
Raina kini berada di ruangan pasien,ruang dipenuhi kegembiraan keluarga besar Fito.Menyambut kedatangan keluarga baru.
Raina tersenyum,hatinya merasa sedih ibunya tak berada di sisiNya.
Melihat raut wajah Raina yang sedikit murung,mami mertuanya mendekati dan menghiburnya.
"Terima kasih sayang,sudah memberikan cucu yang sangan tampan." ucap mami mertuanya memeluk Raina.
"Mami tahu jelas,pasti kamu merindukan ibu kamu kan?" ucapnya lagi.
Raina kembali memeluk erat mami mertuanya dan menangis.
"Sudah ya sayang, disini ada mami,Fito dan semua sayang sama kamu." imbuh maminya
Beberapa menit kemudian,Weni dan Sandra datang,suasana menjadi ramai.Raina tak terlihat sedih lagi.Kedua sahabatnya berkunjung.
"Duh....lucu banget." ucap Weni.
"Kalo lucu punya baby sendiri dong." kata Raina.
"Mau... tapi belum dipercaya sama yang diatas." jawab Weni seraya menggendong baby Raina.
"Kurang semangat bikinnya." timpal Fito dari arah pintu membawa makanan.
"Bukannya gak semangat,suami kecapekan karna lembur tiap hari." ujar Weni.
"Siapa yang suruh lembur,mungkin Noval males kali dirumah ada nenek-nenek yang cerewet banget." ledek Fito.
"Kurang a**r lu." umpat Weni.
"Sudah,kenapa kalian kalo ketemu selalu aja kayak an**ng dan kucing sih." kata Sandra.
"Lu sendiri gimana San,udah ada rencana belum punya baby." tanya Raina.
"Gak perlu rencana,semua yang sudah menikah pasti pengen cepet punya momongan." jawab Sandra.
"Terus... " lanjut Raina.
"Doa in aja,gue udah telat sebulan." kata Sandra.
"Yah.... keduluan Sandra deh lu Wen." ledek Fito lagi.
****
Hari sudah sore,Weni dan Sandra berpamitan pada Raina.Ruangan menjadi sepi kembali,hanya sesekali terdengar tangisan bayi Raina.Tinggal Fito yang menjaga Raina.
"Fit,kapan aku boleh pulang?" tanya Raina.
"Mungkin besok juga sudah boleh," jawab Fito, "Oiya, kita pulangnya kerumah mami." imbuhnya.
"Kenapa?" tanya Raina.
"Biar kamu ada yang jagain,sementara nunggu kamu pulih dan kuat." ucap Fito.
"Tapi Fit... "
"Udah aku tahu kamu gak mau,tapi semua demi kebaikan kamu,sayang." katanya,"Disana banyak orang,ada mami, Fita,dan bik Imah yang akan bantuin kamu menjaga Rasya."lanjutnya.
"Aku bisa menjaga Rasya sendiri Fito." Raina kekeh, "Aku gak enak sama mami kalo harus ngeropitin."
"Raina,kalo kita menolak apa yang dipikirkan mami coba?" tanya Fito.
__ADS_1
"Iya sih,"
"Gimana? Apa kamu masih mau tinggal di apartment?"
"Ya udah,aku ikut yang kamu katakan aja." Raina akhirnya mengalah.
***
Di apartemen Weni...
"Sudah jenguk baby nya Raina?" tanya Noval.
"He-em." jawabnya sedikit malas.
"Kok lemes begitu, kenapa."
"Bos kamu itu,selalu aja ngeledekin aku." ucap Weni.
"Memangnya Fito ngomong apaan sama kamu." tanya Noval
"Katanya kita kurang ge**l bikin baby." kata Weni.
"Gak usah didengerin."
"Lagian,kamu kenapa sih gak mau chek ke dokter sama aku." ujar Weni.
"Aku capek,jangan mulai lagi." ucap Noval meninggalkan Weni diruang santai.
"Maaf Weni,sebenarnya aku sudah pernah ke dokter,aku memang sehat hanya saja mungkin sedikit lama untuk mendapatkan baby." gumam Noval didalam kamarnya.
****
"Terima kasih mami,bik Imah dan semua sudah membantu menjaga Raina dan Rasya." ucap Raina sebelum meninggalkan rumah mertuanya.
"Iya sayang,sering-seringlah datang kesini bawa Rasya,mami akan sangat merindukan kalian." jawab maminya.
"Mami kan bisa ke apartemen,sekalian temenin Raina." ucap Fito,"Oiya bik Imah,gimana apa sudah ada orang yang akan membantu Raina."tanya Fito pada bik Imah.
"Sudah tuan,kapan mereka bisa bekerja." jawab bik Imah.
"Sekarang juga boleh,lebih cepat lebih baik." kata Fito.
"Eh,kamu gak interview mereka dulu Fit." tanya Raina.
"Tenang aja sayang,aku kenal mereka."
"Kenal?"
"Iya,kamu tenang aja mereka saudara bik Imah.Lebih tepatnya adik bik Imah." jelas Fito.
"Benar non Raina,bik Fatma sama suaminya adik bibik sendiri." lanjut bik Imah.
"Apa mereka sudah disini bik.Biar Sekalian bareng aja." ucap Fito.
"Sudah tuan,semalam saya telepon mereka.Sebentar saya panggil mereka." kata bik Imah lalu berjalan kearah dapur memanggil saudaranya.
Lima menit kemudian,bik Imah membawa saudaranya.
"Kenalkan non Raina,ini adik saya Wisnu dan ini istrinya Fatma,mereka yang akan membantu non Raina."
"Oh..." Raina hanya ber oh ria, ternyata pikirannya salah.Raina kira adik bik Imah masih muda ternyata mereka sama tua nya.
__ADS_1
"Kenapa sayang,kok bengong.Kamu pikir mereka masih muda?" ucap Fito seakan-akan dia tahu apa yang ada dikepala Raina.
".... " tersenyum manis.
"Ya sudah,ayok kita jalan.Kita permisi dulu mih,main-main kesana mih,ajak Fita juga." pamit Fito.
****
Akhirnya... satu jam Raina dan Fito melewati jalanan yang sepi,karna belum jam istirahat kantor.
Fito membukakan pintu apartemen untuk Raina,mereka berjalan masuk diikuti kedua pembantu rumahnya.
"Pak Wisnu sama bik Fatma,istirahat saja dulu.Itu kamar kalian." tunjuk Fito kearah kamar diseberang dapur.
"Baik tuan, Terima kasih." jawab mereka serentak.
Fito masuk kedalam kamar bersama Raina.Raina terkejut bukan main,melihat kamar yang sudah disulap,kamarnya berubah sekarang disamping ranjangnya,ada ranjang baby juga.
Memudahkan Raina mengawasi Rasya.
"Gimana sayang,apa kamu suka sama dekorasi kamar kita." kata Fito merangkul bahu Raina.
"Suka banget Fit,kamu kapan mendekor semua ini." kata Raina seraya berjalan mengelilingi ranjangnya.
"Sewaktu kamu dirumah mami."
"Oh..." jawabnya singkat,"Fit,apa bik Fatma sama pak Wisnu bisa dipercaya."tanya Raina.
"Tenang aja sayang,mereka bisa dipercaya kamu hanya belum mengenal mereka."
"Memangnya kamu sudah lama kenal mereka."
"Sudah sayang,bik Fatma juga pernah merawat aku dulu waktu bik Imah pulang kampung.Pak Wisnu pernah jadi sopir papi,tapi berhenti karna sakit." jelas Fito,"Kamu biasa saja sama mereka,sama kayak bik Imah."imbuhnya.
"Oke."
Hari sudah sore,Raina memandikan Rasya dibantu bik Fatma.Terlihat bik Fatma sangat mahir memegang Rasya.Rasya pun tenang dan nyaman ditangannya.
"Bik Fatma sudah punya anak berapa?" tanya Raina di sela-sela bik Fatma memakaikan baju pada Rasya.
"Hanya non,usia bibik aja sudah hampir lima puluh tahu.Bibik punya tiga anak,mereka kuliah semua non." jawab bik Fatma.
"Oh,mereka tinggal dengan siapa?"
"Dikampung sama saudara non,lagi mereka sudah besar bisa menjaga dirinya sendiri." ucapnya.
"Oh."
"Iya non,mereka laki-laki semua jadi bibik bisa bekerja dengan tenang.Mereka juga anak-anak yang sopan,bertanggung jawab.Pokoknya bibik bangga sama mereka." cerita bik Fatma bangga.
"Oh... "Raina mengakhiri pertanyaannya pada bik Fatma.
*
*
*
*
*
__ADS_1