
"Apa!!! " teriak mami saat Fito mengatakan Raina pulang dan Fito tak mengantarnya,"Fito, Fito,ditaro mana ot*k kamu hah,membiarkan Raina pulang sendiri tengah malam."ujar maminya panik.
"Fito pusing mih,jangan teriak-teriak masih pagi." jawab Fito melahap sepotong roti dengan selain coklat kesukaannya.
"Dimana harga diri kamu Fito,apa kata keluarga Raina." ucap papi nya,baru kali ini papi nya ikut bicara,"Kamu keterlaluan,apa semua gara-gara King hilang dan kamu marah sama Raina."imbuh papi.
Kali ini papinya yang banyak bicara,"Kalau sampai Raina tahu kalau Sari mantan pacar kamu dulu,dia pasti akan sangat marah."
"Dia sudah tahu mih, pih.Entah siapa yang memberi tahunya." ucap Fito.
"Apa??? " kali ini mami dan papinya terkejut bersamaan.
**
Raina berada di rumah sakit A tempat ibunya dirawat.Kondisinya saat ini sangat kritis,Raina tak henti-henti menangis.
"Raina,sebelum ibu pergi,ibu minta kamu jaga pernikahan kamu." ucap ibunya terbata-bata masih dengan selang oksigen dihidungnya.
"Ibu gak boleh ngomong seperti itu,ibu pasti sembuh." jawab Raina berurai air mata.
Begitu banyak pesan dari ibunya,sebelum ibunya pergi untuk selamanya.Raina begitu terpukul,tidak bisa berkata apa-apa.Diam menangisi kepergian ibunya.
Raina berulang kali menghubungi Fito,memberi kabar tentang ibunya.Tapi nihil,karena keegoisannya Fito mengabaikan panggilan masuk dari Raina.
Dengan terpaksa Raina menghubungi Weni,sahabatnya.Dia bekerja di perusahaan Fito.
Kaget mendengar kabar dari sahabatnya,Weni melangkahkan kakinya keruangan Fito.
Emosinya memuncak,sekuat tenaga Weni memukul meja kerja Fito.
Brrakkk.... (anggap saja bunyi meja digebrak ya guys.)
"Fito,disini gue bicara bukan sebagai karyawan lu.Disini gue bicara sebagai sahabat Raina." sarkas Weni diruang bosnya.Sontak perbuatan Weni membuat asisten Seno marah.
"Lu apa-apaan,gue itu bos lu.Ingat itu,lu bisa gue pecat sekarang juga tahu." Fito marah besar.
"Gue gak peduli,sekarang lu lihat berapa kali Raina menghubungi lu." ucap Weni menunjuk-nunjuk muka Fito.
Dengan cepat Fito mencari keberadaan benda pipih tipis warna hitam miliknya.Melihat ada puluhan kali nama Raina dilayar ponselnya.
"Coba lu hitung ada berapa kali Raina menghubungi lu dan lu sengaja tak menjawab panggilan Raina.Apa ini yang namanya suami?" kata Weni masih emosi.
"Hei,Fito.... apa lu tahu Raina menghubungi gue,memberi kabar kalo ibunya meninggal tadi pagi." jelas Weni sedih.
"Maksud lu...? " Fito terkejut.
__ADS_1
"Raina menghubungi lu cuma ingin memberi tahu lu kalo ibunya meninggal,Raina gak akan mengganggu lu Fito.Jadi lu gak usah khawatir dia menggangu pekerjaan lu." ujar Weni sedih ternyata Raina selama ini tak bahagia dengan Fito.
"Seno!!! Seno!!!! Siapkan mobil,kita ke kampung Raina." teriak Fito pada asistennya.
"Siap tuan,laksanakan." jawab Seno mantap.
****
Raina dan keluarganya membawa jenazah ibunya dari rumah sakit menuju rumahnya.
Raina tak lagi meneteskan air mata,hanya terdiam saja.Seakan sudah habis stok air matanya,Duduk dihadapan ibunya yang terbujur kaku.
Setelah satu jam,Jenazah sang ibu dibawa ke peristirahatan terakhirnya.
Disisi lain,pak Seno melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas standar alias ngebut.
"Pak Seno,mungkin gak kita sampai tepat sebelum ibu Raina dikebumikan." tanya Weni yang ikut dengan Fito.
"Ini saya usahakan nona Weni,tapi saya tidak bisa janji." jawab Seno masih fokus dengan kemudinya.
Terlihat Fito dengan penyesalannya,wajahnya murung diam membisu sepanjang perjalanan.
"Fito,apa selama ini Raina hidup bahagia sama lu." Tiba-tiba Weni menanyakan kehidupan Raina.
"Maksud lu apa?" jawab Fito bengong.
"Dan lagi,lu dengan seenaknya mendekatkan King dengan Raina.Yang notabene King anak mantan lu dulu." imbuh Weni kesal.
"Gue bukannya mau ikut campur urusan rumah tangga lu sama Raina,gue cuma kasihan sama Raina.Dari pacaran lu gak pernah perhatian sama dia,pikiran lu hanya tertuju sama Wulan.Giliran lu lumpuh,orangtua lu memohon pada Raina." lanjut Weni masih dengan kekesalannya.
"Stop Weni,gue tahu maksud lu." ucap Fito menghentikan Weni yang nyerocos dari tadi sampai akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.
Segera Weni turun dari mobil mencari keberadaan Raina.Diikuti Fito dan pak Seno dari belakang mengekor.
Di sudut rumahnya,terlihat Raina sedang memandangi foto ibunya.
"Raina... " panggil Weni seraya memeluk Raina dengan erat.
Kembali Raina menangis sekencang-kencangnya,bendungan yang sudah ditahannya akhirnya jebol lagi.
"Wen...untuk apa gue hidup sekarang." ucap Raina ngaco.
"Jangan begitu ngomongnya Raina,masih ada gue."
Fito terpukul juga merasa kehilangan juga,ingat pesan ibu mertuanya sebelum Fito mengikrarkan janji pernikahannya.Dia akan membahagiakan Raina,tapi nyatanya Raina sama sekali tak bahagia.
__ADS_1
Raina mendongakkan kepalanya,menyadari kedatangan Fito.Ingin rasanya Raina berlari dan memeluk Fito,tapi apa daya hati ini melarangnya.
Begitu juga dengan Fito,ingin sekali menghibur Raina,memeluk dan menciumnya.Tapi keegoisannya lebih besar.Hanya bisa menatapnya tajam.
"Nona muda,saya turut berduka cita." ucap pak Seno mendekati nona mudanya.
"Terima kasih pak Seno."
Hari sudah sore,matahari mulai terbenam di ujung barat.Hujan mengguyur kota kelahiran Raina,seakan-akan turut bersedih.
"Seno,kamu antar Weni pulang,aku akan menginap disini." perintah Fito,"Tolong bilang orang rumah,dan jangan ngebut jalanan licin."imbuhnya
"Baik tuan,saya pamit permisi mari nona muda." jawab Seno meninggalkan rumah Raina.
"Raina gue balik dulu ya," kata Weni memeluk Raina,"Eh,Fito. gue jadi dipecat atau tetap bekerja besok."sarkas Weni pada Fito.
"Masih bekerja,sana-sana pulang." jawab Fito ketus.
Tok... tok... tok...
Raina membuka pintu rumahnya saat seseorang mengetuknya.
"Raina,apa kamu perlu sesuatu? atau kamu mau ditemanin sama anak paman, biar Berry paman suruh kemari.?" tanya paman Raina.
"Oh,tidak usah paman,Terima kasih banyak.Suami Raina ada disini,paman tenang saja." tolak Raina secara halus,bisa-bisa ada perang Dunia ketiga lagi kalo sampai Berry kemari.
Berry adalah anak dari tetangga sebelah yang biasa Raina panggil paman.Dia teman sewaktu Raina kecil,bahkan Raina pernah menyukainya saat masih duduk di bangku SMA.
"Ya sudah,kalo begitu paman pulang dulu." pamit nya.
Raina kbali masuk kedalam,menyiapkan baju buat Fito.
"Hanya ada aku dan ibu yang tinggal disini,jadi semoga piyama ini muat sama kamu." ucap Raina menyodorkan piyama pada Fito yang baru saja selesai mandi.
"Dimana kamar kamu?" tanya Fito membawa baju yang diberikan Raina.
"Itu yang warna pink, pintunya." tunjuk Raina pada pintu yang berwarna pink khas warna perempuan.
*
*
*
*
__ADS_1
tetap dukung author ya,dengan cara like, komen dan votenya ya.
Terima kasih.