
Setelah kepergian ibunya,Bery menjadi orang yang paling diam dan dingin.Lebih dari sifat sebelumnya,Sandra muak dengan kehidupannya.Sudah tidak ada komunikasi diantara mereka.
Pagi hari Bery berangkat bekerja,begitu juga dengan Sandra.
Saat malam,Masing-masing sudah terlelap diatas ranjang.Begitu seterusnya setiap hari.
"Bery,ayah mengundang kita makan malam.Apa kamu ada waktu?" tanya Sandra saat sarapan sebelum berangkat.
"Kamu tahu sendiri,pasien dirumah sakit keluarga kamu itu banyak,aku gak ada waktu." jawab Bery tanpa melihat wajah Sandra,dan seperti jawaban-jawaban dia sebelumnya selalu menyinggung keluarga Sandra.
"Aku berangkat," pamit Bery,meninggalkan Sandra padahal mereka bekerja disatu rumah sakit yang sama.
"Huft.... " menghela napas panjang,"Pernikahan akibat kecelakaan,aku muak."gumam Sandra membereskan piring bekas sarapan.
***
Ponsel warna hitam milik Sandra bergetar dan berdering.Terlihat nama Weni terpampang dilayar ponsel.
"Halo,Sandra.Gue sama Raina ada dicafe dekat rumah sakit nih.Lu kesini ya" kata Weni dari ujung panggilannya.
Sandra beranjak dari kursi kebesarannya dirumah sakit,setelah mematikan sambungan teleponnya.Keluar ruangan,berjalan tanpa menoleh atau hanya sekedar mencari keberadaan Bery.Dirinya sudah masa bodoh dengannya.
Lain dengan Bery,dia melihat kepergian Sandra dari ujung koridor rumah sakit.
"Mau kemana dia jam segini." kata Bery lirih seraya berjalan kearah Sandra.
Sandra tidak membawa mobilnya,karena cafe yang dituju hanya berjarak setengah kilometer saja.
Hanya membutuhkan lima belas menit untuk sampai dicafe itu.
"Hai... " sapa Sandra menarik kursi dan mendudukinya.
"Hai... gimana kabar?" tanya Raina.
"Hai... kabar baik,lagi banyak kerjaan juga dirumah sakit.Ada apa ini bisa ngumpul begini." kata Sandra.
"Fito gak bisa nganter Raina kontrol jadi dia ngajak gue buat nemenin." ucap Weni.
"Oh... " jawab Sandra.
"Sandra... apa ada masalah?" tanya Raina yang menyadari wajah Sandra pucat tak bertenaga.
"Gak ada,memangnya kenapa?" jawab Sandra.
"Lu terlihat pucat dan kelelahan." kata Raina.
"Oh...banyak kerjaan akhir-akhir ini." Sandra.
"Gue kenal lu bukan kemarin Sandra,kita berteman udah lama." kata Weni,"Jadi berbagilah dengan kita,siapa tahu hati lu bisa enakan sedikit."imbuhnya.
__ADS_1
"Apa ada kaitannya dengan Bery." ucap Raina langsung.
"Iya,gue muak sama kehidupan pernikahan gue." ujar Sandra.
"Kalian bertengkar?" tanya Weni.
"Lebih baik bertengkar daripada seperti ini." kata Sandra.
"Maksud lu apa San" ucap Raina.
"Setelah Bery kehilangan ibunya,dia jadi pendiam dan dingin sama gue.Mungkin dia nyalahin gue,ibunya meninggal setelah kita selesai menikah."
"Maksudnya,Bery...." kata Raina terhenti.
"Rumah seperti kuburan,sepi tenang.Tak ada komunikasi kalo gue mau nanya,dia jawab sekenanya aja." cerita Sandra,"Dan banyak lagi yang bikin gue muak sama dia bahkan sama kehidupan gue sendiri."imbuhnya
"Kok Bery begitu ya,perasaan dulu dia orang yang sangat mengerti perasaan orang." ucap Raina.
"Gue juga gak tahu." jawab Sandra meneguk segelas teh manis yang dipesankan Raina untuknya.
"Tapi kalo diranjang.... gimana?" ledek Weni.
"Gak pernah." jawab Sandra singkat membuat Raina dan Weni melongo kaget.
"Masa sih... Sandra?" ucap Weni.
"Apa menurut kalian gue gak muak sama semua itu.Pokoknya mulai sekarang,gue ikutin aja alurnya dia." ucap Sandra lagi.
****
Sandra kembali dari cafe,melihat Bery yang sedang memandanginya.Cuek,wajah Sandra terlihat cuek dan masa bodoh dengan Bery.Membuka pintu ruangannya dan menutupnya kembali.
Yang dilakukan Sandra tentu saja menarik perhatian para perawat disana.Hampir semua membicarakannya.
Jarum jam sudah menunjuk diangka tiga,Sandra membereskan semua berkas dan dokumen yang ada dimejanya.Lalu,menyaut tas selempangnya membuka pintu ruangannya dan keluar.
Pulang tanpa berpamitan dengan Bery,yah,paling gosip dirinya sedang bertengkar sudah beredar.Sandra tak menghiraukannya.
"Sore Bu Sandra,sendirian aja nih, mana dokter tampan?" sapa Dea si perawat yang pernah dicemburuin Sandra saking dekatnya dengan Bery.
"Sore Dea,pulang juga atau baru dateng." jawab Sandra sekaligus bertanya saat bertemu Dea di lobby rumah sakit.
"Pulang bu,oiya,saya dengar.... " menghentikan ucapannya,dia pikir tidak ada kapasitas dia untuk bertanya perihal hubungannya dengan dokter Bery.
"Gak ada apa-apa Dea,gak usah dengerin gosip.Kita baik-baik saja." ucap Sandra tahu arah ucapan Dea.
"Oh... baiklah kali begitu,saya takut dokter Bery hatinya terluka." kata Dea ketawa,"Saya duluan bu."pamitnya.
"Dea,lu gak tahu kalo yang terluka itu gue." gumam Sandra.
__ADS_1
****
Sandra sedang asyik dengan benda pipihnya didepan balkon.Sesekali tertawa saat menggeser jarinya diatas benda pipih itu.
Sandra sedang melihat foto-foto yang dikirim ibu panti pada dirinya.
Bery pulang sudah malam dan membersihkan badannya dikamar mandi.Sandra tahu kalo suaminya sudah pulang,tapi mengabaikannya.Enggan untuk berbasa basi dengannya,percuma yang ada hanya diam yang didapat.
Bery kembali dari aktifitasnya,sekarang berada di dapur membuat secangkir kopi.Menikmatinya didepan televisi,seraya memainkan ponselnya.
Ingin sekali Sandra mendekati dan menemaninya,tapi Sandra mengurungkan niatnya.Saat melihat raut wajah Bery yang memerah setelah dia mendapat telepon entah dari siapa.
Bergegas Bery bangun dari duduknya,berjalan menuju kamarnya.Menarik selimut dan menutup semua bagian tubuhnya.
"Apa kita akan seperti ini terus?" ucap Sandra melihat Bery dengan menutup selimutnya.Percuma tak ada jawaban.
"Aku bosen seperti ini terus,aku muak." imbuhnya seraya membaringkan tubuhnya membelakangi Bery.
"Aku capek,setidaknya kasih tahu dimana kesalahanku Bery.Mungkin aku bisa memperbaikinya." Sandra.
Lama Sandra mengeluarkan unek-unek dalam hatinya,tapi tetap saja tak ada balasan dari Bery.Sampai akhirnya Sandra tertidur.
Bery membalikkan badannya ketika tak lagi mendengar ocehan Sandra.
"Maafin aku Sandra." ucap Bery seraya mengelus kepala Sandra dan mencium keningnya.
****
Pagi yang cerah,sinar mentari sudah berada dibagian timur.Embun pagi masih bergelayutan didaun-daun.Terdengar suara burung berkicau,suara mangkok yang di pukul si penjual bubur.
Raina berjalan kaki mengelilingi taman di apartemennya ditemani Fito.Karna sudah hamil delapan bulan,Raina harus banyak berjalan kaki.
"Pelan-pelan aja jalannya." ucap Fito.
"Tenang saja,ini juga pelan." jawab Raina.
"Oke,kita istirahat dulu sekalian mau makan bubur ayam gak,sayang." kata Fito.
"Boleh sayang,jangan pedas ya." jawab Raina.
Fito memesan bubur ayam yang biasa mangkal ditaman apartemennya.Sementara Raina duduk menunggu Fito dan bubur ayamnya.
*
*
*
.
__ADS_1