Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Kakak


__ADS_3

Agina menghela nafas panjang. Semakin hari Agra suka sekali menganggunya. Entah apa tujuannya. Yang pasti itu sangat menyusahkan.


"Dia rajin sekali menggangguku." Agina memijit keningnya. Pusing akibat kelakuan Agra yang semakin hari semakin aneh. Dari menanyakan kau ada di mana, sedang apa, apa yang kau makan?. Sangat menyebalkan.


Tok tok tok.


"Masuk." Merubah ekspresinya menjadi datar.


Agina membulatkan matanya melihat orang yang masuk ke ruangannya. Ia memaksakan senyumannya.


"Kalau tidak bisa, jangan tersenyum. Aku lebih suka kau berwajah datar dari pada menunjukkan senyum palsumu."


Agina tersenyum miring. Orang di depannya sangat mengerti dirinya. "Apa ada hal penting? Hingga kau rela meninggalkan pekerjaanmu."


"Kau sedang mengejekku ya, karena aku seorang pelayan." Berbicara sinis.


Agina menunduk. "Maaf. Kau pasti kerepotan di sana." Ucapnya merasa bersalah. "Jika kau mau, kau bisa berhenti Stif!"


Stiffen membungkuk. Tangannya mengelus kepala Agina. "Aku bahagia melakukannya karena itu untukmu." Ucap Stiffen tersenyum. Agina mengangguk. "Oh ya, aku harus duduk di mana?"


Agina berdiri. "Duduklah di kursiku." Menggantikan posisi Stiffen. Kini dirinyalah yang berdiri berhadapan dengan Stiffen yang duduk.


"Ada hal penting apa?" Tanya Agina.


"Ini tentang kecelakaan ayahnya Agra." Wajah Stiffen menjadi serius. Agina melakukan hal yang sama.


"Kau menemukan sesuatu?"


"Ada yang janggal dengan kecelakaannya. Kemungkinan itu hasil sabotase."


"Aku juga merasakannya. Tapi tidak mungkin papa pelakunya."


Stiffen mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak mungkin."


"Kita sudah delapan tahun menyelidikinya, tapi tidak menemukan apapun. Papa Johan tidak sehebat itu untuk membuat rencana yang sempurna."


"Kau benar! Tapi selain dia tidak ada lagi musuh kita."


"Siapa bilang! Bukankah keluarga kerajaan juga." Agina menyeringai saat sebuah pemikiran terlintas di benaknya.


"Apa maksudmu dengan keluarga kerajaan? Mereka ada di pihak kita."


"Ratu Gristian memiliki dua putra. Pangeran pertama yang telah menjadi raja saat ini, juga paman Rangga. Keduanya memiliki kemampuan yang hampir sama, hanya saja paman Rangga memiliki kemampuan di bidang bisnis. Pangeran pertama bersifat dingin dan kejam sedangkan paman Rangga bersifat hangat dan baik hati. Karena hal itulah yang membuat paman Rangga tidak menjadi pewaris tahta, di tambah paman Rangga lebih menyukai bidang bisnis." Jelas Agina panjang lebar.


Stiffen mengerutkan keningnya. "Lalu, apa hubungannya?"


"Yang aku dengar, raja yang sekarang memiliki dua anak. Satu laki - laki dan satu perempuan. Anak laki lakinya memiliki sifat yang buruk. Tidak sesuai untuk kepribadian menjadi raja." Agina mencoba memberi kode. "Berbeda dengan Agra. Keperawakannya yang dingin dan tegas, tentu cocok menjadi raja."


"Dari penjelasanmu, kenapa aku merasa kau menuduh pangeran." Stiffen tersenyum miring.

__ADS_1


"Itu hanya prediksiku saja." Agina menghendikkan bahunya. "Kita perlu menyelidikinya."


"Penjagaan istana sangat ketat. Mustahil bagi mata mata kita bisa menetobosnya."


"Kakakku Stiffen William. Kau lupa, aku memiliki hubungan yang baik dengan mereka." Ucap Agina angkuh.


"Kau akan menyelidikinya sendiri?"


"Aku akan melakukan apapun demi kebahagian Agra. Itulah janjiku pada paman Rangga." Stiffen menghela nafas. Saat kalimat itu keluar tidak ada membantahnya. Agina sudah terikat dengan Agra.


"Baiklah, sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." Stiffen berdiri dan melangkah menghampiri Agina. Di tariknya Agina dalam pelukannya. "Pikirkan juga kebahagianmu."


"Kebahagianku terletak pada kebahagian Agra." Ucap Agina tulus. Ia membalas pelukan orang yang selalu menemaninya.


Hening.


"Kak, sudah lima menit." Peringatan. Stiffen mendengus dan melepas pelukannya dengan kesal.


"Kenapa kau membuat peraturan tidak berakhlak itu sih."


Agina menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakaknya. "Kakak keluarlah. Aku masih banyak pekerjaan."


"Apa semua orang yang masuk ke ruanganmu selalu kau usir seperti ini."


"Sudahlah kak!" Mulai kesal. Agina mendorong Stiffen menuju pintu. Tapi pintu terbuka,


"Agina!" Agra terkejut melihat laki laki di ruangan Agina. Tapi melihat posisi Agina yang sedang mendorong laki laki itu, sepertinya kehadiran laki laki itu tidak di inginkan.


Agina melihat Agra yang sedang mencoba mengingat wajah kakaknya. Kuharap dia tidak mengenalinya.


Sedangkan Stiffen menatap dingin pada orang yang terikat dengan adik kesayangannya.


"Kakakku." Jawab Agina malas. Agra terkejut. Dilihatnya wajah yang menurutnya tidak mirip tapi punya satu kesamaan yaitu datar.


"Tidak mirip sama sekali." Ucap Agra menyilangkan tangannya. "Kekasihmu ya?"


"Dia kakak angkatku."


"Memang kenapa kalau aku hanya kakak angkat?" Stiffen menyilangkan tangannya. Kedua laki laki itu saling menatap tajam.


Kening Agina berkedut melihat keduanya. "Kak, kau pulanglah."


Stiffen menoleh ke Agina dengan cepat. "Kau lebih memilih dia dari padaku." Telunjuknya ke arah wajah Agra.


bibir Agina berkedut. Pakek akting segala lagi! benar benar. Agina menghembuskan nafasnya. "Kak," nadanya menekan.


Stiffen tersenyum. Ia elus kepala Agina dan berlalu pergi. Tinggallah Agra dan Agina.


Agina duduk kembali ke kursinya. Di ikuti Agra yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Ada apa lagi anda kemari?" Tanya Agina malas. Karena Agra sekarang sangat rajin datang ke ruangannya.


"Aku ingin mengajakmu makan siang." Jawab Agra.


"Maaf saya tidak bisa." Agina membuka laptopnya. Mulai mengetik di sana.


"Aku tidak mengajakmu, tapi ini perintah!" Tegasnya. Agina mendongak dengan wajah datar.


"Saya tidak menerima perintah!"


"Kau ingin aku pecat?" Ancamnya.


Agina tersenyum miring. "Pecat saja kalau anda bisa."


"Kenapa aku tidak bisa. Aku pemilik kantor ini."


"Tuan Agra sebelum anda mengancam orang, lebih baik anda cari tau dulu siapa orangnya."


Agra mengerutkan keningnya. Memang benar dirinya sangat penasaran terhadap Agina. Tapi tidak pernah menyelidikinya karena menurutnya itu hanya candaan untuk melindungi diri. Meskipun dirinya sendiri tidak yakin akan pemikirannya itu setelah melihat kemampuan Agina.


"Saya membawa bekal." Ujar Agina membuyarkan lamunan Agra.


"Kau membuat banyak?" Tiba tiba Agra jadi antusias. Agina menggelengkan kepalanya.


Agina mengambil bekalnya dan meletakkan di meja. Membukanya, isinya makanan rumahan. Agra menelan saliva melihat makanan yang menggiurkan.


"Saya akan membaginya dengan anda." Ucap Agina. Kotak bekal seperti rantang membuatnya membaginya dengan Agra.


Dengan tidak sabaran Agra melahabnya. Matanya membola merasakan makanan Agina yang sangat cocok dengan lidahnya.


"Kau yang memasaknya?" Tanya Agra. Agina diam saja.


"Hei, jawab pertanyaanku!"


"Tidak boleh bicara saat makan." Tegas Agina. Agina membungkam mulutnya. Kalimat Agina juga menjadi peraturan bagi keluarga Pratama.


Mereka makan dalam keheningan. Tapi Agra yang memang tidak bisa menjadi dingin seperti biasanya jika berhadapan dengan Agina. Mulai melakukan ulah dengan menyodorkan makanan ke mulut Agina.


Agina ingin protes. Tapi, "Ets, tidak boleh ngomong." Ucap Agra.


Dengan terpaksa Agina membuka mulutnya dan memakan makanan yang di sodorkan Agra.


Agra membuka mulutnya, menyuruhnya menyuap makanan balik. Dengan malas Agina melakukannya. Sampai makanannya habis. Mereka bahkan tidak menyadari menyuap dengan sendok yang sama.


......................


Lama gak uptade kebetulan lagi sibuk.


Oh ya sekalian mau minta doa dari kalian buat aku yang akan mengikuti lomba pidato pada malam senin.

__ADS_1


Doain aku ya semoga lancar pidatonya tidak ada yang lupa.


__ADS_2