
"Cie... cie... pengantin baru,gimana malam pertamanya?" ledek Weni saat Raina datang ke apartemen mengambil semua barangnya,karena dia harus tinggal dirumah Fito.
"Apaan sih lu,gak ada apa-apa." jawab Raina sembari mengemas barang-barangnya.
"Padahal gue penasaran banget lho,gimana rasanya malam pertama itu." Weni masih ngeledek Raina.
"Nikah aja lu,sana.Biar tahu sendiri rasanya."
"Nikah sama kucing,pacar aja gak punya gue."timpal Weni,
" Makanya cari pacar,betah aja lu ngejomblo."
"Ada sih cowok,tapi gue ragu Raina."
"Siapa? Kenapa ragu." tanya Raina penasaran masih mengemasi barangnya.
"Noval,tapi lu tahu kan dulu gue putus sama dia gara-gara apa." ucap Weni.
"Siapa tahu dia sudah berubah Wen."
"Dia juga bilang begitu,kalo selama ini dia lebih nyaman pacaran sama gue." kata Weni membantu Raina membereskan sepatunya.
"Tapi gue bilang jalanin aja dulu,urusan hubungan nanti saja.Aku butuh waktu Rain," imbuh Weni.
Akhirnya,satu jam sudah Raina membereskan barangnya di apartemen nya.
"Weni,kalo lu merasa keberatan sewa sendiri,gimana kalo gue suruh Sandra pindah kesini." saran Raina. "Dia juga sewa rumah sendiri,"
"Boleh juga,lu coba bilang sama Sandra kali aja dia mau." ujar Weni.
"Ya udah Weni,gue pamit dulu.Makasih ya sudah jadi temen satu rumah yang baik." pamit Raina.
Karena supir Fito sudah lama menunggu dibawah.
"Lu baik-baik sama Fito,juga keluarganya ya." ucap Weni memeluk Raina.
***
"Maaf Pak Seno,nunggu lama ya." ujar Raina diantar Weni.
"Tidak apa-apa nona muda,sini biar kopernya saya yang bawa." ucap pak Seno asisten Fito.
"Terima kasih." kata Raina sopan,"Gue jalan dulu Wen,sampai jumpa lagi."pamit Raina seraya melambaikan tangannya setelah dia didalam mobil.
"Sampai jumpa,bye..." jawab Weni.
Pak Seno mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standart.Sepanjang perjalanan,Raina hanya memainkan ponselnya.Sesekali memandang keluar jendela mobil.
"Pak Seno,boleh saya menanyakan sesuatu." tanya Raina ragu-ragu.
"Boleh,apa itu nona?" tanya balik pak Seno.
"Kapan Fito mulai terapi?"
"Minggu ini sudah dua kali tuan Fito terapi,nona muda.Semangat tuan Fito untuk sembuh sangat besar." jawab pak Seno sembari tetap fokus pada kemudinya.
__ADS_1
"Oh... " Raina hanya ber-Oh ria.
Perjalanan yang memakan waktu satu jam lebih,membuat Raina mengantuk.Kepalanya mulai menyender dibangku mobil.Matanya mulai terpejam.
Drrtt... drrtt....
Raina tak menyadari ponselnya bergetar,dia masih terlelap dalam mimpinya.Sebuah pesan dari Fito.
***
Setelah satu jam,Pak Seno menghentikan mobil dihalaman rumah Fito.
"Nona muda,bangun kita sudah sampai." pak Seno membangunkan Raina pelan.
"Hem... oh,maaf Pak Seno saya ketiduran ya." Raina tampak membenarkan posisinya.
"Tidak apa-apa non," jawab pak Seno,keluar dari mobil dan membukakkan pintu untuk nona mudanya,setelah itu membawa koper milik nonanya.
Raina pun turun dari mobil,berjalan mengikuti pak Seno. Memasuki rumah yang tak asing baginya,karena masa lalunya dengan Fito.
"Selamat datang Raina sayang... " ucap tante Dewi mencium pipi kiri kanan dan memeluk Raina.
"Selamat datang nona muda... " sambut bik imah senang.
"Terima kasih semua... " jawab Raina matanya mencari sosok yang katanya suaminya.
"Fito pergi ke perusahaan sayang,ada sedikit masalah." kata tante Dewi.
Fito memang tidak bilang kalau pergi ke perusahaan,begitu juga pak Seno.Memangnya aku ini siapa,hanya istri kontrak saja.
"Fita bisa saja." ucap Raina.
"Sebaiknya kamu istirahat sayang,muka kamu kelihatan lelah sekali." kata tante Dewi.
Akhirnya,Raina berjalan menuju kamar Fito mengikuti pak Seno yang membawa kopernya.
"Ini kamarnya nona muda,silahkan.Saya permisi jemput tuan muda Fito dulu." ujar pak Seno pamit dan berjalan meninggalkan Raina didepan pintu kamar.
"Terima kasih banyak pak Seno. " jawab Raina membuka handle pintu kamar,dan masuk kedalam.
"Kamar Fito gak ada yang berubah,masih sama seperti yang dulu." gumam Raina merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Menatap langit-langit kamar,yang akhirnya membuat mengantuk.Karena pikirannya masih sekitar Fito dan perusahaannya.
Tepat jarum jam menunjuk angka tujuh malam.Waktunya Fito balik dari kantor. Sembari membuka dasi yang mencekik lehernya,Fito memutar kursi rodanya santai menuju kamarnya.
Sebelumnya,mampir kedapur mencomot sesuati untuk dimakannya.
"Huft.... " gumam Fito kelelahan seraya membuka pintu kamarnya.
Dilihatnya Raina diatas ranjang,menggunakan kaos dan hotpants.Membuat jiwa lelakinya muncul.Tapi sayang,dengan keadaan Fito yang sekarang dia hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
"Ya ampun.... kenapa kamu memancingku Raina." batin Fito matanya tak berkedip.
Dengan bantuan Seno,Fito melepas pakaian lalu mandi.
__ADS_1
Setelah selesai,kembali Seno membantu Fito memakai pakaian.
"Pak Seno,mulai sekarang tidak perlu membantu tuan Fito lagi.Saya risih kalo pak Seno keluar masuk kamar saya." ujar Raina merasa tidak enak.
"Tapi nona muda,saya.... " pak Seno menggantungkan ucapannya.
"Biar saya saja yang membantu tuan Fito,dia suami saya. " kata Raina menegaskan perintahnya.
Gak lucu dong,kalau pak Seno bisa masuk kamar kapanpun.Seandainya Raina sedang telanjang,bagaimana??
"Kamu boleh pergi,Seno." perintah Fito.
"Kamu yakin mau membantu aku?" lanjut Fito pada Raina.
"Aku cuma risih saja,seandainya aku sedang pakai baju,tiba-tiba dia masuk bagaimana?" jelas Raina,"Apa kamu mau,tubuh sexy istri kamu jadi konsumsi pak Seno."imbuh Raina dengan nada menggoda.
****
Saat malam tiba,Raina kebingungan mau tidur dimana.Sofa yang ada dikamar,kecil tidak cukup untuk selonjoran kaki.
"Raina,bantu aku naik ke kasur." panggil Fito
"Memangnya kamu gak bisa sendiri,bukannya kemarin sudah terapi." kata Raina.
"Kamu mau bantu apa aku panggil Seno saja."
"Ih... kamu ini nyusahin aja," kata Raina tanpa memikirkan perasaan Fito.
"Seno.... Seno...!!!! " panggil Fito dengan suara keras dan lantang.
"Siap saya tuan Fito." jawab pak Seno dengan cepat,masuk kekamar tuannya khawatir terjadi apa-apa dengan tuan mudanya.
"Bantu saya naik kekasur." perintah Fito,membuat Raina bingung.
"Bukannya dia menyuruh ku,apa ada ucapan ku yang menyakiti hatinya.Kenapa dia begitu marahnya." batin Raina melihat kearah Fito.
"Terima kasih Seno,besok kamu harus standby didepan pintu kamar.Bantu saya." perintah Fito.
"Baik tuan,saya permisi dulu." pamit pak Seno heran.
Setelah asisten Fito keluar kamar,Raina bersiap tidur.Karena sofa terlalu kecil,Raina merebahkan tubuhnya dilantai.
"Kenapa Fito diam saja.Aduh... apa yang gue katakan tadi.Kenapa gue bilang Fito nyusahin aja,waktu dia minta bantuan gue." gumam Raina seraya menepuk jidatnya.
*
*
*
*
Maaf ya para pembaca kalo banyak kata-kata yang salah ketik.
Jangan lupa like komen dan votenya ya.
__ADS_1