
(Skip)
Dua bulan kemudian,setelah Sandra kembali dari kampung Bery,dia memutuskan menjauh darinya.
Sakit hati yang Sandra rasakan karna penolakan Bery,membuat dirinya sadar menjauh dan melupakannya adalah jalan satu-satunya.
"Lu beneran mau ngelupain Bery,San." ucap Weni seraya menjatuhkan bokong nya diatas sofa.
"Gue udah capek,tiga kali gue ditolak sama dia." jawab Sandra santai.
"Bagus juga sih,mungkin dia bakal kangen sama lu.Kasih dia pelajaran." timpal Raina.
Mereka bertiga sedang kumpul menghabiskan malam minggu tanpa pasangan.
Raina tanpa Fito,dia sedang dinas diluar kota.Sementata Weni dan Sandra masih jomblo.
"Oiya,Raina.Waktu gue kerumah Bery,dikamarnya tuh banyak sekali foto lu.Mungkin kalo Fito lihat dia bakalan marah." ujar Sandra.
"Cuma foto,dulu gue emang akrab sama dia.Dia seperti abang gue,tapi setelah gue kuliah disini kita jadi jauh gitu,rasa canggung itu ada." Raina.
"Seperti saudara maksud Raina,Sandra." ledek Weni yang tahu perasaan Sandra.
"Ih... peduli amat,gak ada hubungannya kali." kata Sandra kesal.
"Sudah,sudah gak usah pada ngomongin cowok,mending kita mulai makan aja.Weni tolong ambil peralatannya kita mulai buat hotpot ala-ala drama k***a gitu." suruh Raina.
"Raina,lu rebus daging sampe matang ya.Inget lu lagi hamil muda,jaga makanannya jangan yang mentah." ucap Sandra.
"Siap bu bos,sudah tahu." jawab Raina seraya memberi hormat pada Sandra.
Malam semakin larut,Raina dan kedua sahabatnya makan sampai kekenyangan.Sampai-sampai mereka bertiga ketiduran,masih diposisi semula.
***
Dua minggu ini Sandra tidak pernah ke rumah sakit,alih-alih menghindar dari Bery Sandra memilih datang saat Bery libur bertugas atau saat dia shif malam.
Usahanya begitu kuat untuk melupakan Bery,tapi tak sekuat hatinya.Saat terpaksa harus menemuinya,karna Bery dokter umum dirumah sakitnya. Seperti sekarang,dia harus bertemu dengannya.
"Bagaimana keadaan pasien diruang anggrek, dok." tanya Sandra pada Bery.
"Sebagian sudah sembuh,dan sebagian masih ada yang tinggal.Mereka menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya." jawab Bery,
"Oh... "
"Apa ada yang ingin anda tanyakan?" ucap Bery sangat sopan,menghormati Sandra yang notabene atasannya.
"Tidak ada,hanya ingin tahu saja.Masalahnya banyak obat yang belum datang untuk pasien diruangan itu." kata Sandra,beranjak dari duduknya dan berjalan hendak meninggalkan ruangan meeting.
__ADS_1
"Apa cuma ini yang ingin kamu tanyakan." ucap Bery menghentikan langkah Sandra.
"Tidak bisakan kita berlagak seperti biasa,kenapa kamu selalu menghindar jika bertemu.Aku hanya meminta waktu sama kamu." ujar Bery sedikit keras sehingga mengundang penasaran disekitar ruang itu.
"Ibu Sandra sedang berdebat dengan dokter Bery." ucap salah satu perawat.
"Sepertinya dokter Bery melakukan kesalahan." ucap perawat yang lainnya.
"Ada apa sebenarnya dengan mereka?Bertengkar dirumah sakit." ucap Dea bingung.Hanya Dea yang tahu hubungan antara dokter Bery dan Sandra.
"Maksud dokter Bery apa?Kenapa masalahnya jadi panjang,saya hanya menanyakan keadaan pasien saja." ucap Sandra menahan emosi.
"Oh...silahkan kamu lanjutkan.Mungkin dengan begini kamu bisa balas dendam atas apa yang aku perbuat sama kamu." sarkas Bery membanting stetoskop yang sedari tadi menggantung dilehernya.Lalu pergi meninggalkan Sandra diruang meeting dengan marah dan membanting pintu.
Sontak tindakan Bery mengundang rasa penasaran para perawat dan semua yang lewat diruangan itu.
Sandra menjatuhkan bokongnya diatas kursi,memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
Kemudian Dea menghampirinya,"Permisi,ibu Sandra tidak apa-apa? Ada yang bisa saya bantu."
"Tidak Terima kasih." jawab Sandra,"Saya kembali keruangan dulu,"imbuhnya.
****
"Itu salah lu Bery,dari awal sudah gue katakan.Sandra bisa saja menyerah kalo lu terus menolaknya." ujar Weni saat makan siang dengan Bery.
"Gue cuma minta waktu sama dia,bukan menolaknya." bela Bery.
"Itu kata lu,buat dia lu menolaknya secara halus.Berapa kali coba,sudah ketiga kalinya lu nolak Sandra." ucap Weni sedikit kesal.
"Weni,lu tahu kan masalah gue apa."
"Pikiran lu terlalu jauh,berpikir negatif sama keluarga Sandra.Memangnya selama lu kenal Sandra,dia matrealistis." ujar Weni.
"Gue mesti gimana coba." tanya Bery seraya memegangi kepalanya yang serasa mau pecah.
"Minta maaf dan selesaikan masalah kalian,kalo emang lu mau lanjut bilang,dan kalo lu mau udahan bilang baik-baik."
***
Di lobby rumah sakit,Sandra berjalan lunglai kembali pulang.Tiba-tiba terdengar orang yang memanggil namanya.Sandra pun menoleh kebelakang mencari dimana sumber suara tersebut didengar.
"Hai Raina,sedang apa?" tanya Sandra.
"Biasa kontrol.Eh,dokter Sari udah gak disini,kok lu gak kasih tahu gue." ucap Raina.
"Lupa,mana suami lu." jawab Sandra cengar cengir.
__ADS_1
"Masih dikantor banyak kerjaan,lagi gue cuma kontrol biasa.Oiya,dokter Sari pindah tugas kemana." ucap Raina seraya berjalan pelan beriringan dengan Sandra.
"Bukan pindah tugas,dokter Sari berhenti."
"Maksud lu,gak kerja jadi dokter lagi?" tanya Raina penasaran,"Apa yang membuat dia berhenti,apa masalah dengan suaminya?"batin Raina.
"Iya Raina,kata perawat disini dokter Sari memilih jadi ibu rumah tangga saja mengasuh King dan melayani suaminya." kata Sandra.
"Lu yang tandatangan surat pengunduran dirinya,kenapa lu gak nanya alasannya." Raina masih kepo.
"Hah...ada apa sama lu Raina,kenapa pengen tahu banget urusan orang.Lu masih curiga sama Fito."
"Bukan maksud gue begitu,tapi aneh aja.Selama ini dia deket banget sama mas Fito,hampir setiap hari ketemu.Gue pernah berpikir kalo mereka ada main,tapi lu bilang dia mau menjadi ibu rumah tangga." jelas Raina.
"Raina,apa gue gak salah denger.Tadi lu manggil suami lu apa?MAS? " ucap Sandra menekankan kata MAS.
"Mas, Mas Fito.Kenapa emang ada yang salah?" kata Raina.
"Sejak kapan lu manggil Fito dengan Mas,kesambet setan mana lu." ledek Sandra.
"Gak tahu kenapa,selama gue nikah sama dia gue rada gak sopan kalo panggil dia hanya dengan namanya saja." jelas Raina,"Ibu sama Ayah pernah bilang,kalo gue harus menghormati suami gue."imbuhnya.
Mobil mewah menunggu didepan pintu masuk rumah sakit,"Eh,supir lu udah dateng tuh."ucap Sandra.
"Ya udah,gue pulang dulu." pamit Raina.
"Hati-hati dijalan,pak Seno jangan ngebut ya." ucap Sandra melambaikan tangan pada Raina.
"Da... da... Sandra." teriak Raina,"Pak Seno,kita kekantor saja."lanjut Raina.
"Baik bu Raina." jawab asisten Fito,lalu melajukan kendaraannya menuju perusahaan Fito.
"Jangan ngebut pak." pinta Raina.
*
*
*
*
*
bersambung....
jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote kalian ya.terima kasih
__ADS_1