
Raina masuk kedalam apartemennya,kaget saat melihat dokter Sari sedang ngobrol dan bercanda dengan Fito,suaminya.
Berhenti sebentar saat matanya menatap tajam suaminya.
Menyunggingkan bibir bagian kirinya,lalu masuk kekamar tanpa permisi.
Raina melempar tas selempang nya keatas ranjang.Masuk kekamar mandi dan berendam dibathup dengan ditemani busa sabun yang melimpah.
Raina memejamkan matanya,berusaha berpikir positif pada suaminya.Rileks,tapi tetap saja wajah mereka ada dipikiran Raina.
Bagaimana tidak,mereka pernah saling mencintai dulu.Bisa dibilang cinta pertama.
"Sebenarnya apa yang mereka obrolin setiap hari?"
"Apa mereka balikan,gimana dengan nasib gue."
"Kalo emang benar,harusnya Fito bilang ke gue."
Raina bergumam masih dengan matanya yang terpejam dan menyandarkan kepalanya pada tepian bathup.
"Kamu sedang ngomong sama siapa." tanya Fito tiba-tiba berada di sampingnya.
"Sendiri,apa dokter Sari sudah pulang." jawab Raina ketus matanya masih terpejam
"Baru saja,kenapa emang."
"Gak papa,apa dia menitip kan King pada kita." ucap Raina.
"Ya,anaknya sudah tidur kecapekan mungkin." ujar Fito.
"Gimana gak capek,diajak mondar-mandir mulu sama maminya.Apa dokter Sari gak punya pasien,bolak-balik kemari,ke kantor kamu." ujar Raina.
"Kok kamu tahu dia kekantor." tanya Fito yang menyadari kalo istrinya sedang cemburu."Butuh teman curhat."imbuhnya menggoda Raina.
"Curhat kok sama mantan," Raina menenggelamkan kepalanya,sementara Fito keluar kamar mandi.
Duduk dengan laptop dipangkuan nya, menyandarkan kepalanya disandaran ranjang.Memeriksa laporan dari direksi yang belum sempat dilihat.
Beberapa menit kemudian,Raina keluar masih dengan jubah mandinya.Handuk buat membungkus kepala,rambutnya basah.
(skip)
Kali ini Raina mengenakan lingerie pemberian Weni saat menikah dulu.Bahannya yang menerawang,dan modelnya yang begitu sexy.
Raina memakainya bak seorang model,tubuhnya yang tinggi, cantik,kulitnya putih.Perfect, sempurna.
Fito memandanginya tak berkedip,menelan salivanya.Menutup laptop dan mendekati Raina.
Adik kecilnya sudah tegak berdiri.
"Raina," colek Fito dipunggung Raina yang sedang berbaring membelakangi nya.
"Stop!! rambutku sudah basah,dan aku gak mau basah lagi.Jauh-jauh dariku." jawab Raina memberi ultimatum keras.
Seketika adik kecilnya Fito kembali seperti semula.
__ADS_1
"Sabar ya.... " ujar Fito mengelus-elus adik kecilnya.
****
Mentari dipagi hari begitu cerah,Raina menggeliatkan tubuhnya,meregangkan otot-ototnya.Menengok ke samping,tak ada suaminya.
"Hari libur,tumben dia sudah bangun." gumam Raina berjalan ke kamar mandi.
Matanya menatap tas yang ada dimeja dekat nakas,teringat barang yang ada didalamnya.Raina pun mengambilnya dan mencoba menggunakan alat itu.
Tidak ada lima menit,alat itu sudah menunjukkan hasilnya.Betapa senangnya sampai Raina tak bisa membendung air matanya.Dua garis terlihat di alat testpack.
Setelah beberapa menit berada dikamar mandi,Raina keluar dan merias diri.Mencari keberadaan Fito,berniat memberitahu kabar bahagia itu.
Tapi sayang,saat melihat pemandangan didepan balkon.Raina mengurungkan niatnya,mengangkat ponsel yang sedari tadi berdering.
Dilihatnya layar ponsel itu,ternyata mami mertuanya.
"Halo... Raina,mami ada dibawah kamu temenin mami belanja ya." kata mami nya langsung.
"Baik mih,Raina segera turun ada kabar baik buat mami." jawab Raina menutup teleponnya.
Tanpa pamit pada Fito,Raina bergegas menemui mami mertuanya.
amasuk kedalam lift menekan tombol lantai bawah,Mami nya sudah menunggu di lobby.
"Raina." panggil maminya.
"Pagi mih,apa kabar?" tanya Raina memeluk mami mertuanya.
"Baik sayang, kamu gimana?Mana Fito,kok gak ikut." ucap maminya.
"Sebentar,cinta pertama? maksud kamu dokter Sari."
"Iya mih,setiap hari gak kenal waktu kerumah bahkan kekantor juga,itu yang dibilang pak Seno." Raina memanyunkan bibirnya.
"Kenapa Raina jadi pencemburu begini,biasanya dia cuek." batin maminya seraya memperhatikan Raina.
****
Raina dan mami mertuanya sudah sampai di supermarket yang dituju.Mengambil troly,mendorongnya dan mulai berbelanja.
"Raina,apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya maminya sambil memilah milih buah-buahan yang ada didepannya.
"Maksud mami." jawab Raina
"Kamu memikirkan Fito sama Sari,apa menurut kamu Fito berkhianat di belakang kamu." ujar Maminya,dia tahu pikiran Raina pasti kearah itu.
"Raina gak berani berpikir seperti itu,mih.Menurut mami gimana." Raina bertanya balik.
"Semoga saja tidak."
Setelah beberapa jam mengelilingi supermarket,dan sudah ada tiga troli belanjaan.Akhirnya Raina dan mami mengantri di kasir untuk membayar.
Barang belanjaan dibayar,Raina dan mami keluar supermarket diikuti bik Imah dan seorang supir.
__ADS_1
"Pak,tolong belanjaan dibawa kemobil.kita mau cari makan dulu." perintah mami.
"Baik nyonya besar." jawab si supir.
"Lebih baik saya tunggu dimobil saja nyonya." ucap bik Imah.
"Bik Imah ikut saja,lagian pak Sabri juga ikut." kata nyonya besar,"Pak sabri nanti kembali ke restoran ini ya."imbuhnya.
***
Sambil menunggu makanan yang sudah dipesan,Raina mengutak-atik ponselnya.Rupanya sedari tadi Fito menghubungi dirinya,tapi Raina tidak memiliki jawabnya
Akhirnya Raina mengirim pesan.
"Ada apa mas,kamu menelepon." Raina mengirim pesan pada Fito,dan baru kali ini dia memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Ada angin apa kamu panggil aku,Mas." balasan dari Fito.
"Angin topan barusan lewat."jawab Raina asal.
" Kamu dimana,aku cari-cari sampai di sudut rumah gak ketemu."
"Memangnya aku apaan dicari sampai kesitu-situ,ogah amat jadi obat nyamuk." kata Raina kesal.
"Kamu berpikir terlalu jauh."
"Jemput aku dirumah mami,gak usah ajak mantan kamu." balas Raina menekankan kata mantan.
"Raina ayo makan." ucap mami sambil menatap wajah Raina yang kesal."Kenapa kamu."
"Gak papa mih," jawab Raina melahap makanannya.
Lima belas menit kemudian,Raina dan mami sudah menghabiskan makanan yang ada dimeja.Entah makan pagi atau siang.
"Oh iya,kamu bilang ada kabar bagus buat mami.Apa?" tanya maminya.
Raina mengeluarkan alat tespacknya."Lihat mih,dua garis.Mami seneng gak?"
".... " maminya tak bisa berucap apa-apa,hanya menangis bahagia,"Akhirnya Raina,mami segera punya cucu."
"Kamu harus jaga kehamilan kamu,banyak makan bergizi,jangan memikirkan hal-hal yang membuat kamu stress.Nanti baby nya bisa merasakan perasaan kamu." langsung mami mertuanya memberi Raina wejangan.
"Apa Fito sudah tahu." tanya mami lagi.
"Belum mih,pagi tadi Raina seneng banget pengen kasih tahu mas Fito,tapi dia malah asyik ngobrol sama dokter Sari." ucap Raina kesal terlihat jelas diwajahnya.
"Ya sudah,kamu bisa kasih tahu nanti.Ayo kita pulang,jangan terlalu capek." kata mami.
Raina dan mami mertuanya kembali masuk kedalam mobil.Pak Sabri mengemudikan kearah rumah nyonya besarnya,Raina ingin berkunjung kerumah mertuanya.
*
*
*
__ADS_1
*
*