
Malam ini,mau gak mau Raina tidur satu ranjang dengan Fito.Mana ranjang miliknya hanya berukuran 90×200,muat sih buat berdua.Tapi....
"Kamu yakin Raina." ucap Fito saat Raina menunjukkan ranjang yang ada dikamarnya.
"Kamu gak takut aku khilaf." lanjut Fito.
"Gak,kamu suami ku kenapa mesti takut." jawab Raina berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Sebenarnya Raina takut juga,jantungnya hampir mau copot saat Fito berbaring disampingnya.
detak jantungnya berdebar kencang waktu Fito memeluknya dari belakang.Entah ada angin apa,pelukannya begitu erat.
"Maafin aku,Raina." bisik Fito tepat di belakang telinga Raina.Sontak bulu kuduk Raina berdiri,merinding.
"Apa yang mau Fito lakuin,apa dia menuntut haknya,bukannya... ya Tuhan... " batin Raina terus berucap yang tidak-tidak.
Fito mulai tak kuasa menahan hasratnya,tangannya mulai mera*a bagian sensitif Raina.
"Fito,ibu aku baru dikebumikan tadi siang.Rasanya gak etis jika kita melakukannya disini." ucap Raina menghentikan aktifitas Fito.
"Kemarin aja marah-marah,telepon gue gak dijawab,ada angin apa dia memeluk gue.Kalo saja gue gak cinta,udah gue dorong lu dari kasur gue." umpat Raina dalam hati (gak nolak juga sih Raina... ugh. dasar Raina.)
Alhasil,Fito gagal melancarkan hasrat yang sudah dipendamnya.Juniornya menangis meronta-ronta. (wkwkwk)
****
"Seno,kenapa kamu gak bilang dari tadi siang.Kita bisa nyusul kesana,aduh... kalian ini ot*knya gak jalan.Bisa-bisanya kabar duka telat mengabari." umpat maminya Fito.
"Ini sudah malam,mau telepon pun pasti Raina sudah tidur." ucap mami lagi.
"Mami gak usah marah-marah,coba dulu aja telepon kak Raina.Kali aja belum tidur." kata Fita.
"Tante Raina kemana memangnya omah,apa tante Raina marah gara-gara King nakal di mall omah."
"Kamu benar Fita,mana ponsel mami." mami mendial nomer Raina,dan tersambung.
Drrttt... drttt....
Ponsel Raina bergetar,segera dia mengangkatnya.
"Syukur,selamat gue dari Fito.untung ada yang telepon." batin Raina seraya mengelus dadanya.
"Halo Raina,kamu marah sama mami? Kenapa gak kasih kabar kalo ibu kamu meninggal?" sarkas mami dari ujung telepon.
"Maaf mih,Raina gak bisa berpikir Raina sangat sedih,jadi gak memikirkan yang lain." sangkal Raina.
"Apa Fito bersama kamu?"
"Ada mih,apa mami ingin bicara dengan Fito." tanya Raina.
"Mana anaknya,berikan teleponnya." pinta mami.
Raina memberikan ponselnya pada Fito."Mami mau bicara."
Raina meninggalkan Fito yang sedang berbincang dengan maminya diponsel.
Dilihat dari raut wajah Fito,sepertinya sedang membicarakan hal yang sangat penting.
__ADS_1
Mungkin ada lima belas menit sebelum Fito memanggil Raina untuk tidur.Malam semakin larut,udara pun begitu dingin.
****
Pagi dikampung halaman Raina,udara begitu sejuk embun pagi masih bergelayutan di dedaunan.Kabut di pagi hari begitu tebal.
Raina sedang menyiapkan sarapan didapur.Tidak ada yang bisa dikerjakan dirumahnya,Raina memutuskan pulang hari ini juga.
Setelah selesai hidangan yang dibuatnya,Raina membangunkan Fito.
Sekuat tenaga Raina menggoyang-goyangkan tubuh Fito yang kekar, "Fito,sudah pagi bangun,kita harus pulang hari ini juga."
"Buru-buru sekali,aku bisa cuti." jawab Fito menggeliat kan tubuhnya dan memejamkan matanya kembali.
"Iya kamu yang punya perusahaan,kalo aku gak bisa seenaknya." ucap Raina.
"Mengundurkan diri saja,uangku banyak buat menafkahi kamu." kata Fito lagi.
"Fito....!!!" teriak Raina,akhirnya Fito menyerah juga bangun dan membersihkan diri dikamar mandi.
"Aku tunggu dimeja makan." ucap Raina.
Di meja makan...
"Sebelum pulang,kita ke makam ibu dulu." ujar Fito menyuap sesendok nasi dan lauknya,"Aa..... "Fito menyodorkan sendok ke mulut Raina.
" Hah? "Raina terkejut dengan sikap Fito.
" Buka mulutmu,aku suapin."
****
"Seno,kita ke makam dulu." ucap Fito setelah naik kedalam mobil.
"Baik tuan,tapi ngomong-ngomong makam nya dimana tuan." tanya asistennya.
"Lurus mentok saja pak,gak usah belok-belok." timpal Raina.
Mobil melaju pelan dijalanan yang ramai pejalan kaki,maklum saja rumah Raina masih kampung.
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit menuju makam.
Raina dan Fito turun dari mobil,saat sudah sampai didepan gapura makam.
"Ibu,Raina pulang dulu,Raina janji akan menjaga diri dan memenuhi pesan ibu." ucap Raina dipusara ibunya,kembali menitikkan air matanya.
"Tante Rani,maaf Fito telat datang kesini.Fito janji apapun yang terjadi di kehidupan kita nanti,Fito akan menjaga Raina.Tante Rani semoga tenang disana." janji Fito.
"Kita pergi sekarang,bu." kata Raina mengusap pipinya yang basah.
Perjalanan dari kota kelahiran Raina menuju kota ditempuh dua jam,itupun kalau tidak macet.Seperti sekarang,bahkan pak Seno hanya menempuh waktu satu setengah jam.
Mobil yang dikemudikan pak Seno sampai dirumah megah dan mewah keluarga Sastra.
Pak Seno membukakan pintu masuk warna coklat untuk tuan dan nona mudanya.
Sambutan dari mami dan keluarga Fito bikin Raina terharu.
__ADS_1
"Raina sayang,mami turut berduka cita sayang." peluk mami,"Kamu tenang saja,mami sama juga seperti ibu kamu."imbuh mami menguatkan Raina.
"Terima kasih banyak mih." balas Raina sedih.
"Tante Laina.... King kangen." teriak King dengan suaranya yang cadel,memeluk erat Raina.
"Hai King sayang,tante juga kangen sayang." peluk Raina pada anak kecil itu.
"King kangen bobo sama tante."
"Oke,kalau begitu King boleh bobo sama tante malam ini." jawab Raina.
"Kenapa gak besok saja." bisik Fito tepat ditelinga Raina.
"Kenapa kamu bisik-bisik Fito." sarkas mami.
"Gak papa mih,Fito cuma bilang Raina kan masih capek jadi lebih baik King jangan mengganggu dulu." sangkal Fito.
"Raina gak papa kok mih,Raina gak begitu capek." ujar Raina polos kayak gak tahu yang dimaksud Fito.
"Ya sudah,kalian istirahat dulu sekarang." kata mami meninggalkan Fito dan juga Raina.
****
Fito menyenderkan tubuhnya disandaran ranjang,menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepala.
"Raina,kalau King tidur bersama kita apa gak ganggu istirahat kamu." ujar Fito.
"Gak ganggu,King tidurnya tenang gak makan tempat juga." jawab Raina mengeluarkan baju-bajunya dari koper dan meletakkan didalam lemari.
"Lagian tumben amat sikap kamu begitu,aneh.Bukannya kamu yang paling perhatian sama King." imbuh Raina.
"Bukan begitu maksud aku." jawab Fito beranjak dari ranjang.Mendekati Raina yang sedang sibuk dengan bajunya.Memeluk Raina dari belakang membuat merinding.
"Kamu kenapa sih,aneh banget dari kemarin." ujar Raina melepaskan diri dari pelukan Fito.
"Ingat Fito,perjanjian nikah kita tinggal beberapa hari saja." kata Raina lagi mengingat pernikahannya dengan Fito ternyata sudah hampir enam bulan.
"Kita nikah itu sah dimata agama dan negara Raina,aku berubah pikiran.Surat-surat kontrak nikah sudah aku bakar." ujar Fito senyum.
"Apa??? aku gak salah dengar."
"Aku sudah janji sama ibu kamu,saat kita nikah.Pada waktu itu juga,aku membakar surat-surat itu." jelas Fito.
Deg... Jantung Raina hampir saja mau copot,seperti tersambar petir.Lagi-lagi Fito membuat kejutan yang membuat napas Raina berhenti sesaat.
*
*
*
*
*
bersambung
__ADS_1