
Hari begitu terik dan sudah waktunya makan siang. Semua orang meninggalkan pekerjaannya untuk memenuhi isi perut mereka.
Di saat semua orang sedang mengisi tenaganya, Agra masih saja berkutat dengan dokumen di mejanya. Sepertinya Agra tidak mengetahui ini sudah waktunya makan siang, dirinya tenggelam oleh dokumen di hadapannya. Di samping itu,ada sekretaris Ezwar yang masih setia berdiri di samping meja tuannya. Kakinya bahkan tidak terlihat lelah akibat berdiri di sana selama berjam jam. Ia berdiri seperti manusia yang membeku di dalam es.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian sesaat.
"Masuk!" nada tegas miliknya. Lalu masuklah seorang wanita cantik yang memakai pakaian yang memperlihatkan lekukan tubuhnya. Wanita itu berjalan dengan anggun menuju meja kekasihnya.
"Sayang." suara yang sangat di kenali Agra. Segera ia menegadahkan wajahnya.
"Olivia, ada apa kau kemari?" tanya Agra menatap intens kekasihnya. Sekretaris Ezwar juga ikut menatap tapi dengan pandangan sinis.
"Aku tau kalau sedang bekerja,kau pasti lupa makan siang. Jadi aku ingin mengajakmu sekarang." Wanita bernama Olivia itu tersenyum.
"Kau perhatian sekali." kata Agra dengan nada dingin. Sepertinya, sifat dingin Agra sudah permanen sampai pada kekasihnya pun tetap sama. "Baiklah, ayo pergi makan siang." Agra berdiri menghampiri kekasihnya. Olivia langsung melingkar tangannya di lengan Agra.
"Setelah makan, temani aku belanja ya?" Tanya Olivia manja.
"Tentu."
Sekretaris Ezwar memutar bola matanya jengah.
"Ada apa Ezwar?" Agra menatap sekretarisnya yang terlihat dingin tidak seperti biasa.
"Tidak apa apa tuan. Kalau begitu, bolehkan saya istirahat makan siang?"
"Kuberi waktu kau satu jam. Setelah itu kembali ke perusahaan."
"Baik tuan, terima kasih atas waktunya." Sekretaris Ezwar membungkuk sembilan puluh derajat.
"Ayo kita pergi sayang." Olivia menarik lengan kekasihnya pergi meninggalkan sekretaris Ezwar yang sudah mual mendengar suara manjanya.
Dari dulu sekretaris Ezwar memang tidak menyukai kekasih dari tuannya. Di karenakan pakaiannya yang ketat, membuat dirinya curiga kalau Olivia adalah wanita murahan. Ia ingin menyelidikinya, tapi di hentikan oleh tuan Agra. Alasannya,tuan Agra sangat mempercayai kekasihnya sekaligus teman masa kecil yang merawatnya saat koma dulu.
"Aku harap begitu tuan." Harapan dari hati kecilnya.
Sepasang kekasih itu sedang berada di sebuah restaurant mewah. Mereka menikmati makan malam dengan saling suap suapan. Menatap satu sama lain dengan pandangan berbeda,tapi satu yang pasti itu bukan cinta.
"Kapan kau menikahiku sayang? kita sudah bersama dari kecil dan kita sudah berpacaran selama 8 tahun. Tapi kau belum ada niatan sama sekali untuk menihikahiku." ucap Olivia sembari memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Aku ingin pernikahan hanya terjadi sekali dalam seumur hidupku. Aku butuh waktu untuk memantapkan hatiku." jawab Agra yang sama sekali tidak berubah. Datar.
"Apa 8 tahun tidak cukup bagimu? Atau kau meragukan cintaku?" Olivia menatap nanar ke arah kekasihnya.
"Bukan begitu Olivia, aku percaya padamu. Tapi aku merasa, masih terlalu muda bagiku untuk menikah." Jelas Agra mencoba membuat kekasihnya mengerti. Di tariknya tangan Olivia dan menggenggamnya.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan menunggu." Balas menggenggam. Olivia tersenyum ke arah kekasihnya yang masih berwajah datar.
"Terima kasih." Ucap Agra. Olivia semakin tersenyum lebar.
"Eum Agra, bisakah kau tersenyum?" Tanya Olivia takut takut. Agra tidak bergeming.
"Ayolah Agra, sudah lama sekali aku tidak melihatmu tersenyum. Padahal akukan kekasihmu." Masih diam seribu bahasa. Dan itu membuat Olivia menghela nafas.
"Baiklah, baiklah. aku tidak akan memaksamu." Olivia mengalah. Sudah 8 tahun mereka pacaran, tapi tidak ada yang berubah dari Agra sejak kejadian itu. Jangankan tertawa, tersenyum saja ia tak pernah melihatnya.
'Sial!'
Dari kejauhan, dua pasang mata sedang menatap ke arah mereka dengan pandangan berbeda beda. Yang satu terlihat tersipu, yang satunya terlihat datar.
"Tuan Agra romantis sekali!" cecar Safira menggoyang goyang kakinya manja. Wajahnya merona saat sebuah bayangan terlintas di pikirannya.
"Ah, aku pasti akan pingsan,jika berada di posisi Olivia." Tidak memperdulikan perkataan temannya.
"Ntar jatuh, baru tau rasa!"
"Harusnya kau mendukungku Agina!"
"Ya kalau kau berusaha, aku pasti akan akan mendukungmu." Menatap Safira sebentar, sebelum kembali melihat sepasang kekasih yang tampak membosankan untuk di pandang.
"Aku pasti akan berusaha. Terima kasih Agina!" ucap Safira dan merentangkan tangannya ingin memeluk Agina. Tapi segera ia urungkan saat mengingat temannya ini bagaimana.
"Mereka terlihat aneh!" Agina memiringkan kepalanya saat melihat Olivia yang begitu antusias berbicara, berbanding terbalik dengan Agra yang menjawab sekenanya.
"Aku setuju! Mereka itu tidak cocok." Safira ikut menatap.
"Lalu cocoknya dengan siapa? denganmu?"
"Bukan, tapi denganmu." Kalimat yang membuat Agina tersentak dan langsung menatap temannya.
__ADS_1
"Iya denganmu. Kalian berdua sama sama dingin. Jadi terlihat kompak." Safira tidak menatap Agina sama sekali.
"Kau ingin menyerah? baiklah, biar aku saja yang mengejarnya."
"Apa! jadi kau menyukai tuan Agra juga?" Pekik Safira. Bahkan saking terkejutnya, suaranya menggelegar ke seluruh ruangan.
"Ayolah Agina, jawab aku!" Safira menggoyang goyang bahu Agina sampai kepala mengangguk ngangguk." Kau bercanda kan?" Agina menepis tangan Safira di bahunya. Kemudian meminum jusnya santai. Agina tidak memperdulikan seseorang yang menatapnya tajam.
"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang kita adalah saingan. Dan kita bersaing secara sehat, oke!" Safira langsung mengambil kesimpulan karena Agina diam saja.
Agina memutar bola matanya jengah. Dengan menghela nafas,ia menatap sekeliling dengan mata yang tajamnya, memperingatkan melalui tatapan. Semua orang kembali melakukan kegiatan kembali, walau ada dua orang yang masih menatapnya. Tapi ia tidak terlalu peduli.
"Safira, jika berada di tempat umum, pelankan suaramu." Peringatan untuk temannya yang di lakukannya setelah membuat seisi restauran tidak bernafsu memakan makanannya lagi.
"Iya maaf." Menundukkan wajahnya. Agina menghela nafas dan terhenti saat mendengar suara panggilan di ponselnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon, Agina langsung mengangkatnya.
"Ada apa?" Kemudian Agina berdiri.
"Biar aku yang mengurus bagian itu." Menutup panggilan dan memasukkan Handphonenya ke dalam saku celana jinsnya.
"Safira, aku yang akan membayar semuanya. Cepat habiskan makananmu itu, jam makan siang hampir habis." ujar Agina kepada Safira. Safira pun mengangguk. Agina berjalan ke arah kasir dan itu harus melawati meja tuan Agra dan Olivia. Saat melewatinya, Agina dan tuan Agra saling menatap. Wajah dingin bagaikan kutub utara. Mendeklik mata mereka dengan tajam. Namun tersirat kerinduan yang begitu mendalam dari mata keduanya.
'Ada apa denganku?' Batin Agra. Matanya mengikuti setiap langkah Agina sampai hilang di balik pintu keluar.
"Agra!" Panggil Olivia.
"Eum, ada apa?" Kembali fokus terhadap kekasihnya.
"Kau mengenal wanita tadi?"
"Dia gadis yang sudah menabrakku." Jelas Agra.
"Lalu kau akan membalasnya?" Pertanyaan yang tidak di jawab oleh Agra. Agra hanya menunjukkan seringaiannya dan Olivia ngeri melihatnya.
'Seperti yang aku katakan! Jika aku bertemu denganmu lagi,aku tidak akan melepaskanmu'
......................
Kalau suka jangan lupa like ya karena itu sangat berharga buat saya.
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH BACA.