RAINA DAN FITO, Antara Benci Dan Cinta

RAINA DAN FITO, Antara Benci Dan Cinta
BAB 90


__ADS_3

Noval menggendong Weni ala bridal style,menuju apartemennya.Didalam lift,Weni menelan saliva nya memandangi wajah Noval.Seraya melingkarkan kedua tangan nya dileher Noval, ingin rasa nya menyandarkan kepalanya.Tapi apa daya, gengsinya lebih besar dibanding dengan rasa kangen nya.Kangen ingin memeluk nya, menciumnya,dan.....


Ceklek (anggap suara pintu dibuka)


"Sekarang kamu istirahat jangan banyak bergerak." kata Noval sambil merebahkan tubuh Weni diatas kasur.


"Wajahnya, rahang pipinya, apa gue melewatkan sesuatu selama ini." gumam Weni dalam hati masih memperhatikan wajah suami nya.


"Weni... kenapa bengong?" tanya ibu nya, "Apa ada yang salah sama suami mu." imbuhnya mengagetkan saja.


"Em... gak papa bu," jawab Weni gagap.


"Biarin aja bu,Weni ini sudah lama gak melihat muka Noval dari dekat." ujar Noval seraya tersenyum manis.Sementara Weni tertunduk malu sekali, ternyata sedari tadi Noval memperhatikan diri nya.


"Weni, ibu sama ayah langsung pamit saja ya." kata ibu nya.


"Sekarang bu?kenapa gak nunggu besok aja." jawab Weni.


"Iya sekarang,kalo nunggu besok siapa yang gantiin ayah mu." lanjut ibu nya menjinjing tas warna hitam nya.


"Ya udah kalo ibu mau nya begitu."


Diluar kamar, Noval sedang berbincang serius dengan maminya.Maminya begitu marah dengannya,malu dibuatnya.


"Iya mih, Noval tahu salah." lirih Noval


"Kamu itu menikahi anak orang,jangan disakiti terus.Ubah sifat kamu,jangan begitu sudah mau jadi ayah masih aja kayak anak kecil." umpat maminya.


"Iya ya.... mami pulang aja gih... " usir Noval.


"Awas kamu, kalo sampai mami denger pertengkaran kalian lagi.Mati kamu ditangan mami." sarkas maminya.


"Iya gak mih... takut Noval sama mami."


"Ya sudah... mami pulang dulu." pamit maminya lalu berpamitan dengan kedua orang tua Weni yang hendak pulang juga.


****


Malam hari seluruh bagian kota diguyur hujan yang sangat deras.


Dengan spontan Weni menarik selimut hingga menutup semua bagian tubuhnya, menyisahkan kepalanya.


Melihat istri nya yang kedinginan,Noval mengecilkan suhu AC dikamarnya.Lalu memeluk erat tubuh Weni.Tanpa ada nya penolakan,Weni hanya menatap wajah Noval sejenak lalu memejamkan matanya kembali.


"Hem... udah berapa lama aku gak memeluk kamu." ucap Noval seraya mencium bagian tengkuk leher Weni.


"Stop... jangan menyentuhku terlalu jauh." ujar Weni dengan penolakan nya.

__ADS_1


"Tenang aja,hanya cium gak lebih." kata Noval,"Aku minta maaf atas semua yang terjadi sama kamu."imbuhnya berbisik ditelinga Weni.


".... " Diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa kamu sudah tidur?" ucap Noval lagi, tak ada jawaban.Weni bingung mau jawab apaan.Hatinya masih sedikit kesal.


"Aku akan mencoba merubah sifat aku,sayang." ucapnya lagi.


Masih tak ada jawaban,mungkin Weni sudah tidur.Noval melepas pelukannya,dan ber balik membelakangi Weni.


"Istirahat, tidur yang nyenyak." ucap Noval seraya memejamkan matanya.


"Hemm.... " jawab Weni kali ini,seakan tak merelakan suaminya melepas pelukannya.


***


Pagi masih diguyur hujan,Weni menggeliatkan seluruh tubuhnya meregangkan otot-ototnya.Dilihatnya Noval masih terhanyut dalam mimpinya dibawah selimut.


Dengan pelan, Weni beranjak dan berjalan keluar kamar.Menghampiri bik Rima yang sedang memasak sambil bebenah rumah.


"Selamat pagi bik... " sapa Weni sopan.


"Pagi nona Weni,apa ada yang bisa bibik bantu." ucap bik Rima menawarkan tenaganya.


"Em... bibik gak repot kalo saya minta buatkan bubur.Mulut rasa nya gak enak banget, bik." kata Weni.


"Ya ampun non Weni... ya gak repot lah, malah bibik senang sekali non Weni menyuruh bibik.Sebentar non. " ujar bibik nya seraya bergegas menyiapkan bahan untuk membuat bubur.


Udara pagi begitu sejuk di tambah hujan yang masih mengguyur kota.Sambil menikmati pemandangan kota,Weni memainkan ponselnya.


Sudah beberapa hari tidak menyentuh benda pipih yang selalu menemaninya.


Deg.... Jantungnya hampir berhenti berdetak saat membuka pesan dari Raina.Pesan yang mengabarkan kalo ayah Sandra meninggal semalam.Dan hari ini akan dikebumikan.


Segera Weni mendial nomer Raina.


"Halo... " jawab Raina saat menerima panggilan dari Weni.


"Rain... lu kerumah Sandra jam berapa?" tanya Weni.


"Mungkin jam 9 Wen, kenapa lu mau kesana? Bukan nya lu masih belum sembuh banget." kata Raina yang sedang siap-siap memakai baju, karna jarum jam sudah menunjuk pukul 8.


"Ya udah mendingan,ya pasti gue kesana Rain. " kata Weni.


"Oiya, gue minta maaf Wen. gue juga belum sempat jenguk lu,baru pulang juga." Raina minta maaf.


"Gak papa.Ya udah gue mau siap-siap dulu ya." mengakhiri panggilan nya.

__ADS_1


***


Masuk kedalam kamar,berjalan lurus kearah kamar mandi.Mengguyur bagian tubuhnya,dengan air hangat, cuaca sangat dingin beberapa hari ini. tak begitu lama. Hanya lima belas menit Weni sudah keluar dari aktifitas nya.


Memakai pakaian serba hitam, berhias didepan cermin dengan makeup yang natural.Mengikat rambutnya dan memakai kerudung.


"Mau kemana kamu." tanya Noval seraya mengucek matanya.


"Kamu tahu kalo semalam ayah Sandra meninggal?" Weni balik bertanya.


"Tahu... kenapa memangnya." ucap nya beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


"Gila emang lu." umpat Weni sendiri, karna Noval tak memberitahu dirinya.


Setelah semua selesai, Weni menuju meja makan.Menyantap bubur yang dibuat bik Rima hingga tak tersisa.


"Bik... tolong buatkan saya kopi." kata Noval duduk disamping Weni


"Kamu tetep mau kesana, ngelayat, hujan lho kamu juga masih lemas. Aku aja. " imbuh Noval


"Ya iya lah... kamu lupa siapa Sandra?" ucap Weni


"Ya udah bareng aja. " meneguk secangkir kopi.


".... " tanpa menjawab hanya menganggukan kepalanya.


Lalu, Weni dan Noval beranjak dan berpamitan pada bik Rima.


Noval melajukan kendaraannya dengan lambat, hujan mengguyur kota dari malam.Membuat jalanan sedikit licin.


"Kamu kedinginan? aku kecilkan pendinginnya." kata Noval memecah kesunyian didalam mobil.


".... " Weni hanya diam menatap luar dari kaca jendelanya.


"Kamu masih marah sama aku, perasaan setiap aku ngomong kamu hanya diam, gak ngejawab." kata Noval lagi, dan lagi-lagi Weni terdiam.


"Huft... sabar.... " lirih Noval kemudian.


"Oke, aku akan diam dan gak bertanya-tanya sama kamu.Terserah kamu saja,yah.... mungkin kesalahanku gak bisa kamu maafkan.Oke" imbuhnya masih fokus dengan kemudinya.


Satu jam lima belas menit,tepat didepan pagar rumah Sandra, Noval menghentikan mobilnya dan memparkir disembarang jalan.Mengikuti mobil-mobil yang sudah tertata rapi dipinggir jalan.


Karangan bunga dari berbagai perusahaan dan rumah sakit berbaris sepanjang jalanan rumah keluarga Sandra.Mengingat ayah Sandra adalah pemilik perusahaan dan rumah sakit terkemuka di kotanya.


Seraya menundukkan kepalanya, Weni berjalan menuju pintu rumah Sandra yang terbuka lebar.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2