Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Awal


__ADS_3

Cinta itu rumit. Itulah istilah yang sesuai untuk menceritakan tentang hati yang tanpa di sadari telah terhubung.


Di mulainya pagi maka di mulailah aktivitas semua orang. Sama halnya dengan gadis yang sedang berjalan santai tanpa mempedulikan dirinya yang harus terburu buru.


Langkahnya terhenti saat melihat punggung tegap yang membelakanginya. Dari arah belakang, si gadis dapat melihat bahwa lelaki di depannya sedang menelpon. Tidak ingin berlama lama, sang gadis melanjutkan langkahnya ke samping lelaki itu. Tanpa di duga, sang lelaki berbalik ke arahnya dan terjadilah tabrakan kecil.


"Hei, kalau jalan lihat lihat!" bentak lelaki itu sambil menyapu lengannya yang terkena si gadis.


"Maaf, saya tidak tau kalau anda akan berbalik." ucapnya. Sang gadis menegadahkan wajahnya untuk melihat wajah orang yang di tabraknya.


'Deg'


Mata si gadis seketika membelalak saat tau orang yang di hadapannya ini. Jelas ia sangat terkejut. Wajah itu, wajah yang sangat di kenalinya.


"Hei berhenti menatapku!." sentak sang lelaki yang menyadarkan lamunan si gadis.


"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak sengaja." Wajahnya berubah menjadi datar.


"Kalau maaf berguna, untuk apa ada polisi."


"Kenapa anda membawa nama polisi? Apakah anda berencana ingin melaporkan saya hanya karena masalah sepele." Menyilangkan tangannya. Sang lelaki mengatur nafasnya agar tidak semakin emosi. Balas menatap tanpa ekspresi.


"Apa kau tau siapa aku?" Tanya lelaki itu dengan angkuh.


"Tentu saya tau. Anda adalah tuan Agra pratama, seorang pengusaha sukses yang berhasil menempati peringkat pertama di Asia." Gadis itu menjawab dengan tenang, tidak takut dengan kenyataan yang baru terjadi kepadanya. "Anda juga memiliki banyak perusahaan di setiap negara. Semua orang menghormati dan tunduk kepada anda."


"Kau tau rupanya," Menyeringai. "Kalau begitu, bersimpuhlah dan memohon ampunan dariku."


"Anda siapanya saya? Sehingga saya harus menuruti perkataan anda." Agra yang tadinya angkuh langsung emosi mendengar perkataan gadis di depannya.


"Suaraku adalah perintah bagi semua orang!" tegasnya.


"Tapi tidak bagi saya!" Ikut berkata tegas.


Kedua pasang mata itu saling menatap tajam satu sama lain. Jika saja ini film kartun, maka akan ada aliran listrik di mata keduanya.


Tatapan tajam itu di hentikan karena suara panggilan dari ponsel milik Agra. Segera ia angkat tapi tidak melepaskan tatapannya dari sang gadis.

__ADS_1


"Mereka menungguku?" tanya Agra pada orang di seberang sana. Agra menggeleng kepalanya mendengar jawaban orang yang menelponnya.


"Aku akan ke sana, setelah aku membereskan masalah disini." Menutup panggilannya dan kembali menatap si gadis yang tidak bergeming.


'Seharusnya saat aku sedang menelpon dia lari, tapi ini dia bahkan tidak bergerak sedikitpun. Suara nafasnya saja tidak terdengar!' Batin Agra menatap aneh gadis di depannya.


"Baiklah, karena kali ini aku sedang terburu buru, aku memaafkan kesalahanmu."ucap Agra.


"Tapi, jika aku bertemu denganmu lagi, aku tidak akan melepaskanmu." ancam Agra yang sepertinya tidak di pedulikan.


"Terserah." Satu kata yang keluar dari mulut sang gadis, menunjukkan dirinya tidak takut sama sekali dengan ancaman pria di hadapannya.


Agra berbalik, meninggalkan gadis yang masih tidak bergeming di tempatnya. Dengan kesal ia melangkah ke dalam perusahaan miliknya.


"Walaupun aku berusaha untuk menghindarimu, pada akhirnya aku tetap bertemu denganmu." Ucapan sang gadis yang memiliki makna tersembunyi.


Di koridor ruangan, hanya terdengar suara langkah sepasang sepatu yang menggema. Semua orang menunduk menyambut tuan mereka. Tidak ada yang berani bersuara bahkan untuk bergetar saja tidak, tubuh mereka seakan membeku di tempat. Si pelaku melirik satu persatu karyawannya. puas membuat semua ketakuatan, ia pun berhenti melangkah.


Agra pratama. Siapa yang tidak mengenalinya. Seorang pengusaha yang selalu berhasil dalam segala hal. Dirinya bisa melakukan apa saja yang ia mau. Sama seperti sekarang, dirinya membuat orang menunggu untuknya. Bahkan tidak ada yang berani bergerak sedikitpun.


"Selamat pagi tuan Agra." Sapa sekretarisnya yang bernama Ezwar. Agra hanya membalas mengangguk.


"Apa jadwalku hari ini Ezwar?" tanya Agra kepada sekretarisnya.


"Tidak ada pertemuan hari ini. Anda hanya perlu menandatangani beberapa dokumen." jawab sekretaris Ezwar.


"Baiklah, kita keruanganku sekarang." Agra kembali melangkah diikuti sekretaris Ezwar, menuju tahta kerajaannya.


......................


Pintu terbuka menampilkan ruangan yang begitu sunyi. Di dalamnya hanya terdapat Meja yang di penuhi banyak berkas,kursi kerja yang bisa di putar dan satu sofa yang terletak di samping ruangan. Tidak ada hiasan dinding karena sang pemilik tidak menyukainya. Karena baginya itu hanya akan menggangu konsentrasinya mengerjakan tugasnya.


Ia langkahkan kakinya menuju mana kerjanya. Mendudukkan dirinya di kursi miliknya. Menatap berkas setinggi satu meter yang siap di kerjakannya.


Sesaat terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk." Memberikan izin. Pintu itu pun terbuka dan memperlihatkan seorang gadis cantik yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi Agina." Sapa gadis itu ramah dan berdiri di hadapan meja si pemilik nama.


"Tidak perlu berbasa basi Safira. Katakan saja apa maumu?" Berbanding terbalik dengan gadis bernama Agina yang tidak ada ramah tamahnya.


"Ayolah, setidaknya jawab sapaan diriku dulu." Tidak peduli dengan suara ketus temannya.


"Katakan apa maumu? atau pergi dari sini." ucap Agina yang mulai fokus terhadap layar di depannya.


"Hah, kau itu memang tidak bisa di ajak berbasa basi ya. Aku kesini ingin menyerahkan berkas yang di suruh tuan Ezwar untuk di periksa oleh dirimu." Safira mengatakan tujuannya datang kesini dengan meletakkan berkas setinggi setengah meter meja temannya.


"Akanku periksa, kau boleh pergi sekarang." ucap Agina yang tetap fokus pada laptopnya.


"Kau mengusirku?" Menunjukkan wajah sedihnya.


"Pergi!" Tidak terpengaruh.


"Ya,ya aku akan pergi, tapi setelah kau menjawab pertanyaanku." kata Safira. Dan diamnya Agina di anggap sebagai persetujuan bertanya.


"Kenapa kau tidak pernah menyambut kedatangan Tuan Agra?" Safira meletakkan telapak tangan kanannya di meja Agina dengan tangan kiri memengang pinggang dan sedikit membungkuk.


"Aku malas menyambutnya."


"Heh, alasan macam apa itu!" Safira bahkan berteriak saking histerisnya.


"Pelankan suaramu."


"Bagaimana bisa aku memelankan suaraku. Seorang wanita mengatakan malas bertemu dengan tuan Agra yang tampan, gagah, juga kaya, yang hartanya tidak akan habis walau tujuh turunan!" Semakin berteriak bahkan Safira menggebrak meja saat mengatakannya.


"Apa seorang wanita tidak akan di anggap wanita, jika tidak berpikiran sama sepertimu." Agina yang tidak peduli sama sekali.


"Bukan begitu juga!" Safira kelihatan putus asa melihat temannya yang satu ini.


"Safira, sudah beberapa kali aku katakan, jangan membahas hal yang tidak penting denganku. Sekarang, keluar!"


Dengan perasaan kesal,Safira pergi dari ruangan temannya. Dirinya mengumpat dan memaki temannya yang bukan menurutnya saja yang tidak di anggap normal.


......................

__ADS_1


Kalau suka jangan lupa like itu akan sangat berharga buat saya.


__ADS_2