
"Kamu gak tahu tapi bisa menuduh begitu." ujar Weni
"Ya karna kamu selalu membanding-bandingkan aku sama dia."
"Itu semua buat semangat kamu, gak ada maksud lain."
"Kamu aja yang selalu aja dibawa perasaan." lanjutnya
"Memangnya salah kalo perasaanku seperti itu."
"Ya salah dong, kamu harus lihat dari sudut pandang aku juga." kata Weni mulai meninggikan nada suaranya.
"Oke, aku emang ga pernah ngertiin kamu. Aku emang selalu saja salah dimata kamu.Sekarang terserah maunya kamu apa, Mau balikan sama Joe terserah, Aku juga bisa ngerayu Lusi." ucap Noval sangat emosi.
"Apa kamu bilang? Oh... aku tahu sekarang, kamu masih punya perasaan sama Lusi, pantas saja. "
"Ah... terserah kamu." pergi meninggalkan Weni seraya membanting pintu.Membuat ibu dan bikin Inah terbangun dari tidurnya.
***
Lima menit setelah Noval pergi, ibu Weni membuka pintu kamar Weni.Duduk disamping anak perempuannya, mengelus-elus punggung anaknya.Mencoba menenangkan anaknya yang sedang menangis.
"Kemasi barang-barang kamu sekarang, ibu gak mau melihat kamu menangis lagi." ucap ibunya.
"Weni yang salah bu,Weni gak bisa pergi dari sini."
"Ibu gak habis pikir sama kamu Wen, suami kasar begitu kamu mau pertahankan?" ujar ibunya lagi.
"Bu, menurut ibu apa aku salah jika terus membandingkan Noval dengan Joe?" tanya Weni.
"Joe? maksud kamu yang dulu naksir kamu terus pernah kerumah juga waktu kuliah." jawab ibunya seraya memikirkan laki-laki yang bernama Joe.
"Iya bu,Noval sangat marah bu. Padahal aku cuma ingin dia lebih semangat."
"Ya jelas salah Wen, mana ada suami yang gak marah jika dibanding-bandingkan dengan laki-laki lain, apalagi laki-laki itu pernah dekat sama istrinya."
"Sebenernya apa yang kamu tuntut dari Noval,menurut ibu dia sudah punya segalanya." lanjut ibunya.
"Awalnya Weni pengen Noval seperti Joe bu,memimpin perusahaannya sendiri,bukan hanya bawahan Fito.Tapi ternyata.... "
"Wen... Wen... Noval bekerja saja itu sudah cukup, itu artinya dia tanggung jawab sama kamu.Apa selama ini kamu kekurangan?“
" Makanya bu, Weni harus minta maaf dan memperbaiki kekacauan yang sudah Weni buat bu."
"Tapi, ibu tetap harus pulang ayahmu sendirian, sudah lama juga ibu disini."
"Weni tahu bu, jam berapa ibu jalan biar Weni antar."
"Gak perlu, kamu jaga eL saja dirumah lagian hari ini bukannya kamu cek jahitan kamu." kata ibunya
"Iya bu, jadi gak papa kalo ibu jalan sendiri."
"Ya gak papa lah," ucapnya, "Ya sudah ibu beberes dulu, kamu istirahat gak usah banyak pikiran. Ibu yakin Noval sedang menenangkan dirinya." imbuhnya.
****
__ADS_1
Sudah dua hari ini Noval tidak pulang kerumah,kabar pun tak ada. Entah dimana dia sekarang,ponselnya pun tertinggal dirumah.
"Bik Inah, bisa tolong ranjang eL simpan digudang bik." pinta Weni.
"Memangnya kenapa non."
"Gak papa, biar eL tidur sama saya saja.Buat temen saya bik." ucapnya.
"Oh... baik non." segera bik Inah mendorong ranjang bayi kedalam gudang.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi non." tanya bik Inah.
"Tidak ada bik,Terima kasih." jawab Weni seraya berjalan ke kamarnya.
"Ada apa dengan non Weni,dari wajahnya kelihatan biasa saja gak sedih atau marah." gumam bik Inah meraih ponselnya diatas rak piring, lalu menghubungi nyonya besarnya.Melaporkan semua kejadian dirumah nona mudanya.
"Awasi terus non Weni,bik.Jangan sampai dia berbuat yang tidak-tidak." jawab nyonya besarnya dari ujung telepon mengkhawatirkan menantunya.
"Baik nyonya." bik Inah menutup sambungan teleponnya dan kembali ke aktifitasnya.
***
Dipinggir pantai, tengah malam Noval duduk dengan pandangan kosong.Banyak sekali masalah yang sedang dipikirkan.Yang paling disesali adalah ketika Noval dengan lantang mengatakan ingin merayu kembali mantan pacarnya dulu, Lusi.
Sedang dia tahu,Lusi sudah menikah dan bahagia dengan Joe.
"Aku selalu saja tidak bisa mengontrol emosiku,selalu saja menyakiti hati Weni." gumam Noval.
"Sudah kesekian kalinya begini." lirihnya.
"Kemana lagi memangnya," jawab Noval.
"Kenapa gak pulang, gak kerja, dan gak ada kabar." tanya Fito, sahabat sekaligus bos nya.
"Gue yakin lu juga tahu masalah gue,Raina lu itu pasti sudah melapor kan?." ujar Noval.
"Cekceks... berani juga lu ngatain istri gue."
"Hah.... "
"Noval... Noval... Raina itu peduli sama Weni,dia gak mau sahabatnya baby blues.Tertekan dengan keadaanya setelah melahirkan,nih lu baca sendiri artikelnya." Fito menyodorkan ponselnya, lalu Noval meraihnya dan membacanya dengan teliti.
"Gimana? Apa lu masih mau tetep disini?" tanya Fito.
"Apa alasan gue balik kerumah Fit,gue bener-bener gak tahu mau ngomong apa sama Weni.Banyak banget kesalahan dan penyesalan gue, Fit."
"Minta maaf,perbaiki sifat lu,coba pahami Weni."
"Lu tahu Val,setiap hari pasti ada saja ocehan Raina.Tapi gue tetep diam,mendengarkan dia,lu tahu kenapa." imbuhnya.
"Kenapa Fit."
"Karna gue tahu dia lebih capek daripada gue,dirumah dia mengurus rumah,anak,semuanya dia yang handle."
"Gitu yah Fit." ujar Noval
__ADS_1
"Iya dong,lu pikir aja sendiri coba."
"Oke, gue nanti balik." kata Noval seraya menyuruh Fito kembali ke rumahnya.
****
Benar saja,siang hari Noval memutuskan kembali kerumahnya.Dengan pakaian yang sama waktu dia pergi,berantakan sekali tak terurus.
Setibanya di tempat parkir,bengong sejenak memikirkan apa yang harus dikatakan saat bertemu Weni.
Langsung minta maaf kah, atau basa basi dulu atau diam saja.Haduh... pusing sendiri.
"Ah... masa bodo,yang penting balik dulu. urusan mau ngomong apa itu nanti." ujar Noval seraya membuka pintu mobil berjalan keapartrmentnya.
Gak butuh waktu lama,hanya sepuluh menit Noval sudah berada didepan rumahnya.Membuka kode akses pintu dan langsung masuk kedalam.
"Eh... tuan," sapa bik Inah yang terkejut dengan suara pintu terbuka.
"Iya bik,kok sepi." tanya Noval.
"Non Weni pergi dari pagi,sepertinya ada kontrol jahitannya tuan," jawab bik Inah.
"Terus baby eL dimana?"
"Bibik gak tau dibawa atau dititip ke nyonya besar."
"Oh... ya sudah, saya mandi dulu bik."
Setelah dua puluh menit, Noval keluar kamar. Mengutak atik benda pipih warna hitam miliknya.Mendial kontak yang ada dilayar ponselnya.
"Halo... ada dimana." tanpa bada basi Noval langsung to the point.
"Emm... lagi makan sama Raina, Sandra." suara jawaban dari ujung telepon, Weni.
"eL kamu bawa?" tanya Noval.
"Gak, sama mami." jawab Weni singkat.
"Makan dimana,sekarang aku jemput."
"Tempat biasa.Eh,.. tapi.... " belum selesai dijawab, Noval sudah menutup panggilannya.
"Huh... aneh, Tiba-tiba telepon." gumam Weni.
"Siapa Wen, kok kesal begitu muka lu." tanya Sandra.
*
*
*
*
Terima kasih yang sudah baca cerita ini, Maaf ya semua ceritanya amburadul makin kesini, makin kesana. hehehe...
__ADS_1