
“Apanya tidak?” tanya sang bibi.
“Aku tidak mau dijodohkan!” tolak Zayn dengan tegas.
“Ya, melakukan kencan atas dasar perjodohan itu wajar, Zayn. Selama ini kamu fokus bekerja dan tidak pernah sekalipun mengenalkan seorang gadis pada kami atau orangtuamu sendiri,” ujar sang bibi yang seolah ingin sekali menjodohkan Zayn.
Zayn mendesau pelan, kenapa sekarang dirinya yang menjadi korban serangan pembicaraan para orang tua.
“Aku belum mau menikah dan tidak suka dijodohkan, jika saatnya nanti tiba, aku pasti akan menikah,” balas Zayn dengan nada suara sedikit tinggi.
“Kencan dan mengenal seorang gadis dulu nggak apa-apa, ‘kan? Masalah jodoh atau tidak itu urusan belakang, yang penting kamu mau mencoba,” ujar sang bibi lagi. “Jangan bilang kalau kamu memiliki kelainan, sehingga tak menyukai wanita,” imbuh sang bibi asal-asalan.
Seketika semua yang ada di meja makan langsung menatap Zayn, mereka akhirnya memiliki pikiran sama tentang Zayn.
Zayn terdiam menatap satu persatu anggota keluarganya, kini dirinya menjadi tersangka dan harus bisa membuat pembelaan.
“Siapa yang memiliki kelainan? Aku benar-benar belum memikirkan soal berpacaran atau menikah, masih ingin fokus dengan perusahaan Papa. Jika memang waktunya tiba, aku pasti akan memperkenalkan gadis yang memang aku cintai,” ujar Zayn membela diri.
Orangtua Zayn ikut merasa cemas akan putranya, apa mereka harus percaya dengan alasan Zayn, atau memang benar putranya itu memiliki kelainan menyukai sesama jenis.
“Aku percaya Zayn tidak memiliki kelainan. Jika benar, takkan mungkin dulu dia berebut seorang gadis denganku,” timpal Farzan mencoba membantu adik sepupunya itu, meski sebelumnya mereka lebih sering bersaing.
Zayn menatap Farzan, tak menyangka jika kakak sepupunya itu akan membantunya bicara. Meski begitu dia juga takkan berterima kasih, karena baginya Farzan tetaplah tersangka yang membuatnya patah hati.
__ADS_1
“Emm … aku ingat. Bukankah Kakak dulu suka pergi dengan gadis yang tingginya tak lebih dariku. Siapa namanya?” Zahra ikut bicara, lantas mencoba mengingat. “Joya, iyakan namanya itu. Dia dulu sering beliin aku es krim kalau ketemu di studio,” ujar Zahra setelah ingat nama Joya.
Farzan berdeham mendengar Zahra menyebut nama Joya. Lantas melirik Zayn yang terlihat salah tingkah.
“Apa benar?” tanya sang ibu menatap Zayn.
“Jangan dibahas, dia sudah menikah,” lirih Zayn pada ibunya.
Akhirnya perbincangan masalah perjodohan dan kencan buta pun ditutup, terlebih Zayn sudah merasa tak nyaman dengan pembahasan itu.
**
Setelah acara jamuan makan malam selesai. Zayn sudah berada di kamar dan baru saja berganti pakaian, hingga suara ketukan pintu terdengar, pemuda itu pun mempersilakan masuk.
“Kupikir sudah tidur.” Ternyata sang ibu yang masuk.
“Ah … Mama hanya merasa penasaran,” jawab Farah. Selama bertahun-tahun sang ibu tidak pernah membahas atau mencampuri urusan kehidupan sang putra, tapi sekarang sepertinya wanita itu ingin tahu soal putranya karena takut jika dugaan saudaranya benar.
“Penasaran dengan apa?” tanya Zayn, lantas mengajak ibunya duduk di sofa.
Wanita tua yang berpenampilan modis dan masih terlihat muda di umur yang sudah menginjak lima puluh tahunan lebih itu tersenyum, lantas duduk di samping sang putra yang kini tak terasa sudah berumur tiga puluh tahun.
“Soal kamu, apa benar kamu tidak memiliki kelainan? Atau mungkin seperti kata orang jika kamu menyukai sesama jenis,” ujar Farah hati-hati.
__ADS_1
Zayn seketika membulatkan bola mata lebar, tak menyangka jika ibunya akan terpengaruh dengan dugaan sang bibi. Ia pun tertawa keras, bahkan sampai menggelengkan kepala tak percaya jika ibunya juga merasa begitu.
“Aku normal, Ma. Serius normal. Hanya saja aku belum merasa mendapatkan pasangan yang tepat,” balas Zayn memberi pengertian. Bicara soal Lucy takkan baik untuk sekarang, meski Zayn ingin memberitahu ibunya jika sudah menyukai seseorang.
“Kamu yakin?” tanya Farah lagi. “Mama tidak yakin, jika kamu belum mengenalkan atau berhubungan dengan seorang gadis,” imbuh wanita itu.
“Yakin, Ma. Aku benar-benar normal dan masih suka dengan gadis,” jawab Zayn meyakinkan.
“Kalau begitu, kenapa harus menolak bibimu saat ingin mengenalkanmu pada salah satu anak temannya?” tanya wanita itu lagi, seolah semua pengakuan Zayn belum membuatnya yakin.
Zayn mendesis pelan, menggenggam telapak tangan sang ibu yang dirasanya masih sangat halus itu.
“Ma, percaya padaku. Saat waktunya tiba, aku pasti akan mengenalkan seorang gadis pada Mama. Sekarang biarkan aku fokus pada bisnis Papa, oke.” Zayn berusaha meyakinkan sang ibu agar tidak cemas.
Wanita itu menatap lekat Zayn, kemudian mengingat ucapan Zahra sebelum dirinya menemui sang putra.
“Mungkin Kak Zayn patah hati lalu nggak bisa move on. Secara dulu aku lihat Kak Zayn sangat dekat dengan Joya, tapi entah kenapa sejak Kak Zayn kecelakaan, sejak itu tak pernah melihat mereka bersama. Apa menurut Mama Kak Zayn patah hati sampai sekarang?”
Wanita itu menggeleng cepat, menepis kemungkinan sang putra gagal bangkit dari patah hati.
Zayn melihat ibunya yang terlihat bingung. “Mama kenapa?”
“Tidak ada, hanya sedikit capek,” ucap Farah mengelak. “Ya sudah, kamu istirahat dulu,” ujar wanita itu kemudian seraya mengusap sisi wajah Zayn, sebelum pamit pergi.
__ADS_1
Zayn hanya mengangguk, lantas menatap sang ibu yang meninggalkan kamar. Zayn merasa kesal sendiri, gara-gara pembahasan makan malam tadi, sang ibu jadi ikutan berpikiran negatif kepadanya.
“Gila kali kalau aku suka sesama!” Zayn mengedikkan bahu, jadi merasa merinding sendiri dibuatnya.