RAINA DAN FITO, Antara Benci Dan Cinta

RAINA DAN FITO, Antara Benci Dan Cinta
BAB 92


__ADS_3

Hari demi hari,Noval mulai menyesuaikan dengan perubahan Weni.Mengabaikan semua cemberut nya lebih memilih mengikuti kemauannya.Kalo sama-sama egois bisa bubar rumah tangganya.Pikirnya.


"Kamu tidur diluar aja." ucap Weni.


"Kenapa? kamu gak mau aku temenin." kata Noval santai.


"Gak tau,badan kamu bau banget.Aku pusing." ujar Weni seraya memberikan bantal dan selimut pada Noval.


Lalu Noval berjalan keluar kamar.Duduk termenung sambil menonton acara di televisi.


"Permisi tuan... " ucap bik Rima senyum-senyum.


"Bik, tolong buatkan saya kopi." pinta Noval.


"Baik tuan,segera saya buatkan." kembali kearah dapur.


Lima menit kemudian...


"Terima kasih bik." ucap Noval.


"Sama-sama tuan yang sabar ya,biasa wanita hamil itu ngidamnya beda-beda." ujar si bibik.


"Terima kasih,bibik boleh istirahat."


***


"Gue salah gak sih ngejauh mulu dari Noval." tanya Weni seraya meneguk segelas jus dicafe bersama Raina dan Sandra.


"Ngidam lu keterlaluan,kalo menurut gue sih jangan lah begitu, kasihan Noval." ujar Raina.


"Bener Raina,Wen.Sebenernya orang ngidam itu bisa kita lawan." kata Sandra.


"Ngaco lu San, gimana caranya.Lah wong bau gimana sih."


"Lu kan bisa semprot itu badan Noval pake minyak wangi." kata Sandra.


"Noval itu wangi lho, nanti malah perempuan lain yang mencium aroma tubuh Noval.Bagaimanaapa lu rela?." ledek Raina.


"Apaan sih lu,Raina.Gak lucu tahu." pukul Weni dibahu Raina.


Gelak tawa terdengar nyaring menyaingi derasnya hujan diluar cafe.Sudah lama mereka bertiga tidak berkumpul ngobrol.


"Lu sendiri ngidam gak Rain." tanya Weni.


"Gak biasa aja, mungkin ini kehamilan gue yang kedua." jawab Raina.


"Setelah ayah lu pergi,kehidupan lu bagaimana San." ucap Weni.


"Tiap hari ibu datang kerumah,katanya kangen sama si kembar, terus masak.Sore baru balik."


"Tiap hari San?" tanya Weni heran.


"Iya,kalo Bery bilang sih,ibu kesepian setelah ayah pergi.Jadi biarkan saja,mungkin kalo kerumah bisa menghibur dirinya." ungkap Sandra.


"Bagus dong San,jadi ada yang bantuin lu jagain sikembar." ucap Raina


"Iya,cuma gue kasihan aja.Bayangin setiap kali ibu gue masak,pasti menangis.Terus bilang begini,ini masakan yang ayah kamu suka,paling favorit kalo makan ini pasti nambah."

__ADS_1


"Ibu tiri lu cinta banget sama ayah lu." ujar Weni.


"Ya jelas,orang ayah gue cinta pertamanya.Sebenernya mereka sepasang kekasih,tapi karna sesuatu hal jadi ayah menikah sama ibu gue dulu.Ibu tiri gue bilang,penyesalan ayah selama ini dia membuat gue tinggal di panti asuhan.Berkali-kali ayah bilang ke ibu sangat-sangat menyesal tidak bisa membahagiakan gue." cerita Sandra.


"Tapi lu gak dendam atau marah kan." tanya Weni penasaran.


"Ya gak lah,itu udah masa lalu.Mungkin dulu,itu keputusan yang baik buat gue atau ayah."


"Terus masalah rumah sakit,perusahaan dan yang lain yang ayah lu punya.Bagaimana?" tanya Raina.


"Gue gak mempermasalahkan hal itu Rain,tapi rumah sakit masih Bery yang pegang." kata Sandra.


"Hujan nya awet banget ya," imbuhnya memandangi kaca jendela.


"Jadi gimana ini,gue harus bagaimana selanjutnya." rengek Weni


"Sebaiknya lu buang jauh-jauh penciuman lu itu.Lu sugesti sendiri,Noval wangi, Noval wangi... terus aja begitu,percaya deh wangi." ujar Raina seraya tertawa tanpa berdosa.


"Oke, gue bakal coba saran lu Rain.Menurut lu gimana San?" tanya Weni pada Sandra.


".... " gak menjawab hanya mengangkat kedua bahunya.


***


"Selamat sore bik Rima." sapa Weni saat masuk kedalam rumah setelah ngumpul bersama sahabatnya.


"Sore non Weni...ada yang bisa saya bantu." bik Rima menawarkan bantuan pada nona nya yang sedang hamil.


"Hihihi... em,tolong bawakan bag yang ada dibelakang pintu bik..." cengar-cengar pada pelayannya.


"Siap non... apa non Weni mau disiapkan air hangat buat mandi?" tanya bik Rima.


"Non Weni hati-hati ya,pelan-pelan jangan sampai terpeleset,itu pesan dari mami mertua non Weni." ujar si bibik.


"Hah??? kapan mami bilang begitu bik,apa dia kemari?" tanya Weni.


"Iya non,tadi siang nyonya besar mampir kesini.Mencari nona Weni."


"Terus bibik bilang apa ke mami?"


"Saya bilang non Weni sedang main dengan teman-temannya,mungkin dirumah bosan.Begitu non." jelas bibik.


"Good,thanks bik." ucap Weni seraya memberi jempol tangan pada si bibik.


"Kata nyonya,besok mau kemari lagi."


"Hah... kemari bik?"


"Iya non,kata beliau mumpung tuan Noval libur kerja." ucapnya lagi.


"Oh... ya sudah.Saya masuk dulu bik,mau mandi badan bau banget." pamit Weni meninggalkan si bibik di ruang tengah.


****


Malam hari kota masih diguyur hujan,hanya saja intensitasnya lebih kecil,maksudnya hanya gerimis.


Dari atas balkon,Weni memandangi kota jalanan yang dipenuhi mobil-mobil berderet karna macet.

__ADS_1


Menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan selimut,hujan seharian membuat udara makin dingin.


Telinganya menangkap obrolan seseorang dari arah pintu rumah.Pikirannya menuju ke satu orang,Noval.Suaminya sudah pulang dari kantornya.


"Dimana non Weni,bik?" tanya Noval pada bik Rima.


"Ada di balkon tuan."


"Balkon? dingin-dingin begini sedang apa dia?" ucap nya.


"Mungkin menikmati pemandangan kota, tuan." jawab bik Rima.


"Ya sudah,saya kekamar dulu.Bibik siapkan makan malam buat saya." pintanya.


Hanya beberapa menit saja,bik Rima sudah selesai menyiapkan makan malam tuannya.


"Bik,apa non Weni sudah makan?" tanya Noval setelah selesai dengan mandinya dan kini berada di dapur.


"Belum tuan,makanya saya menyiapkan untuk non Weni juga." kata si bibik.


"Oh... ya sudah,bibik tolong panggil non Weni."


"Baik tuan." jawab bik Rima langsung menuju balkon.


"Permisi non Weni sudah ditunggu tuan."


"Ditunggu?mau ngapain bik?"


"Makan malam,bukannya non Weni belum makan malam?" ujar si bibik.


"Oh iya... saya lupa, saya juga lapar." ucapnya.


"Kenapa?masih bau,apa perlu aku pindah tempat."ucap Nocal melihat Weni menutup hidungnya.


"Gak usah,tetap disitu."katanya mencegah Noval pergi.


"Oke,"melanjutkan makannya.


Sementara Weni melahap makanannya masih dengan menutup hidungnya.


Suapan terakhir,Weni merasa tidak tahan dengan aroma tubuh Noval.


Dengan langkah seribu bayangan,Weni memuntahkan semua makanan yang sudah ditelannya.


"Huft...sia-sia sudah kamu makan."ucap Noval lirih.


"Mending aku makan didepan saja bik.Tolong siapkan."pinta Weni lemas memegangi perutnya.


"Tadi kan sudah saya bilang bik,saya makan ditempat lain.Haduh...ngeyel emang."sarkas Noval.


"Sabar tuan,mungkin non Weni ingin mencoba membuang rasa bau nya."kata bik Rima.


"Haduh...apa itu bisa hilang."tanya Noval.


"Bisa tuan,kalo dibiasakan."


"Oh..."

__ADS_1


*


*


__ADS_2