
“Terima kasih karena kamu sudah membuatku sadar jika Mama memang sudah berubah.”
Zayn menemui istrinya di kamar, bicara sambil membelai wajah Lusy.
“Tugasku menyingkirkan kesalahpahaman di antara kalian. Semua berawal dari keinginanmu mempertahankan ‘ku, hingga akhirnya semua masalah memang berasal dariku. Sudah selayaknya jika aku ikut ambil andil dalam meluruskan masalah di antara kalian,” ujar Lusy panjang lebar.
Zayn tersenyum mendengar ucapan Lusy, lantas meraih belakang kepala istrinya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening.
“Kamu memang yang terbaik.”
**
Satu minggu setelah hubungan Zayn dan Farah membaik, rumah besar itu kini penuh kehangatan sejak semuanya kembali seperti semula. Farah sendiri sudah benar-benar menerima pernikahan keduanya, meski keluarga besar Farah sendiri sempat mencibir pilihan Zayn, tapi Farah memilih mengabaikan hal itu.
“Hari ini kamu siap kembali ke perusahaan ‘kan, Zayn?” tanya Ikram saat mereka sarapan bersama.
Zayn menoleh Lusy setelah mendengar pertanyaan Ikram, keinginannya kembali ke perusahaan pun atas bujukan Lusy.
“Tentu, Pa.”
Farah senang karena Zayn mau kembali, hingga kemudian menatap Lusy yang terus mengulas senyum.
__ADS_1
“Lu, kenapa kamu tidak ajak Cheryl tinggal di sini?” tanya Farah.
Lusy terkejut mendengar pertanyaan Farah, kemudian menjawab, “Sebenarnya aku ingin, tapi Joya lebih membutuhkan Cheryl guna mengembalikan mentalnya setelah kehilangan bayinya. Mungkin kalau Mama mau, Cheryl bisa di sini saat siang hari.”
“Memangnya bayinya kenapa?” tanya Farah penasaran, agak heran karena Cheryl tidak ikut Lusy tapi malah ikut ibu angkatnya.
“Bayinya diculik saat baru saja lahir, Ma. Keluarga dan polisi sudah berusaha mencari, tapi mereka hanya menemukan pelakunya,” jawab Zayn.
“Tunggu! Apa yang kamu maksud Grisel? Bukankah dia gila setelah dikabarkan menculik bayi?” tanya Farah saat ingat akan berita itu.
Zayn mengangguk-angguk membenarkan tebakan ibunya.
“Ya Tuhan, dia. Tampaknya dia mendapatkan karma yang setimpal.” Farah selama ini berusaha membela Grisel di hadapan keluarga besar karena mengira jika istri dari keponakannya itu wanita yang benar-benar baik. Namun, saat mendengar informasi jika selama ini Grisel terus memfitnah suaminya sendiri, membuat cara pandang Farah berubah.
“Kamu nyindir Mama?” Farah memicingkan mata ke Zayn.
Zayn tersedak ludah, lantas menyeringai dan berkata, “Mana ada. Tapi meski itu benar.”
Semua tertawa kecuali Farah, sungguh dia merasa tersindir karena itu memang benar adanya.
**
__ADS_1
Lusy sudah kembali ke butik, rasanya begitu rindu dengan aroma bau pakaian baru juga kertas dan pensil yang biasa dipegangnya.
“Mbak Lusy akhirnya berangkat, apa sudah sembuh total?” tanya Vira saat melihat Lusy datang.
“Sudah,” jawab Lusy, “maaf sudah membuatmu kerja sendiri,” ucap Lusy kemudian.
“Mbak Lusy tenang saja, lagian butiknya tidak terlalu ramai, jadi aku juga tidak kerepotan,” balas Vira.
Lusy mengangguk-angguk paham, lantas meminta izin untuk ke ruangannya.
“Oh ya, Mbak. Hampir lupa.”
Ucapan Vira membuat Lusy berhenti memutar gagang pintu, lantas menoleh Vira berdiri.
“Ada apa?” tanya Lusy.
“Kemarin ada yang nyari Mbak Lusy,” jawab Vira.
Lusy menaikkan satu sudut alis, siapa yang mencarinya sedangkan Lusy tidak mengenal banyak orang di negara itu.
“Seorang pria bule, katanya mau ketemu Mbak Lusy, tapi aku bilang kalau Mbak Lusy lagi cuti sakit. Dia terus bilang kalau akan datang lain waktu.”
__ADS_1
Jantung Lusy berdegup dengan cepat mendengar penjelasan Vira, pria bule mungkinkah Max. Jika benar, apakah pria itu tidak bosan mengganggu hidupnya.