Bahkan dia akan membuat keluarga kita dicemooh karena telah menerima wanita seperti itu menjadi pendampingmu,” ujar Ikram membela istrinya.
Zayn menatap sang ayah dan ibu secara bergantian, hingga kemudian tersenyum getir karena kedua orangtuanya menentang hubungannya dengan Lusy.
“Aib? Kalian bilang aib? Semua yang terjadi dengannya, tidak serta merta itu yang diinginkannya. Siapa yang ingin hamil di luar nikah, siapa yang ingin dipenjara karena ketidaksengajaan. Jika kalian tidak paham dan tahu siapa dia, jangan berpikiran buruk tentangnya.” Zayn mencoba bicara dengan intonasi suara yang sedikit ditekan, takut jika itu akan menyakiti hati kedua orangtuanya.
“Mama pokoknya tidak mau tahu, Zayn. Tinggalkan wanita itu!” perintah Farah.
“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Zayn kini menatap ibunya.
Farah geram karena Zayn jadi pembangkang setelah berkata menyukai Lusy. Dia lantas mendekat ke Zayn, kemudian berdiri di hadapan putranya itu.
“Tinggalkan dia, Zayn. Dia tidak akan pernah diterima di sini!” Sekali lagi Farah meminta Zayn untuk mengikuti keputusannya.
“Kalau dia tidak diterima di sini, maka aku pun tidak. Aku akan pergi jika kalian tidak menerimanya. Aku akan menikahinya, jadi itu sudah keputusan finalku!”
“Apa?” Farah dan yang lainnya begitu terkejut dengan keputusan Zayn.
“Apa susahnya meninggalkan wanita itu, hah? Apa kamu siap meninggalkan rumah, pekerjaan, dan seluruh fasilitas yang kamu miliki sekarang hanya demi wanita itu?” tanya Farah dengan nada membentak karena emosi. Bahkan suaranya terdengar menggelegar di ruangan itu.
“Ya, aku akan melepasnya jika kalian menginginkannya. Aku akan menikahinya karena ingin bertanggung jawab kepadanya. Seharusnya Mama memahami keputusanku,” ujar Zayn masih mencoba menekan nada suaranya ketika bicara dengan Farah.
“Bertanggung jawab apa, hah? Bertanggung jawab merawat anak orang? Apa otakmu sudah dicuci, Zayn?” Farah semakin geram dan emosinya semakin meluap.
__ADS_1
“Aku sudah tidur dengannya dan akan mempertanggung jawabkan hal itu.”
Saat kalimat itu selesai terucap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zayn.
Zayn memalingkan muka, ketika tangan lembut itu mendarat dengan keras di pipinya.
Zahra dan Ikram terkejut saat Zayn berkata jika sudah tidur dengan Lusy., hingga semakin terkejut ketika Farah menampar pria itu. Zahra bahkan sampai berdiri, melihat sang kakak yang memalingkan wajah karena sebuah tamparan.
“Tinggalkan dia, Zayn! Atau kamu akan benar-benar kehilangan semua yang kamu punya!” ancam Farah dengan dada naik-turun tidak beraturan.
Zayn tersenyum getir, lantas menatap sang mama yang terlihat murka dengan amarah yang berapi-api.
“Tidak,” balas Zayn dengan keputusannya.
Farah mengepalkan tangan, kenapa putranya keras kepala seperti ini.
Zayn mengeluarkan dompet, mengambil beberapa kartu debit dan kredit dari dompet, kemudian meletakkan di meja beserta kunci mobilnya. Dia hanya mengambil dua kartu debit berisi uang hasil selama di arena balap bertahun-tahun ini.
“Selama Mama dan Papa tidak menerima Lusy di sini, maka selama itu pula aku akan angkat kaki dan tidak akan kembali ke rumah ini,” ujar Zayn menantang ancaman ibunya.
Farah dan yang lainnya sangat terkejut, kenapa Zayn menjadi seperti ini.
Zayn menoleh Zahra, melihat adiknya seperti ingin menangis mendengar ucapannya. Dia lantas kembali menatap sang ibu yang sedang dikuasai amarah.
“Terima kasih atas semua yang kalian berikan. Tapi aku benar-benar tidak bisa, jika kalian memaksaku untuk melepasnya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Zayn pun pergi meninggalkan ruang makan untuk pergi dari rumah itu.
Farah mengepalkan kedua tangan yang ada di samping tubuh. Bagaimana bisa Zayn tidak takut akan ancamannya, tapi malah menantangnya.
__ADS_1
“Zayn! Apa kamu yakin wanita itu tidak akan meninggalkanmu jika kamu tidak memiliki apa-apa, hah?” Farah berteriak, berharap bisa menghentikan putranya.
Zayn berhenti sejenak, lantas membalas teriakan Farah. “Dia bukan wanita yang seperti Mama pikirkan, dia jauh lebih baik dari seorang wanita terhormat!”