
Tepat hari ini,seminggu Raina tinggal dirumah Danu Sastra,pengusaha advertising ternama di negara ini.Sebagai istri dari putranya.
Seperti biasa,saat libur kerja Raina membantu para pelayan menyiapkan sarapan,makan siang dan makan malam.Raina tidak biasa berpangku tangan, ada aja yang dikerjakannya.
"Pagi semua... sarapan apa hari ini bik Imah." sapa Raina sambil memakai celemek,membantu pelayan didapur.
"Sepertinya hanya menyiapkan roti sama nasi goreng saja non." jawab bik Imah.
"Biar Raina saja yang memasak nasi gorengnya bik Imah." ujar Raina seraya memotong bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat nasi goreng.
"Bik Imah goreng telor ceplok nya aja," kata Raina lagi.
"Baik non Raina." segera bik Imah melaksanakan perintah nona mudanya.
Di sela-sela memasaknya,Raina dan para pelayan yang ada didapur ngobrol akrab sekali.
"Bik Imah,Raina mau nanya disini ada orang yang bisa urut badan gak bik?" tanya Raina.
"Ada non,memangnya siapa yang mau diurut non."
"Saya bik Imah,sudah seminggu badan rasanya gak enak, pegal-pegal semua."
Sontak,bik Imah dan yang lainnya senyum-senyum mendengar ucapan nona Raina.
"Kenapa senyam-senyum semua,apa ada yang salah sama omongan gue." batin Raina saat melihat gelagat bik Imah dan yang lainnya.
"Oh... gue tahu,mungkin yang dipikiran mereka semua,gue yang notabene pengantin baru menurut mereka gue habis.... " batin Raina lagi.
"Bik Imah bisa memanggil orang itu kesini?" tanya Raina tanpa menghiraukan para pelayan didapur.
"Bisa non,kebetulan nyonya besar juga pesan hari ini." jawab bik Imah.
"Oh... ya sudah,nanti mami dulu aja yang diurut,setelah itu bawa kekamar Raina ya bik." perintah Raina.
"Baik nona muda." jawab bik Imah seraya menyiapkan meja makan untuk sarapan.
***
Tok... tok... tok...
Bik Imah mengetuk pintu kamar nyonya besarnya pelan. Lalu masuk kedalam,saat suara nyonyanya terdengar mempersilahkan masuk.
"Permisi nyonya,saya cuma mau bilang sama nyai.Selesai mengurut nyonya besar,nyai ikut saya kekamar nona muda." ucap bik Imah sopan.
"Nona muda bik,maksud kamu Raina.Kenapa dia?" tanya nyonya nya.
"Iya nyonya,non Raina bilang sudah seminggu badannya gak enak,pegal-pegal semua." jelas bik Imah.
"Ha.. ha.. ha.. ha.. " nyonya besarnya tertawa senang gembira,"Apa yang sudah dilakukan Fito pada Raina.Ha.. ha.. ha.. "kembali tertawa.
" Kalau begitu saya permisi dulu nyonya,"pamit bik Imah.
Jam sudah menunjuk angka sepuluh,tapi belum juga nongol orang yang akan mengurut Raina.Bisa-bisa Fito pulang sebelum Raina diurut.
Tok... tok... tok..
__ADS_1
Bik Imah mengantar nyai kekamar Raina.
"Non,ini nyai yang akan mengurut badan nona muda." ucap bik Imah.
"Tunggu sebentar,saya ganti baju dulu." ujar Raina.
"Maaf nona muda,kalau bisa nona pakai handuk saja." pinta sj nyai.
"Maksud nyai saya mesti telanjang,cuma pakai handuk saja." kata Raina bingung.
"Biar lebih gampang non." timpal bik Imah.
"Baiklah,tunggu sebentar.Bik Imah tolong temani saya. " suruh Raina sedikit ada rasa takut.
Tak lama Raina diurut,Fito pulang dan langsung masuk kekamar. Tanpa mengetuk pintu terdahulu,
alhasil matanya tak berkedip saat melihat pemandangan diatas kasurnya.
"Eh,tuan Fito sudah pulang... ya Tuhan,tuan Fito sudah bisa jalan." sapa bik Imah memeluk tuannya bahagia.
Sontak Raina kaget setengah mati.
"Aduh,gila... kenapa Fito gak mengetuk pintu dulu." gumam Raina menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Bik,tolong siapkan air hangat saya mau berendam." kata Fito,menjatuhkan bokongnya diatas sofa.
"Tunggu bik Imah, em.... apa nyai bisa mengurut saya. " imbuh Fito
"Maaf tuan, saya hanya memegang perempuan saja. " jawab nyai.
"Oh, ya sudah bik Imah siapkan air hangat nya. " pinta Fito.
****
"Kenapa,kamu sepertinya tidak suka dengan kesembuhanku." jawab Fito.
"Bukan begitu,,, "
"Raina,mami bilang badan kamu pegal-pegal apa karena tidur dilantai." tanya Fito seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Ya iyalah,coba aja kamu tidur dilantai." jawab Raina ketus.
"Ya sudah,kamu tidur aja diranjang." kata Fito menepuk kasur nya.
"Terus kamu tidur dimana?" tanya Raina sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Ya disini juga lah,kita kan suami istri.Aku janji gak akan menyentuh kamu kalo gak khilaf." ledek Fito.
"Aduh gimana ini,kalo gue dilantai badan makin remuk kalo gue tidur bareng Fito... " batin Raina galau.
"Sudah gak usah mikir, lagian aku juga sudah lihat semua." Fito terus menggoda Raina.
"Fito....!!! " teriak Raina melempar bantal ke wajah Fito.
Raina menyekat ranjang dengan bantal gulingnya,sebagai penghalang nya.
__ADS_1
"Oke Fito,ini batasnya jangan sampai kamu masuk wilayahku." ujar Raina menunjuk kearah gulingnya.
"Kalau kamu yang masuk ke daerahku jangan salahkan aku ya." ledek Fito membuka bajunya dan hanya memakai boxernya.
"Fito,pakai kaos kamu." suruh Raina menutup matanya dengan tangan.
"Aku udah biasa tidur begini,gak usah ngatur-ngatur." jawab Fito langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Raina.
****
Pagi masih gelap saat Fito membuka matanya dan mendapati Raina yang memeluk dirinya.
Hatinya menyerukan tanda kemenangannya.
"Akhirnya..... " gumam Fito lirih.Dan,seketika menutup mulutnya,pura-pura tidur lagi saat Raina menggeliat kan tubuhnya.
"Kenapa gue ngerasa aneh ya." gumam Raina membuka pelan kedua matanya.
"Akh... Ops,kenapa bisa meluk Fito." pikirnya, dan beranjak bangun pelan-pelan."Mumpung dia belum bangun,gue harus cepat."katanya lirih,tapi sayang Fito masih bisa dengar dan menyeringai.
"Ugh.... perasaan semalam ada yang menindih badanku,rasanya kok berat banget." ujar Fito meregangkan otot-ototnya.
Sementara Raina menutup matanya dan memunggunginya,malu.
"Fito,kamu mau mandi dulu apa aku yang duluan." kata Raina tak berani menatap wajah Fito karena malu.
"Fito,apa kamu baru bangun." tanya Raina memastikan.
"Menurut kamu...???" Fito bertanya balik sembari senyum meledeknya.
"Fito..." jawab Raina kesal.
"Aku sudah bangun dari sinar matahari belum terlihat,aku bangun gara-gara ada yang memeluk ku erat dan gak mau lepas." jelas Fito tersenyum membuat Raina malu.
"Ternyata... ada yang kangen,gimana kalo kita tidur gak usah dikasih.... " belum selesai mengucapnya,Raina membungkam mulut Fito dengan tangannya.
"Jangan harap, semalam mungkin aku kurang hati-hati tapi tidak untuk malam-malam berikutnya." sarkas Raina.
"Aku mandi dulu,sudah telat." Raina berlari kekamar mandi.
"Raina.... muach." ledek Fito
"Gila kamu." sarkas Raina kesal sekaligus malu,"Fito kenapa jadi begitu,aneh."lanjut Raina didalam kamar mandi.
*
*
*
*
*
Oke readers bersambung dulu ya,sudah ngantuk.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya.
terima kasih....