Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Pembicaraan


__ADS_3

Ezwar tertekun. Ini pertama kali baginya melihat senyum tulus Agina.


Agina terlihat lebih cantik saat tersenyum, Ezwar yang tidak ingin menyia - nyiakan momen langka ini, mengambil ponsel dan ingin memotretnya.


"Apa!" Agina menoleh. Wajahnya kembali datar.


Ezwar terlonjak akibat suara ketus Agina.


Hilang sudah momen langkanya , Ezwar menangis dalam hati.


"Jangan pernah memotret diriku, jika tidak ingin ponselmu ku banting." ancam Agina menatap tajam.


Ezwar mengangguk patuh. Ponselnya ia masukkan ke dalam saku. Tidak ingin ponsel barunya rusak lagi. Cukup tuan Agra terakhir yang menghancurkan ponselnya.


"Kapan kita akan berkumpul?" tanya Fathan tidak sabaran.


"Setelah aku kembali." Mimik wajah Agina berubah serius.


"Kau mau pergi kemana?" Lidya.


"Ada sedikit urusan." Agina melirik Ezwar, mencoba memberi kode bahwa ada orang yang akan membocorkan segalanya.


Lidya mengerti kode kontak mata yang di berikan Agina. Mengangguk. "Pulanglah dengan selamat." Tubuh Lidya bergetar saat mengetakannya.


"Apa maksud perkataanmu?" Ezwar menatap serius gadis yang di berikan julukan singa betina olehnya. Ia dapat merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pembicaraan mereka.


"Tidak ada maksud, kak Lidya memang selalu mencemaskanku. Lagi pula aku hanya melakukan perjalanan bisnis, bukan untuk berperang." Tersenyum miring.


Bukan tidak tapi akan, Batin Lidya. Dirinya sangat mengenal sifat adik bermuka jalan tol ini.


Ezwar memegang dagunya tanda sedang berpikir. Ada yang janggal dengan kata - kata Agina. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan.


Nathan melihat jam di dinding. "Kak, sudah waktunya mengajar."


"Eh iya, aku hampir lupa." Menepuk dahinya. "Pergilah, aku akan menyiapkan makan siang." Lidya bangkit.


Fathan dan Nathan berlalu dari sana.


Agina berdiri sambil melipat lengan bajunya. "Ayo!"


"Kau ingin memasak juga?" tanya Ezwar terkejut. Tidak mungkin 'kan' gadis pebisnis seperti Agina bisa memasak.


"Tidak, tapi aku bisa membantu menghancurkan dapurnya." Menjawab datar.


Lidya tergelak mendengar kata - kata Agina. Ezwar menatap gadis yang tertawa itu bingung.


"Kau di sini saja, aku kasihan pada dapurnya."


"Tenang saja, kak Lidya tidak masalah kok aku meledakkan dapurnya."


Lidya menggandeng lengan Agina. "Kau pergilah." Mengibaskan tangan.

__ADS_1


"Tidak, aku tamu di sini. Kau harus memperlakukan Aku dengan baik." Berbicara angkuh. Ezwar menumpu kakinya dengan tangan di rentangkan ke atas sofa.


"Aku tidak butuh tamu sepertimu." cetus Lidya menatap garang lelaki di depannya. Ezwar membalasnya, ia tidak takut karena ada pelindungnya yaitu Agina.


Agina menghela napas. "Kalian bertengkarlah, aku akan pergi ke dapur." Ingin pergi.


"Tidak Agina, jangan meninggalkanku dengan singa betina ini." Ezwar memelas. Bisa habis dirinya kalau berdua dengan Lidya.


"Kau memanggilku singa betina lagi!" Menggepal tangannya ke atas. Mata berapi - api.


"Baru mau berpisah, kalian sudah seperti ini? Apa jadinya kalau beneran pisah." Agina memegang kepalanya. Seolah jika itu terjadi akan sangat sulit di bayangkan.


"Sembarangan!" Serentak.


Agina menutup mulutnya, kagum dengan apa yang terjadi. "Wah kalian sangat serasi, Aku kagum dengan kekompakkan kalian."


"Agina, kau.. " Perkataan Lidya terhenti karena Agina menarik tangannya.


"Jangan terlalu merindukan kakak ya, aku pinjam sebentar." Tangan satunya menarik Lidya sedangkan satu lagi melambai.


Ezwar mematung di tempat. Sangat syok dengan kejadian barusan.


......................


Agina melepas tangan Lidya setelah sampai di dapur.


"Kau tidak pernah berubah." Lidya mendengus. Agina balas tersenyum miring.


Lidya tersenyum. Seperti biasa, Agina akan melupakan segalanya jika melakukan sesuatu yang dia sukai.


Duduk berhadapan. "Kau akan pergi kemana?" tanya Lidya.


Mengerti arah pembicaraan. "Negara B."


"Menemui ibu atau ada urusan lain?"


"Ada tiga hal; pertama urusan bisnis, kedua menemui ibu, dan ketiga aku harus pergi ke kerajaan." jelas Agina. Meskipun fokusnya ke bahan namun Agina tetap terkendali.


"Kerajaan? Apa terjadi sesuatu di sana?"


"Ratu Gristian mengadakan pesta perjamuan, dan sebagai cucunya, aku pasti akan datang." Sudut bibir Agina terangkat membentuk sebuah seringaian.


"Aku mengenalmu Agina, pasti ada hal lain yang ingin kau lakukan." Tangannya membentuk kepalan dan menopang pipinya. Mereka sudah bersama sejak lama, tentu tidak akan asing bagi Lidya bila Agina melakukan hal gila.


"Kakak tidak perlu khawatir, aku pasti akan menepati janjiku."


"Aku tau." Kalimat itu selalu menjadi pembungkam setiap orang yang melarangnya melakukan sesuatu yang berbahaya.


Pembicaraan tidak di teruskan dan melanjutkan kegiatan mereka.


Setelah bergelut selama satu jam. Akhirnya semua makanan tersaji di meja makan. Lidya menelpon Fathan untuk menyuruh mereka ke ruang makan sekalian mengajak Ezwar.

__ADS_1


Ezwar menatap kagum makanan di depannya. Air liurnya bahkan hampir menetes. Makanan di meja lebih selera dari pada makan di restoran.


"Apa makanan ini boleh di makan?" tanya Ezwar. Sedikit tidak percaya bahwa dua gadis ini bisa memasak. Mungkin jika itu Lidya ia akan sedikit percaya, tapi Agina?


Lidya mengebrak meja. "Kau pikir kami menambahkan racun!"


"Bu-bukan begitu maksudku." Tubuhnya bergetar terkejut dengan reaksi Lidya.


"Apa kalian akan bertengkar lagi?" Meskipun sedikit terhibur, tapi Nathan tidak ingin ada keributan saat makan.


Lidya tidak peduli, dia langsung mengambil makanan dan memakannya.


Ezwar mencicipi salah satu makanan. "Enak!" Matanya membulat merasakan rasa yang pas di lidahnya. "Siapa yang membuat ini?"


Tidak ada yang menjawab, mereka sibuk dengan makanan masing - masing. Akhirnya Ezwar terdiam mengikuti keheningan.


Selesai dengan acara makan, Agina dan Lidya mencuci bekas makan tadi. FNT menuju ruang latihan karena saat makan tadi mereka menyuruh para murid untuk istirahat. Sedangkan Ezwar yang bingung ingin melakukan apa, akhirnya memutuskan duduk di ruang tamu dan memeriksa beberapa pekerjaan.


Suara dering ponsel menyentak Ezwar, apalagi saat tau siapa yang menelpon. Dengan gugup Ezwar menggeser tombol hijau.


"Kau ada dimana?! Kenapa lama sekali?!" teriakan yang membengkakkan telinga. Ezwar menjauhkan sedikit ponselnya.


Ezwar terdiam. Jika Agina tau bahwa dirinya akan mencarinya ke perusahaan ketiga, pasti Agina tidak ingin memberitahukan tentang keberadaannya.


"Apa kau mati di tempat! Kenapa tidak menyahutiku?"


Ya tuan, aku akan mati akibat terkena serangan jantung karena mendengar suaramu! batinnya menjerit.


"Agina bukan orang sembarangan, jadi akan sulit menemukannya tuan."


"Baiklah, aku mengerti. Kabarkan aku jika kau menemukannya." Tut. Sambungan terputus. Ezwar menghela napas.


"Bagus!" Ezwar menengadahkan wajahnya melihat Agina di depannya. "Kau melakukannya dengan baik." pujinya.


Ezwar tampak berpikir. "Apa kau mengganti nomor ponselmu? Kenapa aku tidak bisa menghubungimu?"


"Ponselku rusak, tapi aku sudah memindahkan semua data ke ponsel lain. Setelah mengirim filenya kepadamu, aku memblokir nomormu dan tuan Agra."


"Pantas saja tuan Agra tidak bisa menemukanmu lewat Gps. Oh ya soal filenya?"


Agina mengangguk. "Kau mencariku untuk bertanya tentang itu 'kan."


......................


Alhamdulillah, ponsel aku sudah tidak macet lagi. Jadi bisa mengetik dengan santai.


...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN....


......TERIMA KASIH SUDAH BACA.......


...SEE YOU....

__ADS_1


__ADS_2