
Digudang kosong dekat pelabuhan Weni disekap dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Matanya masih tertutup kain dan mulutnya tersumpal kain.
Telinganya masih mendengar seseorang yang sedang berbincang menunggu bos yang menyuruh mereka.
Tidak terlalu lama menunggu, Weni mendengar kedua laki-laki itu berbicara dengan seorang perempuan. Mungkin dia yang dimaksud bosnya.
Lalu, perempuan yang belum diketahui Weni berjalan mendekat kepada Weni. Berdiri seraya mengelus pipi dan perut Weni. Sedikit gemetar dan takut, terjadi sesuatu pada perutnya.
"Weni... Weni... dari dulu sampai sekarang kamu selalu menghalangiku mendekati Noval. " ujar si perempuan, suaranya tak asing membuat Weni cepat mengenalinya.
"Diana?" ucap Weni dengan tercengang saat Diana membuka penutup mata dan kain yang menyumpal mulutnya.
"Iya kenapa, apa kamu takut. "
"Apa masalahmu denganku," tanya Weni dengan tegas.
"Tinggalkan Noval untukku."
"Bukannya kamu sudah mempunyai suami, bagaimana mungkin." kata Weni.
"Semua sudah diatur sayang... suami ku hanya menginginkan uang,jadi gak masalah seandainya aku dengan Noval." jelas Diana
"Ngaco kamu Diana.Lepaskan aku, kalo kamu menginginkan uang sebut saja nominal yang kamu mau pasti Noval akan memberikan padamu." ujar Weni
"Aku mau dua-duanya,kamu sebagai penghalang ku harus lenyap." sarkas Diana, "Apalagi anak yang sedang dalam kandungan kamu,itu sangat mengganggu." imbuh Diana melempar sebuah kayu tepat diperut Weni, darah pun keluar mengalir dikaki Weni.
Lemas itu yang Weni rasakan sekarang,meringis kesakitan.
"Jangan macam-macam kamu Diana." sarkas Weni dengan suara yang lirih menahan kesakitan nya.
****
Sementara dirumah sakit, Noval merasa bingung. sudah berapa jam Weni tak datang keruangannya,dengan langkah terburu-buru Noval menghampiri bagian administrasi.
"Permisi apa anda melihat perempuan yang ada difoto ini." tanya Noval pada perawat yang menjaga dibagian itu seraya menunjukkan foto Weni yang ada di ponselnya.
"Tadi dia membayar administrasi pak, tapi ada dua orang laki-laki yang membawanya. Ini saya temukan ponselnya." kata si perawat menyerahkan ponsel Weni yang terjatuh.
"Bagaimana ciri-ciri laki-laki yang membawanya sus." tanya Noval merinding, takut terjadi sesuatu pada Weni. Firasatnya tak baik, mengingat apa yang dikatakan Fito padanya kemarin.
"Pakai baju serba hitam,kacamata hitam, dan orangnya besar pak. Saya pikir mereka keluarganya." jelas si suster.
"Apa saya boleh melihat CCTV dibagian sini sus." tanya Noval.
"Silahkan bapak keruangan CCTV dilantai tiga pak. "
__ADS_1
"Bisa suster mengantar saya, sepertinya istri saya diculik." ucap Noval.
****
Sudah seharian Weni disekap,membuka matanya dengan pelan. Sepertinya dia pingsan menahan kesakitan perutnya.
Matanya mengawasi seluruh ruangan, tak ada Diana disana. Hanya dua orang laki-laki dengan tubuh besar sedang duduk sambil minum-minuman dan main kartu.
"Gue harus bertahan, tak akan terjadi apa-apa dengan bayi gue." gumam Weni pelan.
"Gue yakin Noval sedang mencari keberadaan gue." imbuhnya.
***
Noval menunggu Diana keluar dari kantor, sepertinya dia lembur. Sudah pukul delapan malam belum juga kelihatan barang hidungbya.
Noval tahu pasti Diana yang sudah menculik Weni.Kali ini Noval akan mengikuti kemana dia pergi. Pasti ada jalan untuk menemukan Weni.
Dengan bantuan pak Seno dan ajudan Fito,Noval mulai melancarkan aksinya. Diana keluar dari pintu perusahaan tempatnya bekerja, kantor Noval.
"Pak, sepertinya Diana menuju rumahnya sendiri." ucap pak Seno seraya menunjuk mobil yang dikendarai Diana.
"Menurut kamu apa dia yang menculik istri saya." tanya Noval ragu pada pak Seno.
"Menurut saya pasti dia pak, lihat bukankah itu suaminya.Katanya sudah tidak berhubungan tapi mereka masih bertemu." ujar pak Seno menunjuk pada Diana dan laki-laki yang katanya suaminya.
"Saya rasa juga begitu pak,sampai disini saja. Besok biar saya yang standby disini." kata pak Seno, ikhlas menawarkan bantuannya pada pak Seno.
***
Ditempat yang begitu sejuk, angin berhembus sepoi-sepoi, ombak yang bergulung-gulung. Raina menikmati liburannya kali ini dengan Fito. Tanpa adanya Rasya, hanya mereka berdua.
"Oke Pak Seno, awasi terus Diana. Jangan sampai lengah sedikitpun.Weni harus cepat ditemukan." kata Fito dengan tegas,
"Kamu bilang apa tadi? Memangnya kenapa dengan Weni,apa terjadi sesuatu Fito?" tanya Raina penasaran.
"Sepertinya Diana menculiknya. Noval sedang mencarinya bersama pak Seno, kamu tenang saja." ujar Fito menenangkan Raina.
"Kamu sengaja bawa aku kesini biar aku gak tahu apa-apa tentang Weni." ujar Raina kesal.
"Ya gak dong sayang," kata Fito.
"Pokoknya kita harus pulang, sekarang." sarkas Raina.
"Satu hari lagi sayang,lagian ini sudah malam.Besok pasti Weni ketemu, kamu harus yakin dengan pak Seno. " ucap Fito menarik Raina ke pangkuannya. membelai rambut panjang ikalnya yang terurai.
__ADS_1
Tangannya mulai mengelus kedua pipi Raina,mencium bi**rnya,dengan lembut.Raina pun menyambutnya,tubuhnya yang wangi membuat ga***h Fito semakin tinggi, jantungnya berdegup kencang tak beraturan begitu juga dengan Raina.
Kembali Fito menarik tengkuk leher Raina,masih dengan b***r yang menempel,terus menc**m dan melu**tnya.
Dalam pelukannya Fito tak berhenti dengan aksinya, menggendong Raina keatas ranjang.Membuka helai demi helai baju yang menempel di tubuh Raina.Hingga tak sehelai benang pun menempel.
Tangannya mulai beraksi makin dalam menjelajahi tubuh Raina.Bermain-main dengan gunung kembarnya, membuat Raina men***** matanya terpejam menikmati setiap sentuhan Fito.
(skip)
Fito mengerang tak tahan dengan juniornya yang makin mengeras, dengan sangat hati-hati juniornya masuk ke daerah paling sensitif.Dan...
Argh.... suara yang terdengar keluar dari mulut Fito, saat mencapai puncak klimaksnya.
****
"Halo,apa pak Seno mash berada didepan rumah Diana.?" tanya Noval pads pak Seno lewat panggilan telepon.
"Mash pak," jawab pak Seno singkat seraya menutup mulutnya karna menguap.
"Ikuti kemana dia pergi, karna saya curiga hari ini dia mengajukan cuti." ucap Noval.
"Bail pak, saya akan ikuti kemanapun dia pergi." jawab pak Seno.
"Terima kasih pak, kabari saya jika ada perkembangan." Kara Noval menutup panggilan telepon ya.
Tepat pukul sepuluh, Diana keluar dari rumah nya dengan membawa tas ukuran bear, entah apa yang ada didalamnya.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
"Bos sepertinya dia mengarah ke pelabuhan." ucap salah satu anak buah pak Seno.
"Kamu benar, ikuti terms jangan sampai kehilangan jejak.Kasihan non Weni sedang hamil, aku yakin dia yang menculik non Weni." kaya pak Seno.
"Pak Seno peduli sekali sama istri pak Noval." tanya salah satu ajudan lagi.
"Iya lah, saya kenal non Weni sudah lama dia sahabat non Raina istri bos kalian." jelas pak Seno
"Dia berhenti bos, sepertinya membeli makanan." ajudan
"Oke, kita agak menjauh dulu sepertinya dia curiga." ujar pak Seno.
*
*
__ADS_1
*
*